About This Blog

Posted on Updated on

Hello, welcome!

My name is Citraningrum, and this is my blog. You can find more about me in the “About Her” page.

You’ll find posts in English and Indonesian. I write about books, foods, my travelogue, also a stint of what I know related to my academic background: chemical engineering and environmental-related problems.

All works in this blog are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License, or otherwise stated. Pictures in posts are personal collection, unless captioned from other sources. Kindly respect the copyright of the pictures. Thanks!

-C

My Life As “A Researcher”

Posted on Updated on

This essay is an old post and was selected as #SpecialMention for #MyLifeAs Competition by PlotPoint. Ditulis kembali dengan sedikit perubahan editorial.

Kenapa ada tanda kutip disana? Karena saya masih doctoral student yang melakukan riset, alias belum jadi researcher beneran. Kenapa juga saya tidak menulis “as a doctoral student”, karena nanti ceritanya bakal kemana-mana termasuk sesi jalan-jalan dan makan-makan dan menjadi seratus halaman. Hehe.

Oke. Sebagai mahasiswa doktoral, kegiatan utama sama memang riset. Riset di sini mulai dari membaca materi (ratusan paper yang abstraknya saja sudah membuat eneg), merencanakan dan melakukan eksperimen, berdiskusi dengan adviser dan kolega, memublikasikan hasil riset, lalu lulus (bila sudah direlakan lulus oleh adviser). Di sela-sela semua hal itu, tentu saja ada waktunya saya menangis sesenggukan tidak jelas karena mumet menyelesaikan persamaan yang tidak selesai-selesai, atau tertawa ngakak karena salah membuat larutan sewaktu eksperimen.

Oh ya, saya kuliah di jurusan teknik kimia, FYI. Topik penelitian saya: wastewater treatment. Tidak usah dibahas panjang, ntar pada males baca. Hihi.

Karena harus melakukan eksperimen, saya harus “tinggal” di lab. Lab saya ini memiliki 3 ruangan: kantor (office), ruang instrumen (isinya alat-alat mahal yang memakainya mesti ekstra hati-hati), dan lab sebenarnya (bingung kan). Lab sebenarnya adalah ruangan yang memang digunakan untuk eksperimen saja, tidak untuk menulis laporan, tidak untuk makan, tidak untuk main petak umpet. Setiap hari (itu termasuk Sabtu dan Minggu), saya ke lab. Membaca paper atau menulis laporan di office, mengerjakan eksperimen di lab sebenarnya, dan ya begitulah, hidup saya aslinya hanya mbulet di dua tempat: kamar (dorm) dan lab.

Pagi datang (jam 10), membuat kopi (oh yeah, kita punya coffee maker, kulkas, dan microwave), membaca paper sebentar atau mereview eksperimen kemarin, lalu mengerjakan eksperimen. Sepatu dan celana panjang wajib hukumnya, karena banyak bersentuhan dengan bahan kimia, jangan sampai kena kulit (I work with dangerous chemicals! Stay away!). Kalau summer, sungguh sangat dilematis soal baju. Paling enak menggunakan short pants, tapi tetap harus pake celana panjang supaya aman. Masker juga penting, apalagi kalau bermain dengan asam-asaman. Iya sih senyawa seperti ester ada yang baunya seperti buah-buahan, tapi bahan kimia yang saya gunakan baunya seperti ikan busuk. Hueh. Saluran pernapasan perlu dilindungi, man! Safety first, no matter what! (kok jadi kayak iklan kondom). Kacamata segede gambreng (aka safety goggles) juga perlu, kalau berurusan dengan senyawa yang cepat menguap dan membahayakan mata, atau bekerja dengan kemungkinan ada cipratan. Sarung tangan juga harus dipakai, tapi hanya di lab sebenarnya, di kantor, sarung tangan harus dilepas. Dan beginilah penampilan Citraningrum, PhD Candidate saat memakai full armour. Yosh! Cantik kan? Kan? Kan?

image

Yang namanya eksperimen, pastilah memakan waktu. Mesti sabar, teliti, dan kreatif. Mesti bertahan tidur di lab jika eksperimen belum selesai. Tidur di meja, kepala nunduk, dan bangun pegal-pegal semua. Mesti rela nambah minus karena harus banyak membaca paper yang tulisannya bukan Arial dengan ukuran 12. Sering pulang di atas jam 12 malam. Nggak apa-apa, yang penting jaga kesehatan dan tetap optimis untuk menyelesaikan studi dan beneran jadi researcher (jeng jeng! Perlu intro musik yang membangkitkan semangat nih!).

Nggak eksperimen pun (sekarang saya hanya sesekali eksperimen, kalau perlu), harus tetap datang ke lab dan menganalisa hasil eksperimen tadi. Lebih susah menganalisanya. Harus bisa menjelaskan kenapa hasilnya bisa begini, kok hasilnya bukan begitu, mana data pendukung dari paper sebelumnya, dan sebagainya dan sebagainya. Kalau sudah stuck di tengah malam biasanya saya keluyuran ke kampus sebelah, mencari udara segar. Taipei aman sih, jadi mau pergi dini hari sendiri juga saya cuek-cuek bebek. Balik ke lab, ya kerja lagi dong. Laporan harus diberikan mingguan ke adviser minimal seminggu sekali (padahal belum tentu ada data baru *huiks). Laporan tidak melulu data, melainkan juga apa maksudnya. Kalau tidak ada data baru, isi paper yang dibaca yang dilaporkan. Dan jangan sampai hanya satu atau dua paper. Minimal lima deh.

Kalau ditanya berat atau tidak, ya berat lah. Apalagi dengan gender saya yang wanita. Bukan apa-apa, selama ini bidang science/technology/math/engineering itu masih belum sepenuhnya gender-neutral. Di lab, mahasiswa doktoral yang cewek hanya dua (dari lima sih), tapi cewek yang satunya pun ber-background chemistry (bukan chemical engineering) dan masih gres (baru masuk satu semester), jadi kalau ada apa-apa, pasti saya yang dijadikan rujukan para junior atau kalau ada kesalahan, saya yang dimarahi adviser. Dan perlu waktu lama bagi saya untuk meyakinkan kolega-kolega cowok (sesama mahasiswa doktoral) bahwa saya memang mampu. Baru setelah tiga tahun kolega saya mengatakan “you are indeed smart”. Doeng. Tiga tahun, man.

Tapi memang menjadi mahasiswa doktoral itu membuat saya senang. Passion saya ada dua: riset dan menulis. Menjadi mahasiswa doktoral itu menggabungkan keduanya, karena saya harus riset dan juga harus menuliskan hasilnya. Tapi adviser saya sering mengatakan tulisan saya terlalu “colloquial”, alias kurang konservatif ketika menyampaikan laporan (hasil keseringan ngeblog, kayaknya). Mesti nulis paper lebih sering nih (yuuukk!).

Jadi begitulah, kegiatan harian saya yang seems boring dan monoton untuk bisa menghilangkan kata ‘candidate’. Semoga cepat selesai risetnya dan menjadi Citraningrum, PhD ya. Doakan. Mohon dukungannya. Dikirimi makanan juga saya nggak nolak kok. Haish.

Sekian dan sampai jumpa di kesempatan curhat berikutnya. Daaaaa.

Rainwater Harvesting: A Brief Intro

Posted on Updated on

Rainwater harvesting (picture from http://www.harvestingrainwater.com)

Ada yang mengenal Professor Mooyoung Han dari Seoul National University? Mungkin tidak. Professor Han adalah seorang ahli di bidang rainwater harvesting, bagaimana ‘memanen’ air hujan dan menggunakannya. Saya beberapa kali bertemu dengan beliau, dua kali saat beliau datang ke Taiwan untuk memberikan kuliah singkat, dan sekali di Tokyo saat konferensi.

Rainwater harvesting (RWH) adalah proses menampung air hujan dan air ini digunakan kembali untuk berbagai kepentingan, misalnya keperluan irigasi (taman dan kawasan hijau), mencuci, bilasan toilet, atau bisa juga untuk diminum (setelah diproses sehingga kualitasnya memenuhi standar air minum). RWH biasanya diterapkan di area yang curah hujannya lebih dari 200 mm per tahun, dan Indonesia termasuk di antaranya. Pada dasarnya banyak penduduk Indonesia yang menerapkan RWH secara tradisional, meletakkan ember atau bak penampungan di bawah atap untuk menampung air hujan dan kemudian menggunakannya untuk menyiram tanaman (seperti yang dulu sering dilakukan ibu saya untuk menghemat air).

Selain untuk menghemat air dan menjadi solusi untuk daerah yang kekurangan air dari sumber air tanah (sumur) atau air permukaan (sungai), RWH kini sudah banyak diterapkan di kota-kota besar untuk mencegah banjir. Dengan semakin meningkatnya populasi penduduk kota dan saluran pembuangan air (sewer) yang biasanya ‘peninggalan’ dari (sekian puluh) tahun sebelumnya, banyak kota besar yang menghadapi ancaman banjir (termasuk ibukota Indonesia kita tercinta, Jakarta). Dengan mensyaratkan bangunan publik (milik pemerintah) dan bangunan swasta berkapasitas besar untuk memiliki RWH catchment tank, biro cuaca bisa menginformasikan ke pihak manajemen bangunan-bangunan tersebut untuk mengosongkan tangki sehingga dapat menampung air hujan ketika hujan besar datang. Dengan cara ini, volume air hujan yang mengalir ke saluran pembuangan air dapat dikurangi secara signifikan dan tidak menyebabkan luapan air di jalan. Di lain kesempatan, air hujan yang ditampung ini kemudian bisa digunakan untuk menyirami tanaman atau untuk toilet flushing. Di Seoul, Professor Han menjadi supervisor untuk Star City Project, kompleks bangunan yang digunakan sebagai percontohan untuk aplikasi RWH. Di Star City, tiga tangki berkapasitas masing-masing 1.000 m3digunakan untuk menampung air hujan. Kesuksesan proyek ini mendorong pemerintah Seoul untuk membuat aturan bahwa bangunan pemerintah harus memiliki sistem RWH. Beberapa bangunan milik swasta juga disarankan untuk memiliki sistem RWH, dengan biaya parsial dari pemerintah kota.

Professor Han dan beberapa muridnya di tahun 2007 datang ke Indonesia (Aceh) untuk menginisasi pilot plant RWH di perumahan penduduk. Catchment area-nya adalah atap rumah, air hujan disalurkan ke tangki penampungan dengan menggunakan pipa (plastik). Filter atau penyaring adalah komponen penting yang harus ada untuk memastikan air hujan bersih dari kotoran-kotoran ‘besar’. Air hujan ini kemudian ditampung di tangki yang terbuat dari PVC tarpaulin (terpal) berkapasitas 1.000 L yang didesain di Korea. Mengapa bahannya terpal? Dengan bahan yang fleksibel dan murah (dibandingkan dengan beton atau stainless steel), biaya untuk pengadaan tangki ini bisa ditekan. Selain itu bila tidak digunakan, tangki berbahan terpal ini bisa disimpan sehingga tidak memakan tempat. Air hujan ini kemudian bisa digunakan untuk mandi dan mencuci.

Untuk bisa digunakan sebagai air minum (potable water) memang diperlukan analisa lebih lanjut dan sterilisasi. Pengamatan secara visual, misalnya turbidity (jernih atau tidak) tidak cukup dijadikan dasar untuk menilai bahwa air tersebut layak minum. Standar air minum kebanyakan mensyaratkan air yang digunakan harus memilikiturbidity di bawah 1 NTU (nephelometric turbidity unit), bahkan banyak yang memiliki standar 0,1 NTU. Dan percayalah, dengan mata biasa, tingkat kekeruhan 1-10 NTU itu tidak terlihat jelas bedanya (sehingga harus diukur). Keasaman air hujan pun memiliki banyak variasi, misalnya air hujan di Taiwan memiliki pH di bawah 5 (sehingga tidak bisa langsung digunakan untuk air minum). Jika pun turbidity dan pH-nya memenuhi standar, air hujan banyak membawa partikel-partikel kecil tidak kasat mata dan logam-logam yang mungkin terbawa dari atap atau dari sumber lain di udara. Belum lagi jika ada ‘dust storm’ atau kebakaran hutan, kandungan partikel dan logam dalam air hujan bisa meningkat drastis. ‘Menghilangkan’ partikel dan logam-logam tersebut tidak cukup hanya dengan filter atau penyaring biasa dan sterilisasi. Karena alasan tersebut,full-scale RWH system di universitas saya (untuk bangunan 12 lantai) tidak digunakan untuk air minum, melainkan hanya untuk toilet flushing.

Umumnya komponen yang diperlukan untuk sistem RWH adalah catchment area(gunakan atap rumah saja), saluran/pipa (dari atap rumah ke penampungan), filter, tangki penampungan, dan pompa (jika tangki berada di bawah tanah). Filter yang digunakan bisa dari yang sederhana seperti sand filter sampai ke filter RO (reverse osmosis) jika airnya ingin digunakan sebagai air minum. Pompanya bisa manual (pompa tangan) atau ke pompa otomatis yang biasa kita gunakan untuk sumur. Volume tangki penampungan bisa disesuaikan dengan jumlah air yang diperlukan atau ketersediaan tempat. Tangki berbahan terpal seperti yang didesain Professor Han harganya ‘hanya’ sekitar Rp 500.000. Bak plastik berpenutup yang murah meriah pun juga bisa digunakan.

Yah, kalau dihitung-hitung dengan biaya air PDAM yang dibawah Rp 1.000/m3 mungkin memang tidak berarti (untuk kita yang berada di daerah dengan kelimpahan air), tapi yang namanya menghemat tidak ada batasan kan? Sudah begitu untuk skala besar di kota-kota, sistem RWH ini bisa digunakan juga untuk mencegah banjir dan menghemat biaya operasional untuk menyiram tanaman atau toilet flushing.

XOXO,

Dr. Citra

Kita Telah Mencuri Masa Depan

Posted on

 

Dr. Jane Goodall Meets Taiwan Tech Again, Taipei, Taiwan, 2012
Dr. Jane Goodall Meets Taiwan Tech Again, Taipei, Taiwan, 2012

There is an ancient Indian proverb says we do not inherit the Earth from our ancestors, we borrow it from our children.

We haven’t borrowed the Earth, we have stolen it from our children.

Itu yang dikatakan Dr. Jane Goodall, DBE. Dr. Goodall adalah peneliti terdepan mengenai simpanse, hasil dari studinya selama lebih dari 45 tahun di Tanzania. Tidak hanya mengenai simpanse, concern Dr. Goodall juga meluas pada perlindungan habitat hewan liar, konservasi alam, dan tindakan preventif untuk pemeliharaan lingkungan.

Di awal ceritanya, Dr. Goodall mengenang memori masa kecilnya di Inggris, di mana beliau masih menemukan banyak keanekaragaman hewani dan hayati yang pelan-pelan terkikis habis oleh aktivitas manusia. “I often saw butterflies flying around, but now, there are none”. Beliau menyebutkan bahan-bahan kimia yang digunakan dalam pestisida menimbulkan banyak efek negatif untuk lingkungan: mematikan hewan-hewan yang bukan hama, membawa limbah pestisida ke sungai dan membunuh sekian banyak spesies lain di sana, lalu akhirnya, bisa juga dikonsumsi manusia.

Saya ingat, dua puluh tahun lalu, tempat saya belajar berenang adalah sungai yang letaknya tidak jauh dari rumah. Pelampungnya ya gedebok pisang. Sungai yang tidak terlalu besar itu airnya bersih sekali, dengan arus yang sedang dan kedalaman yang lumayan. Ketika saya beranjak dewasa, sungai itu menjadi kotor, dangkal, dan penuh busa sabun. Tidak ada lagi anak-anak yang bermain di pinggiran sungai, apalagi berenang. I have lost the river.

Karena jumlah populasi yang terus meningkat, dan dengan demikian juga aktivitasnya, bumi memang semakin lama semakin ‘tidak ramah’. Polusi, sampah, hingga semakin berkurangnya jumlah spesies yang hidup di bumi menjadi masalah yang harus kita hadapi dan selesaikan. Karena itulah Dr. Goodall kemudian menginisiasi sebuah gerakan yang diberi nama Roots and Shoots (akar dan tunas). Akar tumbuh perlahan dalam tanah, menjadi pondasi. Tunas yang muncul kemudian mencari sinar matahari, tumbuh ke atas, dan mampu menembus dinding. Akar dan tunas adalah metafor yang dipilih Dr. Goodall karena makna filosofinya yang dalam: pohon, sebesar apapun, sekuat apapun, berawal dari biji kecil yang tidak menyerah untuk bertumbuh.

Roots and Shoots kini sudah menyebar ke segala penjuru dunia, menjaring orang-orang muda sebagai agen perubahan dan memfasilitasi mereka dengan prinsip yang sederhana pula: do it according to your passion. Alih-alih membuat gerakan yang terfokus pada satu aspek, mereka yang tergabung dalam Roots and Shoots dapat membuat program sendiri sesuai kondisi lingkungan di sekitar mereka dan sesuai dengan gairah mereka. Membersihkan sungai, menanam pohon, mengedukasi anak-anak, atau mengadopsi hewan peliharaan dan bukan membeli. Pendekatan yang dimiliki Roots and Shoots adalah pendekatan holistik, bahwa setiap orang bisa berkontribusi untuk menyelamatkan lingkungan, tidak peduli seberapa sederhana. Membuang sampah pada tempatnya, mengingatkan orang lain untuk membuang sampah pada tempatnya, menghemat kantong plastik, membuat taman sederhana.

“Some people think the problem is too big so they don’t do anything. But we know that human brain is very amusing and amazing. We have landed men on the moon. We have shot a robot on Mars. And from the Mars landing we have learned that Mars is not a suitable planet for us to migrate if we destroy this one. So we better get hand in hand and save our only home”.

I couldn’t agree more. Bumi adalah satu-satunya planet hingga saat ini yang benar-benar kita yakini dapat dihuni oleh manusia. This is our only home. Dan siapa orang yang dengan sadar menghancurkan rumahnya sendiri?

Lepas dari pidatonya yang menggugah, satu hal yang menggelitik saya: apakah harus memerlukan orang asing untuk menyelamatkan spesies yang terancam punah? Dr. Goodall bekerja di Tanzania. Kita juga punya orangutan yang terancam punah karena dianggap hama. Siapa yang bekerja untuk menyelamatkan mereka? Ibu Birute dan Willie Smits.

XOXO,

Dr. Citra

Sampah: Apa yang Bisa Dicontoh Jakarta dari Taipei?

Posted on Updated on

Seorang petugas sampah di Taipei memisahkan tulang dari tumpukan sampah makanan (photo via Allianz)
Seorang petugas sampah di Taipei memisahkan tulang dari tumpukan sampah makanan (photo via Allianz)

Sampah adalah persoalan mendasar yang dialami setiap kota. Jumlah penduduk bertambah, jumlah kegiatan bertambah, infrastruktur tidak, lalu sampah menumpuk. Populasi Jakarta (kota, bukan metro) adalah sekitar 10 juta, dengan jumlah sampah yang dihasilkan sekitar 6.000 ton per hari. Sampah sejumlah ini kebanyakan diarahkan ke landfill, karena (sepanjang pengetahuan saya) Jakarta belum memiliki fasilitas pembakaran sampah dengan kapasitas besar untuk menangani masalah sampah.

Apa yang bisa dipelajari Jakarta dari Taipei?

Taipei berusaha mengurangi penggunaan landfill untuk mengolah sampah. Landfill membutuhkan area yang besar, sistem pengolahan yang efisien untuk membuat sampah terurai, dan tidak menghasilkan energi. Incineration, atau proses pembakaran, adalah metode yang dipilih pemerintah kota Taipei untuk mengatasi sampah. Dengan incineration, sampah dalam volume besar bisa dikurangi volumenya karena dibakar, dan hasil pembakarannya bisa digunakan sebagai sumber energi, untuk dipakai sendiri atau dijual ke perusahaan listrik.

Incineration memang bukan tanpa efek negatif. Selain membutuhkan biaya pendirian dan operasional yang besar, incineration plant juga harus menjamin bahwa gas yang dihasilkan dari proses pembakaran tidak mengandung senyawa berbahaya. Di era 1980an, pemerintah kota Taipei mempunyai masalah yang sama dengan Jakarta: jumlah sampah yang menumpuk dan tempat pembuangan yang tidak lagi memadai. Untuk mengatasi hal ini, incineration adalah program yang dipilih. Bukan tanpa alasan, meski memiliki efek negatif, pemerintah kota perlu segera menyelesaikan persoalan sampah ini, apalagi dengan kenaikan jumlah penduduk dan kegiatan industri.

Pembangunan incineration plant ini membantu Taipei mengolah sampah. Saat ini Taipei memiliki 3 incineration plant dengan kapasitas 900, 1.500, dan 1.800 ton/hari.Incineration plant yang dimiliki Taipei merupakan waste-to-energy incineration plant, yang didesain untuk ‘menangkap’ panas yang dihasilkan dari pembakaran dan menggunakan panas tersebut sebagai sumber energi. Incineration plant ini dibuka untuk umum, lengkap dengan tur yang didesain untuk membuat masyarakat awam mengerti mengenai pengolahan sampah dan bagaimana menguranginya. Cerobong asap di salah satu incineration plant bahkan dibuat menjadi restoran berputar, untuk menarik minat masyarakat. Di incineration plant lainnya, cerobong asapnya dicat dengan gambar jerapah besar yang membuat anak-anak tertarik untuk tahu.

Meski incineration ini efektif untuk mengolah sampah, penduduk Taipei (dan Taiwan pada umumnya) mendesak pemerintah untuk menerapkan sistem pengurangan dan daur ulang (reducing and recycling). Nah lho, malah penduduknya sendiri yang punya inisiatif. Karena desakan penduduk inilah, Taiwan kemudian menerapkan zero waste policy di tahun 2003. Zero waste policy ini meliputi beberapa ‘anjuran’ (aturan sih sebenarnya): membatasi berat karton pembungkus (untuk komputer, televisi, dan lain-lain), membatasi penggunaan tempat makan minum sekali pakai di sekolah-sekolah dan kantor pemerintahan, mengajurkan supermarket untuk mengurangi kemasan plastik untuk yang tidak perlu (misal sayuran), menghimbau pemilik restoran untuk tidak menawarkan sumpit sekali pakai pada pengunjung, ‘memaksa’ pemilik restoran, kafe,convenience store untuk memberikan diskon pada pembeli yang membeli minuman dengan tempat minum mereka sendiri dan bukan gelas kertas. Beli kopi di Starbucks dengan tumbler sendiri mendapat diskon NTD 10 (IDR 3.500).

Di Taipei sendiri, pemerintah kota sudah mulai menerapkan ‘bayar sesuai yang dibuang’ (pay as you throw) dengan membuat kebijakan waste-charging. Penduduk Taipei harus membeli kantong sampah dari pemerintah, yang tidak menggunakan kantong sampah khusus ini sampahnya tidak akan diangkut petugas kebersihan. Dan TIDAK ADA tempat pembuangan sampah komunal di Taipei; yang ada adalah truk sampah yang berkeliling beberapa kali sehari pada jam-jam tertentu dan saat itulah penduduk membuang sampahnya. Harga kantong sampahnya bervariasi, semakin besar semakin mahal, dengan tujuan untuk membuat penduduk Taipei sadar untuk mengurangi sampah. Kantong plastik terkecil (3 liter) harganya NTD 27 (sekitar IDR 9.000). Ih, kantong (iya kantong plastik daur ulang) yang dipakai untuk sampah aja bayar coba. Paksaan yang bagus bukan? Makin nyampah, makin mahal bayarnya. Selain itu pemisahan sampah juga dilakukan di rumah. Tidak memisahkan sampah? Ya siap-siap didenda.

Perkembangan ekonomi biasanya juga disertai dengan meningkatnya jumlah sampah. Namun Taiwan punya contoh yang berbeda. Sepanjang tahun 2000-2010, jumlah sampah yang dihasilkan Taiwan turun dari 8,7 juta ton menjadi 7,95 juta ton, meski dalam jangka waktu yang sama GDP mereka naik 47%. Hmmm, bisa dicontoh tidak? :)

Taipei memang miskin tempat sampah, tadi itu tidak menjadikannya kota yang kotor.

 

XOXO,

Dr. Citra

Ines, Nama Baru di Dunia Komik

Posted on Updated on

DSC00493-001

Jika saya menyebut nama Dee Lestari, Ayu Utami, Fira Basuki, Okky Madasari, apa kesamaan di antara mereka? Benar, mereka semua adalah penulis novel, yang semuanya wanita. Faktanya memang di Indonesia banyak wanita yang berkiprah di dunia penulisan dan sastra, yang membuat ragam sastra Indonesia makin kaya, bersanding dengan nama-nama legendaris seperti Seno Gumira Ajidharma atau Joko Pinurbo.

Tapi bagaimana dengan media penulisan lain? Komik, to be precise? Adakah penulis komik wanita?

Lho, emangnya ada penulis komik?

Pertanyaan bagus. Komik adalah cerita bergambar, dan seringkali identik dengan artisnya, dengan perupa yang mengerjakan penuangan visualnya. Padahal komik mengandung cerita, plot, makna, yang semuanya berawal dari penulisan cerita. Tak ada cerita, tak ada yang bisa divisualisasikan. Istilah penulis komik kemudian sepertinya tak populer karena banyak komikus yang kerjanya memang dobel: menulis cerita dan menggambar. Orang tahunya Fujiko F. Fujio, yang sebenarnya adalah dua orang, sebagai komikus Doraemon, yang menggambar Doraemon. Siapa yang menulis ceritanya? Hiroshi Fujimoto atau Motoo Abiko?

Kenyataannya, memang ada yang namanya penulis komik. Mereka yang menulis cerita untuk komik, yang kemudian divisualisasikan oleh si artis. Tak semua artis komik memiliki kemampuan dan kemauan untuk membangun cerita, begitu pun sebaliknya, ada penulis yang memang menyukai media komik namun tak disertai dengan teknik untuk menerjemahkannya dalam gambar.

Ines dan NusantaRanger

Saya punya seorang teman. Keinesasih Hapsari Puteri, nama lengkapnya. Namanya memang membuat lidah sering kesrimpet (itu menurutnya sendiri), dan dia sering disapa Ines. Saya pertama kali bertemu dengannya sekitar tahun 2010 (maaf kalau lupa ya, Nes). Dikenalkan teman lain, lalu lebih sering berinteraksi lewat Twitter. Ketika akhirnya saya mampir bekerja di Jakarta, kami sesekali bertemu.

Akhir tahun 2013, dari akun Twitter-nya juga saya “kenal” dengan NusantaRanger. Dari namanya yang mengandung kata ranger, barangkali yang terbersit pertama di benak adalah Power Ranger. Benar, NusantaRanger adalah lima superhero yang “asli” Indonesia. Rangga, Naya, Rimba, Renata, dan George adalah lima pemuda berkekuatan super yang menjaga dunia (Marcapada) dari sosok jahat Kelana. Ceritanya Indonesia banget, percaya deh. Pertama kali membacanya, saya langsung kesengsem.

Ines adalah penulis ceritanya (dan artis komiknya Sweta Kartika). Ketika saya bertanya padanya mengapa ia mau bergabung dalam proyek yang diinisiasi oleh Shani Budi Pandita dan Tamalia Arundhina ini, Ines menjawab dengan senyum simpul, “Kalau komik Jepang bisa memasukkan unsur budaya kentalnya dalam komik-komik mereka tanpa membuatnya overly ethnic, kenapa kita tidak?” Selain misi utama pembuatan NusantaRanger untuk menyajikan cerita kepahlawanan yang berjiwa nusantara, Ines memiliki kerinduan membaca komik lokal yang tak cuma kuat di cerita, melainkan juga berunsur budaya. Para komikus Jepang luwes sekali memasukkan unsur budaya mereka seperti berdoa di kuil, hanami (kebiasaan melihat bunga sakura), juga budaya sesederhana mengantri di stasiun kereta. Ines berkeinginan menuliskan cerita yang demikian adanya, mengangkat nilai Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, keragamannya, bahwa Indonesia tak hanya memakai batik. Bahwa komik itu tak identik dengan Jepang, bahwa komik dengan nafas Indonesia sekaya NusantaRanger bisa hadir.

Di tangannya, cerita kepahlawanan yang tak berat hadir dengan sentuhan Indonesia yang pekat. Mulai dari universe (dunia) yang didesain menyesuaikan dengan lini masa dunia senyatanya, hingga pemilihan warna untuk para ranger. Kelana, sosok jahat yang ingin menguasai Marcapada, diceritakan memicu ledakan supervolcano Toba ketika hendak disegel oleh para ranger. Pertempuran sengit berikutnya terjadi di Tambora, Kelana tersegel untuk kedua kalinya, namun letusan Tambora saat itu memicu penurunan suhu secara global. Rangga, sang Nusa-Red, memiliki ruh elang Jawa, binatang endemik yang memang menonjol dari Pulau Jawa. Mengapa merah? Ines berkata, “Karena Pulau Jawa memiliki banyak gunung berapi yang aktif, maka merah adalah warna yang sesuai untuknya”.

Saya tercengang. Setiap elemen dalam NusantaRanger didesain sarat dengan elemen Indonesia namun tak lantas membuatnya eneg untuk dibaca. Ines menceritakan resepnya: masukkan elemen Indonesia ketika ceritanya sudah ada. Menurutnya, jika dipaksakan untuk “harus ada yang Indonesia banget” baru kemudian dibuat ceritanya, kisahnya bisa jadi tak mengalir. Ines juga memilih untuk memasukkan sesuatu yang Indonesia banget sesederhana hebohnya orang Indonesia untuk berkerumun ketika ada rame-rame satu tempat.

Wow.

Ines dan Dunia Penulisan Komik

Ines memang baru memulai kiprahnya sebagai penulis komik. NusantaRanger adalah komik pertama yang ditulisnya, yang alirannya sangat manga; kemudian komik keduanya, God Complex (yang akan dirilis worldwide!), memiliki format Amerika Serikat. Baginya, dunia penulisan komik ini menantang dan menyenangkan.

Gaya dan teknik menulis komik tentu saja berbeda dengan menulis novel yang sarat kata dan prosa. Formatnya yang gambar dan memiliki panel membuat penulis komik harus fleksible, pandai menyesuaikan diri. Ines menjabarkan pada saya tentang tipe penulisan komik yang prosa banget seperti Stan Lee (Marvel), juga tipe strip yang dituliskan untuk ilustrasi per panel atau per halaman. “Kalau sama Sweta (Sweta Kartika, artis NusantaRanger), naskahnya justru harus dibuat dalam poin-poin, karena dia lebih suka kebebasan menggambar”, tuturnya.

Ines mengasah keterampilannya secara otodidak. Banyak membaca komik, banyak membaca mengenai penulisan komik, juga banyak berinteraksi dengan artis komik untuk mendalami gaya mereka menggambar. Dalam menyusun cerita, lagi-lagi Ines juga banyak membaca untuk menemukan referensi yang pas. Cerita yang menarik dan dapat dipercaya sehingga pembaca bisa menarik hubungan dekat dengan karakter yang ada di komik tersebut tak lahir dalam waktu singkat, tak juga proses yang mudah. Meski begitu, dari intonasi berbicara dan matanya yang berbinar-binar saat bercerita, saya tahu Ines sangat menikmati prosesnya.

Tak berhenti hanya sampai di hobi (membaca kemudian menulis komik), Ines memang berniat untuk menjadi penulis komik penuh waktu, dan ke depannya, menjadi editor penerbitan komik. Tahun lalu, Ines memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan menekuni dunia penulisan komik. Tantangan yang dihadapinya memang banyak, mulai dari profesi penulis komik yang belum dihargai optimal, referensi yang terbatas, hingga belum adanya standar industri komik di Indonesia. Ines berkeinginan dunia komik Indonesia bisa berkembang, tak hanya tidak dianaktirikan atau disalahartikan sebagai konsumsi anak-anak semata, juga bagaimana mengangkat nilai-nilai Indonesia yang kaya dalam media yang tak melulu tulisan dan sekilas pengetahuan.

Di antara Christiawan Lie dengan Return to Labyrinth (yang terkenal juga karena menjadi ilustrator untuk komik Transformer dan G.I. Joe), Ardian Syaf dengan The Dresden Files 11 (bekerja di DC Comics Amerika Serikat, dia suka menyelipkan Indonesia di ilustrasinya, seperti warung soto ayam di komik Batman), Faza Meonk dan Si Juki, Adimas Bayu dan Masdimboy, hingga Sweta Kartika dengan Maharaja Moksa dan Grey & Jingga; kini dunia komik Indonesia (and inextension, dunia!) disegarkan dengan si cantik Ines dan ceritanya yang mengundang untuk dibaca.

Sebagai fans berat NusantaRanger, saya tentu menunggu karya-karya Ines selanjutnya.

XOXO,

-C

Living By Examples: Tentang Pendapat dan Teladan

Posted on Updated on

Sore ini, saya menemukan kata-kata mutiara ini:

“The world is changed by your example, not by your opinion.”

-Paulo Coelho

Sebelumnya, seorang rekan kerja bertanya kepada saya, “Memangnya kamu nggak mau mengajar nantinya? Nggak sayang kerja di sini?”

True that, dengan gelar cukup tinggi yang saya miliki, banyak yang mengatakan semuanya sia-sia bila saya tidak menggunakannya untuk mengajar. Saya setuju bahwa dengan gelar yang saya miliki (dan dengan sendirinya ilmu yang saya dapatkan), sudah layak dan sepantasnya saya membagikan ilmu tersebut pada yang lain, salah satunya dengan mengajar. Tapi sungguh, saya tak merasa sayang bila tidak mengajar di ruang kelas formal. Saya juga tak merasa sayang bekerja di sini. 

I have opinions about almost everything. Saya selalu punya pendapat (yang terkadang menjadi prinsip) mengenai begitu banyak hal. Pendapat itu banyak saya tuliskan atau diskusikan dengan teman. Lucunya, ketika menemukan kata-kata mutiara dari Paulo Coelho itu, saya baru menyadari bahwa selama ini saya berpendapat dengan tindakan.

Ketika dibebaskan mau kuliah di mana, ambil jurusan apa, saya yang baru saja “berusia legal” dan diberi kebebasan untuk memilih sendiri, berpendapat bahwa saya tak harus kuliah di universitas negeri dan dekat dengan rumah. Saya hanya mengikuti ujian masuk di satu universitas swasta di Surabaya, mengambil jurusan juga hanya satu dengan cadangan yang menurut saya cukup dekat korelasinya dengan jurusan pertama. Saya berpendapat bahwa yang namanya belajar bisa di mana saja, dan bahwa kuliah di mana saja bermanfaat, bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. Saya membuktikan pendapat saya pada orangtua dengan lulus dalam waktu 3,5 tahun, berpredikat cum laude, dan menyandang gelar mahasiswa aktif berprestasi untuk fakultas saya.

Lalu saya berpendapat bahwa saya yang perempuan dan anak desa ini mampu lho sekolah tinggi di luar negeri. September 2008, saya berangkat ke Taiwan, pulang lima tahun kemudian dengan gelar doktor di tangan dan pengetahuan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Was it hard? Tentu saja. Pernahkah saya gagal? Berkali-kali. Tapi saya tidak akan bisa mengambil pelajaran dan meneruskan perjalanan jika saya tak membuat diri saya menjadi contoh untuk diri saya sekian tahun ke depan. Momen ini akan berbeda jika waktu itu saya menyerah.

Saya juga berpendapat bahwa dunia ini sudah terlalu banyak terkontaminasi polusi dan bahwa kita harus mengurangi konsumsi. Maka ketika seorang teman bertanya di sebuah bus Transjakarta, “Mbak Citra kenapa nggak milih naik motor aja?”, saya menjawab dengan senyum, “Nggak, aku berkontribusi mengurangi polusi dengan menggunakan kendaraan umum”. Mungkin lebih baik lagi kalau jalan kaki, sih ya. Lagi pula bukan satu alasan itu saja yang membuat saya memilih naik kendaraan umum.

Kembali ke persoalan mengenai apakah saya akan mengajar atau tidak. Beberapa tahun ke depan saya melihat diri saya berdiri di depan kelas, mengajar. Mendampingi anak-anak dan generasi muda mengembangkan kemampuan mereka. Thing is, dari orangtua saya di rumah, saya melihat bahwa menjadi guru itu benar-benar digugu dan ditiru. Didengarkan dan dicontoh. Ini bukan hanya tentang kompetensi semata, ini tentang penghayatan dan penanaman nilai. Mengantri tertib itu tak hanya bisa diajarkan. Integritas itu tak hanya bisa dibaca di teks. Menghargai perbedaan itu tak hanya bisa didengungkan tanpa dipraktikkan.

Saya berpendapat bahwa menjadi guru adalah sebuah tugas yang berat. Saya berpendapat bahwa hard science yang saya miliki barangkali sudah cukup, tapi tidak dengan nilai. Barangkali itu salah satu alasan mengapa hingga saat ini saya belum resmi melamar menjadi guru entah di mana. Ketika saya menjadi guru, sudahkah apa yang saya lakukan mencerminkan bagaimana guru berbuat? Apakah ketika saya menjadi guru dan ingin mencontohkan pada generasi muda bahwa Indonesia yang luar biasa ini perlu dicintai dengan sungguh-sungguh, saya bisa menunjukkan pada mereka bahwa juga mencintai Indonesia setengah mati? Apa yang akan terjadi ketika tugas berat mendampingi anak-anak dan generasi muda bangsa ini dilimpahkan pada saya yang belum memiliki cukup “ilmu”? Bagaimana saya bisa mendidik dan mengarahkan jika saya sendiri tidak melakukannya?

Di sini, saya belajar banyak. Saya menimba ilmu, saya menumpuk pengalaman, saya melebarkan pandang.

Maka saya menjawab mantap pada rekan kerja saya, “Mungkin baru tahun depan saya mempertimbangkan untuk mengajar penuh waktu”. Lalu saya menyeruput teh hangat yang baru saja saya seduh.

Love,

-C

Aku dan Kamu

Posted on Updated on

Untuk: Kamu.

Aku tidak pernah percaya dengan kebetulan. Aku selalu percaya semuanya terjadi karena memang harus terjadi, dan dengan alasan, meski aku belum tentu tahu dan mengerti. Aku juga selalu percaya bahwa apapun bisa terjadi, bahkan yang sepertinya luar biasa dan tidak bisa dilogika.

Aku dibesarkan oleh seorang bijak, ayahku, dan seorang kanak-kanak, ibuku. Ayah mengajariku untuk melihat di balik kenyataan, mencerna dengan seksama, dan bagaimana mengerti dengan pengalaman. Ibu mengajariku untuk menapak tanah, mempertajam hati, dan mendengarkan intuisi. Dari segala sisi, ayah dan ibuku sangat berbeda. Tidak hanya beda generasi, tapi juga beda visi. Tapi di perbedaan itu aku tahu, mereka saling mengerti.

Aku terbiasa berpikir dengan logika, meski memutuskan dengan intuisi. Dua hal yang bertolak belakang. Dua hal yang selama ini aku pertanyakan dan belum pernah kudapatkan jawabannya. Tapi aku tidak terburu-buru untuk mencarinya. Aku hanya menjalani.

Bertemu dan berbincang denganmu pun aku tahu bukan kebetulan. Dan aku harus mengakui, ada sesuatu yang berubah dari diriku. Bukan, ini bukan pernyataan cinta. Aku memikirkanmu di banyak waktu, atau mungkin setiap waktu. Aku juga sering merindu, merindu ceritamu yang selalu membuatku bertanya dan mengadu.

“Ada di dunia ini yg merupakan teka-teki, ada yang merupakan misteri. Dan beda keduanya adalah ini: teka teki adalah rahasia yang jawabannya tetap dan pasti, tetapi misteri adalah rahasia yang jawabnya tak pernah kita tahu adakah ia tetap dan pasti. Sesuatu samar-samar menampakkan diri, tetapi kita tidak akan pernah bisa memegangnya. Misteri menjelmakan suasana kepedihan dan harapan. Dan suasana itu, anehnya, indah.”

-Bilangan Fu

Mungkin kita bertemu karena kamu akan membantuku mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa aku temukan jawabannya. Mungkin kita jiwa yang serupa, yang terlahir berbeda. Mungkin kita hanyalah dua garis yang bersinggungan di satu titik. Apapun itu, aku tidak mau bermain definisi, karena definisi akan membatasi.

Padamu, aku memilih pulang dan bersandar di bahu.

-Aku