About This Blog

Hello, welcome!

My name is C, and this is my blog.

You’ll find posts in English and Indonesian.

All works in this blog are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License, or otherwise stated. Pictures in posts are personal collection, unless captioned from other sources. Kindly respect the copyright of the pictures. Thanks!

-C

Living By Examples: Tentang Pendapat dan Teladan

Sore ini, saya menemukan kata-kata mutiara ini:

“The world is changed by your example, not by your opinion.”

-Paulo Coelho

Sebelumnya, seorang rekan kerja bertanya kepada saya, “Memangnya kamu nggak mau mengajar nantinya? Nggak sayang kerja di sini?”

True that, dengan gelar cukup tinggi yang saya miliki, banyak yang mengatakan semuanya sia-sia bila saya tidak menggunakannya untuk mengajar. Saya setuju bahwa dengan gelar yang saya miliki (dan dengan sendirinya ilmu yang saya dapatkan), sudah layak dan sepantasnya saya membagikan ilmu tersebut pada yang lain, salah satunya dengan mengajar. Tapi sungguh, saya tak merasa sayang bila tidak mengajar di ruang kelas formal. Saya juga tak merasa sayang bekerja di sini. 

I have opinions about almost everything. Saya selalu punya pendapat (yang terkadang menjadi prinsip) mengenai begitu banyak hal. Pendapat itu banyak saya tuliskan atau diskusikan dengan teman. Lucunya, ketika menemukan kata-kata mutiara dari Paulo Coelho itu, saya baru menyadari bahwa selama ini saya berpendapat dengan tindakan.

Ketika dibebaskan mau kuliah di mana, ambil jurusan apa, saya yang baru saja “berusia legal” dan diberi kebebasan untuk memilih sendiri, berpendapat bahwa saya tak harus kuliah di universitas negeri dan dekat dengan rumah. Saya hanya mengikuti ujian masuk di satu universitas swasta di Surabaya, mengambil jurusan juga hanya satu dengan cadangan yang menurut saya cukup dekat korelasinya dengan jurusan pertama. Saya berpendapat bahwa yang namanya belajar bisa di mana saja, dan bahwa kuliah di mana saja bermanfaat, bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. Saya membuktikan pendapat saya pada orangtua dengan lulus dalam waktu 3,5 tahun, berpredikat cum laude, dan menyandang gelar mahasiswa aktif berprestasi untuk fakultas saya.

Lalu saya berpendapat bahwa saya yang perempuan dan anak desa ini mampu lho sekolah tinggi di luar negeri. September 2008, saya berangkat ke Taiwan, pulang lima tahun kemudian dengan gelar doktor di tangan dan pengetahuan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Was it hard? Tentu saja. Pernahkah saya gagal? Berkali-kali. Tapi saya tidak akan bisa mengambil pelajaran dan meneruskan perjalanan jika saya tak membuat diri saya menjadi contoh untuk diri saya sekian tahun ke depan. Momen ini akan berbeda jika waktu itu saya menyerah.

Saya juga berpendapat bahwa dunia ini sudah terlalu banyak terkontaminasi polusi dan bahwa kita harus mengurangi konsumsi. Maka ketika seorang teman bertanya di sebuah bus Transjakarta, “Mbak Citra kenapa nggak milih naik motor aja?”, saya menjawab dengan senyum, “Nggak, aku berkontribusi mengurangi polusi dengan menggunakan kendaraan umum”. Mungkin lebih baik lagi kalau jalan kaki, sih ya. Lagi pula bukan satu alasan itu saja yang membuat saya memilih naik kendaraan umum.

Kembali ke persoalan mengenai apakah saya akan mengajar atau tidak. Beberapa tahun ke depan saya melihat diri saya berdiri di depan kelas, mengajar. Mendampingi anak-anak dan generasi muda mengembangkan kemampuan mereka. Thing is, dari orangtua saya di rumah, saya melihat bahwa menjadi guru itu benar-benar digugu dan ditiru. Didengarkan dan dicontoh. Ini bukan hanya tentang kompetensi semata, ini tentang penghayatan dan penanaman nilai. Mengantri tertib itu tak hanya bisa diajarkan. Integritas itu tak hanya bisa dibaca di teks. Menghargai perbedaan itu tak hanya bisa didengungkan tanpa dipraktikkan.

Saya berpendapat bahwa menjadi guru adalah sebuah tugas yang berat. Saya berpendapat bahwa hard science yang saya miliki barangkali sudah cukup, tapi tidak dengan nilai. Barangkali itu salah satu alasan mengapa hingga saat ini saya belum resmi melamar menjadi guru entah di mana. Ketika saya menjadi guru, sudahkah apa yang saya lakukan mencerminkan bagaimana guru berbuat? Apakah ketika saya menjadi guru dan ingin mencontohkan pada generasi muda bahwa Indonesia yang luar biasa ini perlu dicintai dengan sungguh-sungguh, saya bisa menunjukkan pada mereka bahwa juga mencintai Indonesia setengah mati? Apa yang akan terjadi ketika tugas berat mendampingi anak-anak dan generasi muda bangsa ini dilimpahkan pada saya yang belum memiliki cukup “ilmu”? Bagaimana saya bisa mendidik dan mengarahkan jika saya sendiri tidak melakukannya?

Di sini, saya belajar banyak. Saya menimba ilmu, saya menumpuk pengalaman, saya melebarkan pandang.

Maka saya menjawab mantap pada rekan kerja saya, “Mungkin baru tahun depan saya mempertimbangkan untuk mengajar penuh waktu”. Lalu saya menyeruput teh hangat yang baru saja saya seduh.

Love,

-C

Aku dan Kamu

Untuk: Kamu.

Aku tidak pernah percaya dengan kebetulan. Aku selalu percaya semuanya terjadi karena memang harus terjadi, dan dengan alasan, meski aku belum tentu tahu dan mengerti. Aku juga selalu percaya bahwa apapun bisa terjadi, bahkan yang sepertinya luar biasa dan tidak bisa dilogika.

Aku dibesarkan oleh seorang bijak, ayahku, dan seorang kanak-kanak, ibuku. Ayah mengajariku untuk melihat di balik kenyataan, mencerna dengan seksama, dan bagaimana mengerti dengan pengalaman. Ibu mengajariku untuk menapak tanah, mempertajam hati, dan mendengarkan intuisi. Dari segala sisi, ayah dan ibuku sangat berbeda. Tidak hanya beda generasi, tapi juga beda visi. Tapi di perbedaan itu aku tahu, mereka saling mengerti.

Aku terbiasa berpikir dengan logika, meski memutuskan dengan intuisi. Dua hal yang bertolak belakang. Dua hal yang selama ini aku pertanyakan dan belum pernah kudapatkan jawabannya. Tapi aku tidak terburu-buru untuk mencarinya. Aku hanya menjalani.

Bertemu dan berbincang denganmu pun aku tahu bukan kebetulan. Dan aku harus mengakui, ada sesuatu yang berubah dari diriku. Bukan, ini bukan pernyataan cinta. Aku memikirkanmu di banyak waktu, atau mungkin setiap waktu. Aku juga sering merindu, merindu ceritamu yang selalu membuatku bertanya dan mengadu.

“Ada di dunia ini yg merupakan teka-teki, ada yang merupakan misteri. Dan beda keduanya adalah ini: teka teki adalah rahasia yang jawabannya tetap dan pasti, tetapi misteri adalah rahasia yang jawabnya tak pernah kita tahu adakah ia tetap dan pasti. Sesuatu samar-samar menampakkan diri, tetapi kita tidak akan pernah bisa memegangnya. Misteri menjelmakan suasana kepedihan dan harapan. Dan suasana itu, anehnya, indah.”

-Bilangan Fu

Mungkin kita bertemu karena kamu akan membantuku mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa aku temukan jawabannya. Mungkin kita jiwa yang serupa, yang terlahir berbeda. Mungkin kita hanyalah dua garis yang bersinggungan di satu titik. Apapun itu, aku tidak mau bermain definisi, karena definisi akan membatasi.

Padamu, aku memilih pulang dan bersandar di bahu.

-Aku

Mereka Menunjukkan Pada Saya Satu Cinta

14230203321623340016

Memangnya seburuk apa sih kondisi sekolah di Indonesia? Sekolahan sekarang sudah bagus-bagus kan? Dana BOS kan sudah dialokasikan untuk semua sekolah.

Pertengahan Januari kemarin, berbekal celetukan (yang sepertinya iseng) dari seorang teman, saya menata baju dan keperluan lain dalam satu carrier bag 50 L dan sesekali merenung, membayangkan perjalanan saya selama 2 minggu setelahnya, menyusuri dua kabupaten di Sumatera Selatan: Musi Banyuasin dan Muara Enim.

Saya buta medan. Mendarat memang di Palembang, yang hawa-hawanya mirip Jakarta. Menuju jembatan Ampera yang terkenal, menuju dermaga di bawahnya.

“Kita naik sepit itu ke desa, mbak”, Dita berujar sambil menunjuk deretan speedboat yang berjajar di dermaga. Hari itu hujan tak henti mengguyur kota. Saya terdiam. Ini masuknya dari mana, saya membatin.

1423020595473360244

Sepit tak berpintu namun berjendela banyak inilah yang menjadi sarana transportasi saya menuju sebuah desa di Kabupaten Musi Banyuasin. Masuk dan keluarnya memang sedikit epic, bisa masuk dengan posisi wajar dari depan atau dari belakang, namun yang kebagian duduk di bagian tengah, boleh banget masuk dengan gaya tiarap melalui jendela, daripada kejeduk bangku di dalam yang sama sekali tidak memberikan ruang untuk ‘berjalan’. Dengan sepit ini saya menempuh perjalanan 4 jam ke desa tujuan saya, di tengah rinai hujan dan gelombang Sungai Musi yang cukup membuat saya takut mabuk laut. Berhenti cukup lama di PU (tempat istirahat dan mengisi bahan bakar), sembari memindahkan penumpang ke sepit lain karena sepit yang saya naiki overload (bayangkan perasaan saya waktu itu). Dan bayangkan leganya saya ketika sepit merapat dengan mulus ke dermaga tujuan.

Sepit ini hanyalah awal mula perjalanan saya. Perjalanan berkunjung ke beberapa sekolah, sekolah dasar, yang membekaskan ingatan begitu dalam. Foto paling atas barangkali terlihat normal. Sekolah dengan bangunan yang cukup bagus, anak-anak yang ceria. Apa yang diujarkan teman saya memang wajar, banyak bangunan sekolah yang sekarang sudah cukup memadai, pembangunan fisik yang bisa dilihat hasilnya. Tapi ada satu yang terlupa: akses.

Sekolah pertama harus dicapai dengan naik sepit. Sekolah kedua berjarak 3 jam naik motor melewati jalan tanah, tengah sawah, beberapa paving block, menembus areal primer (kompleks transmigran). Bisa dicapai dengan naik sepit lagi selama 1 jam menyusuri anak sungai memang. Kondisi geografis salah satu kecamatan di Musi Banyuasin ini memang unik, banyak anak sungai dengan kondisi jalan darat yang belum memadai membuat sarana transportasi air masih menjadi pilihan. Kalau hujan jalanan becek dan susah dilewati. Sekolah ketiga dicapai dengan sepit yang lebih kecil, perjalanan selama setengah jam. Tiga sekolah berikutnya sama. Katakan saya kenyang naik sepit dan mulai terbiasa dengan gaya naik turun yang epic. Pada akhirnya saya memang menikmatinya, di sela samar kekhawatiran ketika melihat kiri kanan hanya air dan hutan.

Di kabupaten berikutnya, Muara Enim, jalan darat menanti. Mulus? Jangan bertanya.

14230214771200316710

Sekolah-sekolah dasar yang saya tuju berada di sekitar area operasi Pertamina, bahkan jalannya disebut sebagai jalan Pertamina karena memang yang membuka akses di sana adalah Pertamina. Dan jangan bayangkan jalan mulus, jalan ini memang desainnya untuk jalan operasional truk dan mobil tipe 4WD. Sepeda motor pun seringkali harus menyerah, terutama di musim hujan. Kiri kanan adalah perkebunan karet atau kelapa sawit. Dari jalan yang normal (bukan beraspal), perjalanan masih harus dilanjutkan dengan 10-15 kilometer jalan Pertamina. Satu mobil yang kami tumpangi harus menyerah di awal karena bukan tipe mobil yang bisa digunakan untuk bermanuver di jalanan seperti ini. Mereka yang ahli naik sepeda motor pun harus pandai-pandai mencari celah supaya tidak terpeleset atau terjebak di lumpur liat. Ada lagi sekolah yang letaknya di puncak bukit yang berada di jajaran Bukit Barisan. Naik berkelok-kelok berjam-jam dengan banyak tanjakan dan turunan yang kiri kanannya jurang.

Saya banyak diam sepanjang perjalanan.

Saya tahu bahwa banyak anak-anak yang harus menempuh perjalanan berat ini untuk menuju sekolah mereka. Saya juga tahu guru-guru mengalami hal yang sama. Harus berangkat pagi demi mengejar jam masuk sekolah. Perjalanannya tentu bukan 10 menit, 20 menit, setidaknya satu jam berkendara menembus sepinya perkebunan dan beratnya jalan. Setiap hari. Dua kali, pulang pergi. Bagi para guru, perjalanan panjang mereka bisa menjadi dua tiga kali lipatnya ketika harus ke “kota” kecamatan atau kabupaten, dengan biaya yang juga berlipat.

Melihat masalah-masalah yang ada di depan mata, sangat normal jika saya jadi depresi.

Hanya saja, saya menemukan banyak cerita. Perjalanan dua minggu saya dijalin oleh benang merah yang sama: yang ada bukan masalah, melainkan tantangan; yang ada bukan kekhawatiran, melainkan harapan. Semua sekolah dasar yang saya tuju memang aksesnya sulit, dan saya menemukan dua kesamaan lain: guru-guru berdedikasi yang menghangatkan hati dan anak-anak yang semangatnya tak henti membuat saya tersenyum. Segala kesulitan itu adalah tantangan yang mereka hadapi dengan senyum dan kepercayaan. Mutiara memang tetap mutiara meski terbenam dalam lumpur. Saya tersenyum bangga mendengar cerita anak-anak dari “talang” (perkampungan kecil yang hanya terdiri dari 20-30 KK, berada di tengah kebun karet) dan sekolah pinggir sungai yang bisa berprestasi sampai ke tingkat nasional. Saya bahagia bertemu guru-guru, penggerak daerah, local champion, yang mau membaktikan diri untuk tetap bertahan karena yang namanya berjuang itu tak bisa hanya dengan ujar dan semboyan.

Mereka tak memilih untuk menjadi pesimistik. Saya pun ikut memilih untuk tetap bersemangat. Mereka menunjukkan pada saya satu cinta yang hangatnya menular cepat.

1423023241421252121

Di ujung perjalanan, saya menitikkan air mata bahagia.

XOXO,

-C

The Bedside

I was working and got stuck and I decide to write. Yes, that’s my definition of taking a break. Writing.

I was torn in between writing in English or Indonesian because strangely enough I want someone I know to read this and totally understand what I mean without getting lost in translation. Regarding that, I should write in Indonesia, but then, my mind is spitting English words so here it is.

???????????????????????????????

I took this picture last night. I’ve known long enough about what my idea of bedside is and it is that simple: a stack of books. I’ve always been a bookworm since ages, since I could remember. My father love to read, my mother doesn’t, and yes, Dad wins. Being all around him, seeing him reading Serat Jayabaya, Panjebar Semangat, and a lot of books about Soekarno made me an avid reader. I don’t know if that trait is an advantage, because when I looked at it closely, the need to reads all the time is one of the reason I am socially crippled (that’s how I call myself).

I find a lot of worlds in the books I read. I meet a lot of people, I travel with them, I make friends with them. I cry with them, as well. It is the solemn time I can have while reading that I adore. It is the adrenaline rush I experience that I crave. It is the idea of the world actually revolting around you but you don’t need anybody else. Just you.

As a proud and pronounced introvert, that is my happiness.

And wherever I go, wherever I live, either in a rented room or my own room at home, the bedside will stay the same.

XOXO,

-C

Lapor: Kami Akan Terus Bekerja

Tak adil rasanya bila tulisan ini tidak dibagi.

****************************************************************************

IMG_8445-002

Selama tiga hari pada 14-16 Desember ini, kami menerima puluhan para penggerak daerah dalam sebuah acara yang disebut Forum Kemajuan Pendidikan Daerah. Yang hadir adalah para pejuang pendidikan dalam berbagai peran, baik pejabat pemerintah daerah, guru, kepala sekolah, atau penggerak masyarakat lainnya. Forum ini bertujuan untuk saling mempertukarkan pengetahuan, keterampilan serta memperkuat jejaring di antara penggerak di 17 kabupaten penempatan Indonesia Mengajar.

Tentu saja diskusinya menarik. Namun yang jauh lebih membanggakan adalah bagaimana mereka terus bekerja selama ini dan bagaimana para Pengajar Muda akhirnya menemukan mereka. Mengapa menarik? Karena ternyata menemukan mereka tidaklah mudah.

Pasti jadi pertanyaan: apa sulitnya menemukan para pejuang pendidikan di daerah? Cari saja koran atau tanya-tanya ke humas pemda tentang siapa saja warga daerah yang menerima penghargaan sana dan sini. Sayangnya tetap saja sulit dan kalaupun ada jumlahnya sangat sedikit.

Praktis selama 4 tahun kami bekerja, sepanjang tahun setiap hari di daerah, kami terus dihantui pertanyaan: di manakah para pejuang bersembunyi? Sembunyi? Iya, karena kami yakin mereka sebenarnya banyak, yang dibuktikan bahwa gerak pendidikan terus berderap dan – lebih jauh lagi – republik ini terus berdiri. Pasti ada orang-orang yang membentuk taman bacaan sederhana tanpa papan nama yang membuat anak-anak belajar mencintai membaca. Pasti ada orang-orang yang berkeras hati tetap hadir di sekolah ketika hujan sehingga anak-anak selalu yakin akan ada guru yang hadir di sekolahnya esok hari. Pasti ada orang-orang yang meniupkan pesan pada setiap bayi yang lahir dan setiap anak-anak yang tumbuh bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia. Pasti.

Dan rahasianya ternyata sederhana: bahwa para pejuang itu rendah hati. Kami bertemu dan terus menyaksikan betapa rendah hatinya para pejuang itu sehingga memang tidak mudah menemukan hanya di koran, ruang sidang kabupaten atau perempatan jalan. Mereka tidak sibuk memamerkan diri atau menceritakan diri mereka lebih banyak dari seperlunya.

Lebih dalam berinteraksi dengan mereka membuka rahasia lebih jauh soal kerendahhatian ini. Ini bukan soal mereka memaksa diri untuk merendahkan suara atau menyederhanakan penampilan. Ini juga bukan soal mendapatkan inspirasi dari buku-buku pengembangan diri tentang pentingnya bersikap rendah hati. ternyata rahasianya sederhana: mereka selama ini sibuk bekerja.

Dan itulah yang kami saksikan selama 4 tahun terakhir kami bekerja di 127 titik di 17 kabupaten di seluruh Indonesia. Tuhan Maha Besar memang terus menjaga republik kita ini. Tetapi pula di tiap sudut, pengkolan, ujung, lembah, pantai, gang di penjuru negeri ini (ternyata) ada jutaan orang yang terus bekerja bagi kemajuan pendidikan serta kemajuan bersama. Merekalah yang menopang negeri ini, menjaga kaki-kaki kita semua dan merapatkannya terus menjadi kokoh dan kuat.

Tak ada cara lebih baik untuk menghormati mereka semua itu selain ikut bekerja bersama mereka.

Maka dengan ini kami melapor: memasuki tahun ke-5 gerakan ini, kami akan terus bekerja.

(disampaikan oleh direktur eksekutif Gerakan Indonesia Mengajar, Hikmat Hardono, pada audiensi pelepasan Pengajar Muda angkatan IX dengan Wakil Presiden RI dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Istana Wakil Presiden Republik Indonesia, 19 Desember 2014)

Tentang Sebuah Cerita Perubahan

Bapak saya pensiunan guru, Ibu masih bekerja sebagai guru. Budhe (kakak dari ayah) saya guru. Bulik (adik dari ayah) juga guru. Sepupu saya dari Budhe dan Bulik itu juga bekerja sebagai guru. Pendek kata, saya dikelilingi orang-orang yang memang bergelut di dunia pendidikan.

Barangkali itu salah satu alasan saya out of the blue bergabung dengan Indonesia Mengajar (sebagai program officer) sepulang menuntut ilmu di negeri seberang.

Ada satu masa di mana saya penasaran dengan konsep Indonesia Mengajar. Bagi saya tak ada yang istimewa dengan program mengirim guru ke daerah. Kenyataannya memang ada ketimpangan tinggi menyangkut jumlah guru di Indonesia, apalagi sekolah yang letaknya di luar Pulau Jawa, di ujung-ujung republik. Apa istimewanya mengirim guru? Apalagi yang dikirimkan adalah anak-anak muda modern, tak heran banyak yang bilang bahwa Indonesia Mengajar hanyalah program untuk ‘menyenangkan’ mereka. Semacam aksi heroisme tanpa keluaran yang jelas.

Out of curiosity, I joined the team.

(jangan bertanya saya sering ketemu Pak Anies atau tidak, ya :D)

Di Indonesia Mengajar, dikenal yang namanya Cerita Perubahan. Iya, perubahan, dan bukan keberhasilan atau prestasi. Pendekatan yang diambil Indonesia Mengajar adalah pendekatan berbasis outcome (capaian dambaan), dan bukan output(keluaran). Asal muasal pemakaian pendekatan ini tentu panjang, namun intinya sesuai dengan cita-cita Indonesia Mengajar, gerakan ini ingin mendorong perubahan perilaku, bukan sebanyak-banyak prestasi seperti menang lomba atau nilai sempurna.

Apakah ada anak didik di SD penempatan Pengajar Muda Indonesia Mengajar yang menonjol? Ya tentu ada. Misalnya Febri Kristian Yafet dan Minarti dari SDN 09 Nanga Lungu (Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat) yang lolos ke final Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) 2014.

Itu output, keluaran yang memang lebih banyak dilihat dan dijadikan patokan. Jika ditarik dari sini, outcome yang ingin dicapai adalah bagaimana bersemangatnya anak-anak didik untuk berprestasi, untuk menjadi percaya diri, bahwa keterbatasan yang ada di lingkungan mereka bukanlah halangan untuk menjadi berarti. Apakah keluarannya menjadi juara lomba atau “hanya” peningkatan performa di kelas, pengukurannya bukan lagi di sana. Jika ukurannya adalah menang lomba, saya di waktu SD juga akan masuk kategori tidak berhasil karena kalah melulu di berbagai lomba. Ada seorang anak mulanya malu-malu untuk datang ke sekolah, tidak aktif di kelas, kemudian berproses menjadi siswa yang rajin, percaya diri sehingga menonjol di kelas, bisa menjalin komunikasi yang baik dengan teman-temannya. Bukankah itu sebuah pencapaian luar biasa?

Karenanya Indonesia Mengajar mencatat setiap perubahan perilaku dalam Cerita Perubahan. Tak hanya dari siswa, karena senyatanya pendidikan adalah urusan banyak orang. Perubahan perilaku yang dikatalisasi dengan kehadiran Pengajar Muda ini dilihat dari berbagai pihak: guru, kepala sekolah, masyarakat, hingga ke dinas pendidikan. Begitulah. Instead of sending money or logistics, Indonesia Mengajar chooses to send people. Tinggal di pelosok, setahun, menyatu dengan masyarakat di sana, menjadi keluarga, menjadi bagian dari tempat tinggal mereka. Karena yang namanya perubahan perilaku tidak bisa dihasilkan dari pelatihan, tidak bisa didapat dengan seminar dan ceramah.

Ini bukan tentang aksi heroisme anak-anak muda itu saja, ini mengenai keyakinan dan optimisme bersama, bahwa dengan perubahan perilaku, kita bisa bersama menghadapi masalah-masalah pendidikan di Indonesia. Ini juga mengenai menemukan aktor lokal, mereka yang ada di daerah, yang dengan segala keterbatasan, menolak untuk menyerah. Tentang Cerita Perubahan yang beragam:Rahmadanti yang menaklukkan ketidakmungkinan, Ibu Nutfah sang guru sukarela yang mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk pendidikan, pemerintah kabupatenyang meluangkan sehari untuk berbagi.

Ini tentang berjalan bersama. Kita bisa berjalan cepat sendirian, namun untuk berjalan jauh kita harus berjalan bersama.

Di titik pemahaman ini, saya menghela napas. It is true.

Apakah keberhasilan pendidikan ada di tangan satu pihak? Dinas pendidikan dengan kebijakan, guru dan kepala sekolah dengan implementasi metode pengajaran, orang tua dengan dukungan pada pendidikan anak, atau semangat anak-anak didik dalam belajar? Tanpa studi berbelit, apa yang saya lihat di keluarga saya memberikan jawaban: pendidikan adalah urusan semua. Tanpa orang tua dan keluarga yang mengerti arti penting pendidikan, tanpa guru yang selalu sabar menghadapi saya, tanpa kebijakan dinas pendidikan mengenai peningkatan prestasi; bisa jadi saya tidak akan berada di titik yang sama.

Pendidikan adalah urusan bersama. Karenanya,

Indonesia Mengajar tidak berpretensi menyelesaikan semua masalah pendidikan di negeri ini.

Karena kita, saya, Anda, harus jadi bagian dari solusi.

Dan dengan program luar biasa ini, tak salah bila banyak orang memiliki harapan yang besar pada menteri pendidikan dan kebudayaan yang baru. Saya, tak luput juga. But now I understand, saya pun tak boleh berpangku tangan dan menunjuk pihak lain ketika menghadapi masalah di dunia pendidikan. Menjadi bagian dari solusi.

XOXO,

-C

Kredit foto: Indonesia Mengajar

Sebelum Ngambil IELTS…

Untuk kepentingan akademis atau profesi, kita seringkali diminta untuk menunjukkan sertifikat kemampuan berbahasa. Untuk bahasa Inggris, dua metode tes yang dipakai adalah TOEFL dan IELTS. Kita mungkin lebih familiar dengan TOEFL, karena metode ini dikembangkan di Amerika dan paling dulu diperkenalkan. Meski begitu, untuk menanggapi perbedaan yang antara American English dan British English, British Council mengembangkan IELTS.

Saya beberapa kali mengambil tes TOEFL dari beberapa institusi bahasa di Indonesia, dan satu kali resmi dari ETS, meski bukan TOEFL-nya, melainkan TOEFL-ITP. Apa bedanya? Silakan merujuk kesini. Skor yang saya dapatkan bervariasi, mulai dari 503 sampai 563, semuanya paper-based. Tidak terlalu tinggi. Ketika saya berencana melanjutkan studi ke luar negeri 3 tahun lalu, saya memutuskan untuk mengambil IELTS, di satu sisi karena saya ingin mencoba sesuatu yang baru, di sisi lain karena salah satu negara tujuan saya waktu itu adalah Australia.

Karena skor (di IELTS disebut dengan band score) mininum yang disyaratkan adalah 6.5 dengan skor mininum 6.0 di Writing section, saya memutuskan untuk mengikuti kelas persiapan IELTS supaya USD 185 saya tidak terbuang sia-sia (jika saya harus mengulang). Band score IELTS berkisar antara 0 (did not attempt the test) dan 9 (expert user). Saya mengambil kelas 2 minggu intensif (20 jam), khusus untuk mempersiapkan tesnya saja. IELTS orientation namanya. Kelas ini dibuka untuk mereka yang berniat untuk “mengakrabkan diri” dengan metode uji IELTS, dan bukan secara umum meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Bagi orang yang terbiasa dengan TOEFL paper-based, IELTS dengan metodenya yang berbeda akan terasa ‘mengejutkan’. Pertama, IELTS memiliki Listening dan Writing section. Kedua, IELTS tidak menganut prinsip pilihan ganda. Jawabannya harus dituliskan dengan lengkap di lembar jawaban, dengan ejaan yang benar. Meskipun kita bermaksud menjawab dengan benar namun ejaannya salah, jawaban tersebut akan dianggap salah. Ngeri? Iya.

Nah, IELTS sendiri dibagi menjadi dua kategori: General Training (untuk tujuan profesional) dan Academic (untuk persyaratan akademis). Keduanya meliputi empat tes: Reading, Listening, Writing, dan Speaking. Listening dan Speaking tesnya sama untuk General Training dan Academic, sementara Reading dan Writingnya bervariasi.

Reading

Berikut adalah contoh lembar jawaban untuk tes IELTS:

ielts-12

Jadi seperti saya tuliskan sebelumnya, jawabannya harus DITULIS dengan benar. Model bacaannya bisa jadi tidak begitu berbeda dengan tes TOEFL, namun pertanyaan yang diberikan tidak sekedar 5W dan 1H, melainkan seperti contoh berikut:

ielts12

Susah? Iya. Tips: bacalah dengan seksama, jangan cuma paragraf teratas dan paling bawah. Sebelum mengambil tes IELTS, saya dilatih scanning, kecepatan dan ketepatan membaca. Bacaan-bacaan di IELTS cukup panjang, dan tipe pertanyaannya bermcam-macam, sehingga mau tidak mau kita harus “menyelami” bacaannya.

Nah, tipe pertanyaan yang juga mungkin muncul adalah isian seperti di bawah ini.

ielts22

Kalau yang ini memang lebih mudah dibanding dengan yang pertama karena kita tinggal menemukan kata yang cocok dan kemudian menuliskannya dengan BENAR.

Detailnya bisa dilihat disini.

Listening

Ini tes IELTS yang menurut saya paling susah. Subjektif memang, tapi ada beberapa faktor yang menurut saya bisa juga membuat Anda menganggapnya yang paling susah. Pertama, pembicara dalam tes ini akan berbicara dengan aksen British atau Australian. Iya sih seksi (menurut saya), tapi ya begitu, kadang-kadangpronounciationnya tidak sejelas aksen Amerika. Jadi, dengarkan baik-baik. Kedua, model pembicaraannya ada beberapa jenis, ada percakapan singkat, ada juga model kuliah yang agak panjang. Jadi selama mendengarkan, tuliskan sekaligus jawabannya di kertas soal, baru kemudian pindahkan ke lembar jawaban. Yang artinya: kita harus membaca dengan cepat pertanyaan-pertanyaannya sehingga selama rekamannya diputar, kita tidak bingung antara konsentrasi mendengarkan dan menjawab. Salah satu model pertanyaannya seperti berikut:

ielts-3

Pertanyaannya bisa juga berupa pilihan ganda, melengkapi kalimat, atau menentukan topik. Di kelas IELTS orientation, kita akan diberikan modul soal untuk masing-masing section yang saking banyaknya bisa membuat perut mual.

Writing

Setelah Listening dan Reading section, tes IELTS berikutnya adalah Writing. Secara umum, Writing section dalam IELTS dibagi menjadi dua: deskripsi dan opini.

  • Deskripsi

Di soal pertama ini kita diminta untuk menjelaskan/mendeskripsikan suatu tabel/grafik/gambar. Berikut contohnya:

ielts-51

Tips: mulailah dengan kalimat yang menjelaskan grafik tersebut mengenai apa. Dalam kasus ini misalnya: The graph shows global water use by sector during the last a century; while the table depicts water consumption in Brazil and Congo in the year 2000.

Karena di soal ini kita HANYA diminta untuk menjelaskan/mendeskripsikan grafik, maka tuliskanlah informasi apa saya yang bisa kita dapatkan dari grafik tersebut, jangan menambah dengan alasan, opini, atau pemikiran pribadi mengapa data yang disajikan bisa seperti yang diberikan. Examiner yang mengoreksi jawaban kita akan mengurangi nilai jika kita menambahkan sesuatu yang tidak perlu. Cukup tuliskan apakah ada kenaikan, penurunan, atau perbandingan antar grafik. Misalnya,the graph tells us that the largest water consumption is for agricultural use for the last a hundred years. It keeps raising as the year goes by, while water for industrial and domestic use generally minimum until in 1950s, when the uses steadily increase with time.

Hindari menyebutkan mengapa sektor agrikultur membutuhkan lebih banyak konsumsi air dibanding dengan yang lain. Jika kita berkesempatan mengikuti IELTS orientation, kita akan diajarkan untuk menggunakan adverbs (kata keterangan) untuk mendeskripsikan tingkat perubahan suatu data, misalnya dramatically, slowly, sharply, sehingga kita bisa menulis dengan lebih akurat dan sekaligus tidak monoton. Dan perhatikan mengenai penggunaan negative adverb, banyak yang sering ‘kepleset’ di sini. Sesuai dengan namanya, negative adverb mengindikasikan bahwa adverb tersebut pada dasarnya sudah bersifat negatif, sehingga tidak perlu ditambahkan dengan negative indication lain seperti ‘not’. Misalnya, the increase in water consumption of industrial and domestic use are not barely different till 1940s, seharusnya the increase in water consumption of industrial and domestic use are barely different till 1940s (karena barely sendiri sudah bersifat negatif).

Tips ketiga, gunakanlah kata yang berbeda untuk mendeskripsikan perubahan yang sama. Kalimat water consumption for agriculture purpose keeps rising for the past a century, while industrial and domestic use of water only show a steep increase after 1950s akan menunjukkan kemampuan kita menulis dalam bahasa Inggris dan penguasaan pada kosa kata bahasa Inggris yang lebih baik dibandingkan dengan the consumption on agriculture rises over the years, and the domestic use also rises.

  • Opini

Jika di soal pertama kita diminta untuk mendeskripsikan sesuatu, di bagian kedua kita justru diharapkan untuk memberikan opini. Meski begitu, ketika kita tidak diarahkan untuk menunjukkan seberapa kita setuju atau tidak setuju terhadap sesuatu, maka sebaiknya kita menulis dengan berimbang, menjelaskan mengenai satu sisi, dan kemudian meng-cover sisi yang lain. Jika kita diarahkan untuk lebih setuju ke satu sisi, tulislah demikian. Jadi, bacalah direction yang tertulis dengan seksama.

Soal di bawah adalah contoh dimana kita diminta untuk menulis secara berimbang.

ielts-4

Tulislah dahulu mengenai topik atau big picture mengenai apa yang akan kita jabarkan. Setelah itu mulailah menjelaskan mengapa ada orang yang terlalu nyaman berada di kehidupan yang monoton, dan juga sebaliknya, mengapa ada orang yang selalu mencari perubahan. Misalnya:

An anonymous quote say, the only certain thing in this world is uncertainty. It is true that the world keeps changing, technologies stays developing, problems faced by people also in some extent are different from time to time. In accordance to those changes, people may give different responses. There are those who consider changes as somewhat painful, forcedly drive people to get out their comfort zone……. (dan selanjutnya).

Satu tips saja: menggunakan ‘fancy vocabulary’ itu sah-sah saja, asalkan kita benar-benar mengerti penggunaannya. Jika kita ingin mendapatkan band scoretinggi dengan menyelipkan ‘fancy vocabulary’ di sana sini tanpa mengerti maksudnya, percuma.

Dan selalu perhatikan berapa jumlah kata yang diminta.

Speaking

Jadi setelah ketiga tes di atas, selanjutnya kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris akan dites oleh seorang licensed examiner (LE). LE ini adalah orang yang memang khusus memiliki sertifikasi untuk menilai kemampuan kita, sehingga objektifitas dan kompetensi mereka solid, jangan khawatir. Mereka juga ramah dan berusaha membuat kita rileks selama tes berlangsung.

Speaking tes dilakukan selama kira-kira 10 menit dan direkam. Tes ini dibagi menjadi tiga: general topic, long turn, dan discussion. Hal-hal yang dinilai adalah:pronounciation, vocabulary, fluency, and sentence structure.

Tips saya singkat saja: pastikan apa yang ditanyakan terjawab (jangan berlebih) dan hindari menggunakan fancy vocab jika tidak terlalu mengerti bagaimana menggunakannya. Di bagian pertama biasanya kita ditanya mengenai personal information seperti nama, umur, makanan favorit, dan sebagainya. Boleh berimprovisasi, tapi pastikan pertanyaannya sudah terjawab. Jadi misalnya ditanya apa warna favorit kita, jawablah dulu, baru berimprovisasi; dan bukan bertele-tele membicarakan warna ini dan itu sebelum menjawab.

Di bagian kedua dan ketiga, boleh berimprovisasi secara luas, karena memang kita diminta begitu. Topik pembicaraan untuk long turn akan diberikan di secarik kertas, jadi kita tidak mengetahui topik tersebut sebelumnya. Jangan khawatir, kita akan diberikan waktu sekitar 1 menit untuk mempersiapkan apa yang ingin kita sampaikan mengenai topik tersebut. Beropini atau bersikap netral tidak masalah.Just say what you want to say. Biasanya LE hanya akan bertanya sedikit-sedikit, atau bahkan tidak bertanya. Jadi lebih pada speech satu arah.

Bagian ketiga adalah free discussion. Topiknya terserah kepada LE, dan kita bisa “bercakap-cakap” dengan LE selama 4 menit. Jangan berbicara terlalu banyak sehingga LE tidak memiliki kesempatan untuk “ngomong balik”, tapi juga jangan terlalu banyak berhenti di tengah jalan untuk mencari ide berbicara.

Di dua bagian terakhir, usahakan menggunakan kata-kata yang benar-benar kita mengerti penggunannya. Penggunaan fancy vocab pada konteks yang salah justru akan mengurangi score kita.

Nah…setelah selesai tes, band score kita akan diumumkan tiga minggu kemudian (mungkin ada yang berbeda). Band score IELTS adalah antara 0-9. Tabel perbandingan band score IELTS dengan tes-tes lain bisa dilihat disini:

picture6

Untuk yang akan mengambil IELTS, good luck yaaaa,

-C

Sumber soal:
http://www.ielts-exam.net/IELTS-Writing-Samples/IELTS_Sample_Writing_Academic_Task_1_1.pdf
http://www.ielts-exam.net/IELTS-Writing-Samples/IELTS_Sample_Writing_Academic_Task_2_2.pdf
ielts.org