Mereka Menunjukkan Pada Saya Satu Cinta

14230203321623340016

Memangnya seburuk apa sih kondisi sekolah di Indonesia? Sekolahan sekarang sudah bagus-bagus kan? Dana BOS kan sudah dialokasikan untuk semua sekolah.

Pertengahan Januari kemarin, berbekal celetukan (yang sepertinya iseng) dari seorang teman, saya menata baju dan keperluan lain dalam satu carrier bag 50 L dan sesekali merenung, membayangkan perjalanan saya selama 2 minggu setelahnya, menyusuri dua kabupaten di Sumatera Selatan: Musi Banyuasin dan Muara Enim.

Saya buta medan. Mendarat memang di Palembang, yang hawa-hawanya mirip Jakarta. Menuju jembatan Ampera yang terkenal, menuju dermaga di bawahnya.

“Kita naik sepit itu ke desa, mbak”, Dita berujar sambil menunjuk deretan speedboat yang berjajar di dermaga. Hari itu hujan tak henti mengguyur kota. Saya terdiam. Ini masuknya dari mana, saya membatin.

1423020595473360244

Sepit tak berpintu namun berjendela banyak inilah yang menjadi sarana transportasi saya menuju sebuah desa di Kabupaten Musi Banyuasin. Masuk dan keluarnya memang sedikit epic, bisa masuk dengan posisi wajar dari depan atau dari belakang, namun yang kebagian duduk di bagian tengah, boleh banget masuk dengan gaya tiarap melalui jendela, daripada kejeduk bangku di dalam yang sama sekali tidak memberikan ruang untuk ‘berjalan’. Dengansepit ini saya menempuh perjalanan 4 jam ke desa tujuan saya, di tengah rinai hujan dan gelombang Sungai Musi yang cukup membuat saya takut mabuk laut. Berhenti cukup lama di PU (tempat istirahat dan mengisi bahan bakar), sembari memindahkan penumpang ke sepit lain karena sepit yang saya naiki overload (bayangkan perasaan saya waktu itu). Dan bayangkan leganya saya ketika sepit merapat dengan mulus ke dermaga tujuan.

Sepit ini hanyalah awal mula perjalanan saya. Perjalanan berkunjung ke beberapa sekolah, sekolah dasar, yang membekaskan ingatan begitu dalam. Foto paling atas barangkali terlihat normal. Sekolah dengan bangunan yang cukup bagus, anak-anak yang ceria. Apa yang diujarkan teman saya memang wajar, banyak bangunan sekolah yang sekarang sudah cukup memadai, pembangunan fisik yang bisa dilihat hasilnya. Tapi ada satu yang terlupa: akses.

Sekolah pertama harus dicapai dengan naik sepit. Sekolah kedua berjarak 3 jam naik motor melewati jalan tanah, tengah sawah, beberapa paving block, menembus areal primer (kompleks transmigran). Bisa dicapai dengan naiksepit lagi selama 1 jam menyusuri anak sungai memang. Kondisi geografis salah satu kecamatan di Musi Banyuasin ini memang unik, banyak anak sungai dengan kondisi jalan darat yang belum memadai membuat sarana transportasi air masih menjadi pilihan. Kalau hujan jalanan becek dan susah dilewati. Sekolah ketiga dicapai dengan sepit yang lebih kecil, perjalanan selama setengah jam. Tiga sekolah berikutnya sama. Katakan saya kenyang naik sepit dan mulai terbiasa dengan gaya naik turun yang epic. Pada akhirnya saya memang menikmatinya, di sela samar kekhawatiran ketika melihat kiri kanan hanya air dan hutan.

Di kabupaten berikutnya, Muara Enim, jalan darat menanti. Mulus? Jangan bertanya.

14230214771200316710

Sekolah-sekolah dasar yang saya tuju berada di sekitar area operasi Pertamina, bahkan jalannya disebut sebagai jalan Pertamina karena memang yang membuka akses di sana adalah Pertamina. Dan jangan bayangkan jalan mulus, jalan ini memang desainnya untuk jalan operasional truk dan mobil tipe 4WD. Sepeda motor pun seringkali harus menyerah, terutama di musim hujan. Kiri kanan adalah perkebunan karet atau kelapa sawit. Dari jalan yang normal (bukan beraspal), perjalanan masih harus dilanjutkan dengan 10-15 kilometer jalan Pertamina. Satu mobil yang kami tumpangi harus menyerah di awal karena bukan tipe mobil yang bisa digunakan untuk bermanuver di jalanan seperti ini. Mereka yang ahli naik sepeda motor pun harus pandai-pandai mencari celah supaya tidak terpeleset atau terjebak di lumpur liat. Ada lagi sekolah yang letaknya di puncak bukit yang berada di jajaran Bukit Barisan. Naik berkelok-kelok berjam-jam dengan banyak tanjakan dan turunan yang kiri kanannya jurang.

Saya banyak diam sepanjang perjalanan.

Saya tahu bahwa banyak anak-anak yang harus menempuh perjalanan berat ini untuk menuju sekolah mereka. Saya juga tahu guru-guru mengalami hal yang sama. Harus berangkat pagi demi mengejar jam masuk sekolah. Perjalanannya tentu bukan 10 menit, 20 menit, setidaknya satu jam berkendara menembus sepinya perkebunan dan beratnya jalan. Setiap hari. Dua kali, pulang pergi. Bagi para guru, perjalanan panjang mereka bisa menjadi dua tiga kali lipatnya ketika harus ke “kota” kecamatan atau kabupaten, dengan biaya yang juga berlipat.

Melihat masalah-masalah yang ada di depan mata, sangat normal jika saya jadi depresi.

Hanya saja, saya menemukan banyak cerita. Perjalanan dua minggu saya dijalin oleh benang merah yang sama: yang ada bukan masalah, melainkan tantangan; yang ada bukan kekhawatiran, melainkan harapan. Semua sekolah dasar yang saya tuju memang aksesnya sulit, dan saya menemukan dua kesamaan lain: guru-guru berdedikasi yang menghangatkan hati dan anak-anak yang semangatnya tak henti membuat saya tersenyum. Segala kesulitan itu adalah tantangan yang mereka hadapi dengan senyum dan kepercayaan. Mutiara memang tetap mutiara meski terbenam dalam lumpur. Saya tersenyum bangga mendengar cerita anak-anak dari “talang” (perkampungan kecil yang hanya terdiri dari 20-30 KK, berada di tengah kebun karet) dan sekolah pinggir sungai yang bisa berprestasi sampai ke tingkat nasional. Saya bahagia bertemu guru-guru, penggerak daerah, local champion, yang mau membaktikan diri untuk tetap bertahan karena yang namanya berjuang itu tak bisa hanya dengan ujar dan semboyan.

Mereka tak memilih untuk menjadi pesimistik. Saya pun ikut memilih untuk tetap bersemangat. Mereka menunjukkan pada saya satu cinta yang hangatnya menular cepat.

1423023241421252121

Di ujung perjalanan, saya menitikkan air mata bahagia.

XOXO,

-C

The Bedside

I was working and got stuck and I decide to write. Yes, that’s my definition of taking a break. Writing.

I was torn in between writing in English or Indonesian because strangely enough I want someone I know to read this and totally understand what I mean without getting lost in translation. Regarding that, I should write in Indonesia, but then, my mind is spitting English words so here it is.

???????????????????????????????

I took this picture last night. I’ve known long enough about what my idea of bedside is and it is that simple: a stack of books. I’ve always been a bookworm since ages, since I could remember. My father love to read, my mother doesn’t, and yes, Dad wins. Being all around him, seeing him reading Serat Jayabaya, Panjebar Semangat, and a lot of books about Soekarno made me an avid reader. I don’t know if that trait is an advantage, because when I looked at it closely, the need to reads all the time is one of the reason I am socially crippled (that’s how I call myself).

I find a lot of worlds in the books I read. I meet a lot of people, I travel with them, I make friends with them. I cry with them, as well. It is the solemn time I can have while reading that I adore. It is the adrenaline rush I experience that I crave. It is the idea of the world actually revolting around you but you don’t need anybody else. Just you.

As a proud and pronounced introvert, that is my happiness.

And wherever I go, wherever I live, either in a rented room or my own room at home, the bedside will stay the same.

XOXO,

-C

Lapor: Kami Akan Terus Bekerja

Tak adil rasanya bila tulisan ini tidak dibagi.

****************************************************************************

IMG_8445-002

Selama tiga hari pada 14-16 Desember ini, kami menerima puluhan para penggerak daerah dalam sebuah acara yang disebut Forum Kemajuan Pendidikan Daerah. Yang hadir adalah para pejuang pendidikan dalam berbagai peran, baik pejabat pemerintah daerah, guru, kepala sekolah, atau penggerak masyarakat lainnya. Forum ini bertujuan untuk saling mempertukarkan pengetahuan, keterampilan serta memperkuat jejaring di antara penggerak di 17 kabupaten penempatan Indonesia Mengajar.

Tentu saja diskusinya menarik. Namun yang jauh lebih membanggakan adalah bagaimana mereka terus bekerja selama ini dan bagaimana para Pengajar Muda akhirnya menemukan mereka. Mengapa menarik? Karena ternyata menemukan mereka tidaklah mudah.

Pasti jadi pertanyaan: apa sulitnya menemukan para pejuang pendidikan di daerah? Cari saja koran atau tanya-tanya ke humas pemda tentang siapa saja warga daerah yang menerima penghargaan sana dan sini. Sayangnya tetap saja sulit dan kalaupun ada jumlahnya sangat sedikit.

Praktis selama 4 tahun kami bekerja, sepanjang tahun setiap hari di daerah, kami terus dihantui pertanyaan: di manakah para pejuang bersembunyi? Sembunyi? Iya, karena kami yakin mereka sebenarnya banyak, yang dibuktikan bahwa gerak pendidikan terus berderap dan – lebih jauh lagi – republik ini terus berdiri. Pasti ada orang-orang yang membentuk taman bacaan sederhana tanpa papan nama yang membuat anak-anak belajar mencintai membaca. Pasti ada orang-orang yang berkeras hati tetap hadir di sekolah ketika hujan sehingga anak-anak selalu yakin akan ada guru yang hadir di sekolahnya esok hari. Pasti ada orang-orang yang meniupkan pesan pada setiap bayi yang lahir dan setiap anak-anak yang tumbuh bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia. Pasti.

Dan rahasianya ternyata sederhana: bahwa para pejuang itu rendah hati. Kami bertemu dan terus menyaksikan betapa rendah hatinya para pejuang itu sehingga memang tidak mudah menemukan hanya di koran, ruang sidang kabupaten atau perempatan jalan. Mereka tidak sibuk memamerkan diri atau menceritakan diri mereka lebih banyak dari seperlunya.

Lebih dalam berinteraksi dengan mereka membuka rahasia lebih jauh soal kerendahhatian ini. Ini bukan soal mereka memaksa diri untuk merendahkan suara atau menyederhanakan penampilan. Ini juga bukan soal mendapatkan inspirasi dari buku-buku pengembangan diri tentang pentingnya bersikap rendah hati. ternyata rahasianya sederhana: mereka selama ini sibuk bekerja.

Dan itulah yang kami saksikan selama 4 tahun terakhir kami bekerja di 127 titik di 17 kabupaten di seluruh Indonesia. Tuhan Maha Besar memang terus menjaga republik kita ini. Tetapi pula di tiap sudut, pengkolan, ujung, lembah, pantai, gang di penjuru negeri ini (ternyata) ada jutaan orang yang terus bekerja bagi kemajuan pendidikan serta kemajuan bersama. Merekalah yang menopang negeri ini, menjaga kaki-kaki kita semua dan merapatkannya terus menjadi kokoh dan kuat.

Tak ada cara lebih baik untuk menghormati mereka semua itu selain ikut bekerja bersama mereka.

Maka dengan ini kami melapor: memasuki tahun ke-5 gerakan ini, kami akan terus bekerja.

(disampaikan oleh direktur eksekutif Gerakan Indonesia Mengajar, Hikmat Hardono, pada audiensi pelepasan Pengajar Muda angkatan IX dengan Wakil Presiden RI dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Istana Wakil Presiden Republik Indonesia, 19 Desember 2014)

Tentang Sebuah Cerita Perubahan

Bapak saya pensiunan guru, Ibu masih bekerja sebagai guru. Budhe (kakak dari ayah) saya guru. Bulik (adik dari ayah) juga guru. Sepupu saya dari Budhe dan Bulik itu juga bekerja sebagai guru. Pendek kata, saya dikelilingi orang-orang yang memang bergelut di dunia pendidikan.

Barangkali itu salah satu alasan saya out of the blue bergabung dengan Indonesia Mengajar (sebagai program officer) sepulang menuntut ilmu di negeri seberang.

Ada satu masa di mana saya penasaran dengan konsep Indonesia Mengajar. Bagi saya tak ada yang istimewa dengan program mengirim guru ke daerah. Kenyataannya memang ada ketimpangan tinggi menyangkut jumlah guru di Indonesia, apalagi sekolah yang letaknya di luar Pulau Jawa, di ujung-ujung republik. Apa istimewanya mengirim guru? Apalagi yang dikirimkan adalah anak-anak muda modern, tak heran banyak yang bilang bahwa Indonesia Mengajar hanyalah program untuk ‘menyenangkan’ mereka. Semacam aksi heroisme tanpa keluaran yang jelas.

Out of curiosity, I joined the team.

(jangan bertanya saya sering ketemu Pak Anies atau tidak, ya :D)

Di Indonesia Mengajar, dikenal yang namanya Cerita Perubahan. Iya, perubahan, dan bukan keberhasilan atau prestasi. Pendekatan yang diambil Indonesia Mengajar adalah pendekatan berbasis outcome (capaian dambaan), dan bukan output(keluaran). Asal muasal pemakaian pendekatan ini tentu panjang, namun intinya sesuai dengan cita-cita Indonesia Mengajar, gerakan ini ingin mendorong perubahan perilaku, bukan sebanyak-banyak prestasi seperti menang lomba atau nilai sempurna.

Apakah ada anak didik di SD penempatan Pengajar Muda Indonesia Mengajar yang menonjol? Ya tentu ada. Misalnya Febri Kristian Yafet dan Minarti dari SDN 09 Nanga Lungu (Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat) yang lolos ke final Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) 2014.

Itu output, keluaran yang memang lebih banyak dilihat dan dijadikan patokan. Jika ditarik dari sini, outcome yang ingin dicapai adalah bagaimana bersemangatnya anak-anak didik untuk berprestasi, untuk menjadi percaya diri, bahwa keterbatasan yang ada di lingkungan mereka bukanlah halangan untuk menjadi berarti. Apakah keluarannya menjadi juara lomba atau “hanya” peningkatan performa di kelas, pengukurannya bukan lagi di sana. Jika ukurannya adalah menang lomba, saya di waktu SD juga akan masuk kategori tidak berhasil karena kalah melulu di berbagai lomba. Ada seorang anak mulanya malu-malu untuk datang ke sekolah, tidak aktif di kelas, kemudian berproses menjadi siswa yang rajin, percaya diri sehingga menonjol di kelas, bisa menjalin komunikasi yang baik dengan teman-temannya. Bukankah itu sebuah pencapaian luar biasa?

Karenanya Indonesia Mengajar mencatat setiap perubahan perilaku dalam Cerita Perubahan. Tak hanya dari siswa, karena senyatanya pendidikan adalah urusan banyak orang. Perubahan perilaku yang dikatalisasi dengan kehadiran Pengajar Muda ini dilihat dari berbagai pihak: guru, kepala sekolah, masyarakat, hingga ke dinas pendidikan. Begitulah. Instead of sending money or logistics, Indonesia Mengajar chooses to send people. Tinggal di pelosok, setahun, menyatu dengan masyarakat di sana, menjadi keluarga, menjadi bagian dari tempat tinggal mereka. Karena yang namanya perubahan perilaku tidak bisa dihasilkan dari pelatihan, tidak bisa didapat dengan seminar dan ceramah.

Ini bukan tentang aksi heroisme anak-anak muda itu saja, ini mengenai keyakinan dan optimisme bersama, bahwa dengan perubahan perilaku, kita bisa bersama menghadapi masalah-masalah pendidikan di Indonesia. Ini juga mengenai menemukan aktor lokal, mereka yang ada di daerah, yang dengan segala keterbatasan, menolak untuk menyerah. Tentang Cerita Perubahan yang beragam:Rahmadanti yang menaklukkan ketidakmungkinan, Ibu Nutfah sang guru sukarela yang mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk pendidikan, pemerintah kabupatenyang meluangkan sehari untuk berbagi.

Ini tentang berjalan bersama. Kita bisa berjalan cepat sendirian, namun untuk berjalan jauh kita harus berjalan bersama.

Di titik pemahaman ini, saya menghela napas. It is true.

Apakah keberhasilan pendidikan ada di tangan satu pihak? Dinas pendidikan dengan kebijakan, guru dan kepala sekolah dengan implementasi metode pengajaran, orang tua dengan dukungan pada pendidikan anak, atau semangat anak-anak didik dalam belajar? Tanpa studi berbelit, apa yang saya lihat di keluarga saya memberikan jawaban: pendidikan adalah urusan semua. Tanpa orang tua dan keluarga yang mengerti arti penting pendidikan, tanpa guru yang selalu sabar menghadapi saya, tanpa kebijakan dinas pendidikan mengenai peningkatan prestasi; bisa jadi saya tidak akan berada di titik yang sama.

Pendidikan adalah urusan bersama. Karenanya,

Indonesia Mengajar tidak berpretensi menyelesaikan semua masalah pendidikan di negeri ini.

Karena kita, saya, Anda, harus jadi bagian dari solusi.

Dan dengan program luar biasa ini, tak salah bila banyak orang memiliki harapan yang besar pada menteri pendidikan dan kebudayaan yang baru. Saya, tak luput juga. But now I understand, saya pun tak boleh berpangku tangan dan menunjuk pihak lain ketika menghadapi masalah di dunia pendidikan. Menjadi bagian dari solusi.

XOXO,

-C

Kredit foto: Indonesia Mengajar

Sebelum Ngambil IELTS…

Untuk kepentingan akademis atau profesi, kita seringkali diminta untuk menunjukkan sertifikat kemampuan berbahasa. Untuk bahasa Inggris, dua metode tes yang dipakai adalah TOEFL dan IELTS. Kita mungkin lebih familiar dengan TOEFL, karena metode ini dikembangkan di Amerika dan paling dulu diperkenalkan. Meski begitu, untuk menanggapi perbedaan yang antara American English dan British English, British Council mengembangkan IELTS.

Saya beberapa kali mengambil tes TOEFL dari beberapa institusi bahasa di Indonesia, dan satu kali resmi dari ETS, meski bukan TOEFL-nya, melainkan TOEFL-ITP. Apa bedanya? Silakan merujuk kesini. Skor yang saya dapatkan bervariasi, mulai dari 503 sampai 563, semuanya paper-based. Tidak terlalu tinggi. Ketika saya berencana melanjutkan studi ke luar negeri 3 tahun lalu, saya memutuskan untuk mengambil IELTS, di satu sisi karena saya ingin mencoba sesuatu yang baru, di sisi lain karena salah satu negara tujuan saya waktu itu adalah Australia.

Karena skor (di IELTS disebut dengan band score) mininum yang disyaratkan adalah 6.5 dengan skor mininum 6.0 di Writing section, saya memutuskan untuk mengikuti kelas persiapan IELTS supaya USD 185 saya tidak terbuang sia-sia (jika saya harus mengulang). Band score IELTS berkisar antara 0 (did not attempt the test) dan 9 (expert user). Saya mengambil kelas 2 minggu intensif (20 jam), khusus untuk mempersiapkan tesnya saja. IELTS orientation namanya. Kelas ini dibuka untuk mereka yang berniat untuk “mengakrabkan diri” dengan metode uji IELTS, dan bukan secara umum meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Bagi orang yang terbiasa dengan TOEFL paper-based, IELTS dengan metodenya yang berbeda akan terasa ‘mengejutkan’. Pertama, IELTS memiliki Listening dan Writing section. Kedua, IELTS tidak menganut prinsip pilihan ganda. Jawabannya harus dituliskan dengan lengkap di lembar jawaban, dengan ejaan yang benar. Meskipun kita bermaksud menjawab dengan benar namun ejaannya salah, jawaban tersebut akan dianggap salah. Ngeri? Iya.

Nah, IELTS sendiri dibagi menjadi dua kategori: General Training (untuk tujuan profesional) dan Academic (untuk persyaratan akademis). Keduanya meliputi empat tes: Reading, Listening, Writing, dan Speaking. Listening dan Speaking tesnya sama untuk General Training dan Academic, sementara Reading dan Writingnya bervariasi.

Reading

Berikut adalah contoh lembar jawaban untuk tes IELTS:

ielts-12

Jadi seperti saya tuliskan sebelumnya, jawabannya harus DITULIS dengan benar. Model bacaannya bisa jadi tidak begitu berbeda dengan tes TOEFL, namun pertanyaan yang diberikan tidak sekedar 5W dan 1H, melainkan seperti contoh berikut:

ielts12

Susah? Iya. Tips: bacalah dengan seksama, jangan cuma paragraf teratas dan paling bawah. Sebelum mengambil tes IELTS, saya dilatih scanning, kecepatan dan ketepatan membaca. Bacaan-bacaan di IELTS cukup panjang, dan tipe pertanyaannya bermcam-macam, sehingga mau tidak mau kita harus “menyelami” bacaannya.

Nah, tipe pertanyaan yang juga mungkin muncul adalah isian seperti di bawah ini.

ielts22

Kalau yang ini memang lebih mudah dibanding dengan yang pertama karena kita tinggal menemukan kata yang cocok dan kemudian menuliskannya dengan BENAR.

Detailnya bisa dilihat disini.

Listening

Ini tes IELTS yang menurut saya paling susah. Subjektif memang, tapi ada beberapa faktor yang menurut saya bisa juga membuat Anda menganggapnya yang paling susah. Pertama, pembicara dalam tes ini akan berbicara dengan aksen British atau Australian. Iya sih seksi (menurut saya), tapi ya begitu, kadang-kadangpronounciationnya tidak sejelas aksen Amerika. Jadi, dengarkan baik-baik. Kedua, model pembicaraannya ada beberapa jenis, ada percakapan singkat, ada juga model kuliah yang agak panjang. Jadi selama mendengarkan, tuliskan sekaligus jawabannya di kertas soal, baru kemudian pindahkan ke lembar jawaban. Yang artinya: kita harus membaca dengan cepat pertanyaan-pertanyaannya sehingga selama rekamannya diputar, kita tidak bingung antara konsentrasi mendengarkan dan menjawab. Salah satu model pertanyaannya seperti berikut:

ielts-3

Pertanyaannya bisa juga berupa pilihan ganda, melengkapi kalimat, atau menentukan topik. Di kelas IELTS orientation, kita akan diberikan modul soal untuk masing-masing section yang saking banyaknya bisa membuat perut mual.

Writing

Setelah Listening dan Reading section, tes IELTS berikutnya adalah Writing. Secara umum, Writing section dalam IELTS dibagi menjadi dua: deskripsi dan opini.

  • Deskripsi

Di soal pertama ini kita diminta untuk menjelaskan/mendeskripsikan suatu tabel/grafik/gambar. Berikut contohnya:

ielts-51

Tips: mulailah dengan kalimat yang menjelaskan grafik tersebut mengenai apa. Dalam kasus ini misalnya: The graph shows global water use by sector during the last a century; while the table depicts water consumption in Brazil and Congo in the year 2000.

Karena di soal ini kita HANYA diminta untuk menjelaskan/mendeskripsikan grafik, maka tuliskanlah informasi apa saya yang bisa kita dapatkan dari grafik tersebut, jangan menambah dengan alasan, opini, atau pemikiran pribadi mengapa data yang disajikan bisa seperti yang diberikan. Examiner yang mengoreksi jawaban kita akan mengurangi nilai jika kita menambahkan sesuatu yang tidak perlu. Cukup tuliskan apakah ada kenaikan, penurunan, atau perbandingan antar grafik. Misalnya,the graph tells us that the largest water consumption is for agricultural use for the last a hundred years. It keeps raising as the year goes by, while water for industrial and domestic use generally minimum until in 1950s, when the uses steadily increase with time.

Hindari menyebutkan mengapa sektor agrikultur membutuhkan lebih banyak konsumsi air dibanding dengan yang lain. Jika kita berkesempatan mengikuti IELTS orientation, kita akan diajarkan untuk menggunakan adverbs (kata keterangan) untuk mendeskripsikan tingkat perubahan suatu data, misalnya dramatically, slowly, sharply, sehingga kita bisa menulis dengan lebih akurat dan sekaligus tidak monoton. Dan perhatikan mengenai penggunaan negative adverb, banyak yang sering ‘kepleset’ di sini. Sesuai dengan namanya, negative adverb mengindikasikan bahwa adverb tersebut pada dasarnya sudah bersifat negatif, sehingga tidak perlu ditambahkan dengan negative indication lain seperti ‘not’. Misalnya, the increase in water consumption of industrial and domestic use are not barely different till 1940s, seharusnya the increase in water consumption of industrial and domestic use are barely different till 1940s (karena barely sendiri sudah bersifat negatif).

Tips ketiga, gunakanlah kata yang berbeda untuk mendeskripsikan perubahan yang sama. Kalimat water consumption for agriculture purpose keeps rising for the past a century, while industrial and domestic use of water only show a steep increase after 1950s akan menunjukkan kemampuan kita menulis dalam bahasa Inggris dan penguasaan pada kosa kata bahasa Inggris yang lebih baik dibandingkan dengan the consumption on agriculture rises over the years, and the domestic use also rises.

  • Opini

Jika di soal pertama kita diminta untuk mendeskripsikan sesuatu, di bagian kedua kita justru diharapkan untuk memberikan opini. Meski begitu, ketika kita tidak diarahkan untuk menunjukkan seberapa kita setuju atau tidak setuju terhadap sesuatu, maka sebaiknya kita menulis dengan berimbang, menjelaskan mengenai satu sisi, dan kemudian meng-cover sisi yang lain. Jika kita diarahkan untuk lebih setuju ke satu sisi, tulislah demikian. Jadi, bacalah direction yang tertulis dengan seksama.

Soal di bawah adalah contoh dimana kita diminta untuk menulis secara berimbang.

ielts-4

Tulislah dahulu mengenai topik atau big picture mengenai apa yang akan kita jabarkan. Setelah itu mulailah menjelaskan mengapa ada orang yang terlalu nyaman berada di kehidupan yang monoton, dan juga sebaliknya, mengapa ada orang yang selalu mencari perubahan. Misalnya:

An anonymous quote say, the only certain thing in this world is uncertainty. It is true that the world keeps changing, technologies stays developing, problems faced by people also in some extent are different from time to time. In accordance to those changes, people may give different responses. There are those who consider changes as somewhat painful, forcedly drive people to get out their comfort zone……. (dan selanjutnya).

Satu tips saja: menggunakan ‘fancy vocabulary’ itu sah-sah saja, asalkan kita benar-benar mengerti penggunaannya. Jika kita ingin mendapatkan band scoretinggi dengan menyelipkan ‘fancy vocabulary’ di sana sini tanpa mengerti maksudnya, percuma.

Dan selalu perhatikan berapa jumlah kata yang diminta.

Speaking

Jadi setelah ketiga tes di atas, selanjutnya kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris akan dites oleh seorang licensed examiner (LE). LE ini adalah orang yang memang khusus memiliki sertifikasi untuk menilai kemampuan kita, sehingga objektifitas dan kompetensi mereka solid, jangan khawatir. Mereka juga ramah dan berusaha membuat kita rileks selama tes berlangsung.

Speaking tes dilakukan selama kira-kira 10 menit dan direkam. Tes ini dibagi menjadi tiga: general topic, long turn, dan discussion. Hal-hal yang dinilai adalah:pronounciation, vocabulary, fluency, and sentence structure.

Tips saya singkat saja: pastikan apa yang ditanyakan terjawab (jangan berlebih) dan hindari menggunakan fancy vocab jika tidak terlalu mengerti bagaimana menggunakannya. Di bagian pertama biasanya kita ditanya mengenai personal information seperti nama, umur, makanan favorit, dan sebagainya. Boleh berimprovisasi, tapi pastikan pertanyaannya sudah terjawab. Jadi misalnya ditanya apa warna favorit kita, jawablah dulu, baru berimprovisasi; dan bukan bertele-tele membicarakan warna ini dan itu sebelum menjawab.

Di bagian kedua dan ketiga, boleh berimprovisasi secara luas, karena memang kita diminta begitu. Topik pembicaraan untuk long turn akan diberikan di secarik kertas, jadi kita tidak mengetahui topik tersebut sebelumnya. Jangan khawatir, kita akan diberikan waktu sekitar 1 menit untuk mempersiapkan apa yang ingin kita sampaikan mengenai topik tersebut. Beropini atau bersikap netral tidak masalah.Just say what you want to say. Biasanya LE hanya akan bertanya sedikit-sedikit, atau bahkan tidak bertanya. Jadi lebih pada speech satu arah.

Bagian ketiga adalah free discussion. Topiknya terserah kepada LE, dan kita bisa “bercakap-cakap” dengan LE selama 4 menit. Jangan berbicara terlalu banyak sehingga LE tidak memiliki kesempatan untuk “ngomong balik”, tapi juga jangan terlalu banyak berhenti di tengah jalan untuk mencari ide berbicara.

Di dua bagian terakhir, usahakan menggunakan kata-kata yang benar-benar kita mengerti penggunannya. Penggunaan fancy vocab pada konteks yang salah justru akan mengurangi score kita.

Nah…setelah selesai tes, band score kita akan diumumkan tiga minggu kemudian (mungkin ada yang berbeda). Band score IELTS adalah antara 0-9. Tabel perbandingan band score IELTS dengan tes-tes lain bisa dilihat disini:

picture6

Untuk yang akan mengambil IELTS, good luck yaaaa,

-C

Sumber soal:
http://www.ielts-exam.net/IELTS-Writing-Samples/IELTS_Sample_Writing_Academic_Task_1_1.pdf
http://www.ielts-exam.net/IELTS-Writing-Samples/IELTS_Sample_Writing_Academic_Task_2_2.pdf
ielts.org

Pahlawan dari Sitoko

DSC09539-1

Namanya Kamal. Saya lupa menanyakan dia kelas berapa. Perhatian saya tertuju padanya karena di antara sekumpulan murid-murid perempuan kelas 2 yang malu-malu berebutan mencium tangan saya, dia melihat saya dengan tatapannya yang jahil. Ketika saya mengajak mereka semua selfie, Kamal yang paling semangat, dia bahkan menirukan gaya dua jari saya.

Senyum dan antusiasmenya, juga keceriaan anak-anak lain, membuat saya lupa bahwa saya sedang berada di sebuah desa yang letaknya jauh di atas bukit, yang untuk mencapainya perlu waktu 1-1, 5 jam menyusuri jalan buruk dan berbatu dari jalan raya terdekat. Listrik belum lama mengaliri desa ini. Sinyal telepon pun timbul tenggelam. Masyarakatnya belum terlalu menggunakan uang, kebanyakan bertukar kebutuhan, beras ditukar sayur, hasil kebun ditukar ikan.

Hari itu hari Jumat. Meski sebenarnya hari Jumat adalah hari menggunakan seragam pramuka, ada beberapa anak yang menggunakan seragam merah putih, juga seragam lain. Ya, karena mereka tidak memiliki seragam pramuka. Jika hujan, air dan tanah menggenangi halaman kelas, membuat anak-anak harus datang bersandal atau bertelanjang kaki dan menenteng sepatu mereka. Sekolah ini hanya memiliki 6 ruangan, 5 untuk kelas dan 1 untuk ruang guru. Fasilitas lain apa yang mereka punya? Praktis tidak ada. Guru sekolah ini kebanyakan honorer, yang harus menempuh jarak dan medan sulit untuk bisa sampai ke sekolah.

Tapi lihat senyum mereka.

14155969201868421621

Sitoko, nama desanya. SDN 2 Pasir Haur, nama sekolahnya. Anda mungkin mengira desa dan sekolah ini berada jauh dari Jakarta, bahkan di luar Jawa. But no. Secara administratif Sitoko adalah bagian dari Kabupaten Lebak, Banten. Rangkasbitung, ibukota kabupaten, bisa dicapai kurang dari 2 jam dari Jakarta dengan menggunakan kereta api. Posisi menentukan prestasi, katanya. Namun posisinya yang juga “tak jauh” dari Jakarta, ibukota negara, tak lantas menjadikan Sitoko semaju sekolah-sekolah lainnya.

Ketika saya menceritakan mengenai Sitoko kepada ibu saya, beliau berkata, “Isih ana yo sekolah kahanane ngono, neng Jawa sisan (masih ada ya sekolah yang kondisinya begitu, padahal di Pulau Jawa)”. Begitulah, Sitoko dan SDN 2 Pasir Haur hanyalah satu di antara sekian sekolah lain di Pulau Jawa yang kondisinya masih perlu banyak perhatian. Perhatian dalam arti sesungguhnya, tak melulu soal membangun fasilitas. Why? Karena anak-anak itu punya kemampuan dan mimpi yang sama tinggi dengan mereka yang kebetulan tinggal di daerah yang lebih baik, bersekolah di sekolah yang fasilitasnya lengkap. Saat saya tiba di sana, sekolah dan warga sedang bergembira karena salah satu muridnya, Wahid, untuk pertama kalinya lolos sebagai peserta Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI) 2014 di Bogor. Wahid memang belum berhasil menyandang gelar, namun mengikuti konferensi tingkat nasional? Barangkali tidak terbayang sebelumnya di benak anak-anak Sitoko. Barangkali bagi mereka, Wahid adalah pahlawan. Pahlawan yang mengangkat harapan mereka, pahlawan yang juga sekaligus mengangkat nama Sitoko dan SDN 2 Pasir Haur.

Hari itu saya pulang membawa cerita. Cerita kepahlawanan. Guru-guru yang tetap setia memberikan tenaga dan pikiran mereka untuk anak-anak. Anak-anak yang tak memudar semangatnya meski tak mengenal kota. Pendar senyum dan keceriaan yang tak dipengaruhi terpencilnya desa mereka. Cerita harapan yang tak putus di tengah berbagai keterbatasan.

Hari ini Hari Pahlawan. Teristimewa, tulisan ini untuk para guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Dan untuk saya, juga untuk anak-anak Sitoko, karena mereka telah membangkitkan harapan saya, menyadarkan saya bahwa menyerah bukanlah pilihan.

Selamat Hari Pahlawan, para guru dan anak-anak Sitoko!

XOXO,

-C

Rumah Kita Hanya Satu

If freshwater in the world is equal to one gallon, only two drops of that are readily available for human consumption.

Kutipan ini dikatakan oleh Professor C.P. Huang dari University of Delaware di salah satu kuliah singkat yang saya ambil ketika saya masih mahasiswa. Air memang melimpah di bumi ini, namun banyak yang tidak sadar bahwa sebagian besar air adalah air laut, dan air tawar yang tersedia bagi kita sebagian besar berupa es, di kutub utara dan selatan. Air tawar yang benar-benar bisa kita konsumsi jumlahnya hanya sedikit. 

Doesn’t that scare you? Tidakkah kutipan ini terasa menakutkan?

The Book of Eli

Cerita panjang saya tentang air dimulai dari sebuah film. The Book of Eli, film yang dibintangi oleh Denzel Washington dan dirilis di tahun 2010 ini bercerita tentang bumi di masa post-apocalypse, masa setelah terjadinya bencana besar yang menghilangkan peradaban. Bumi kering, meranggas. Bagian dari film ini yang paling menusuk saya adalah betapa mahalnya harga air. Air bersih, air tawar. Jangankan untuk mandi, untuk minum pun terbatas. Eli, si tokoh utama, harus ‘membeli’ air dengan menukarkan barang-barang yang dimilikinya.

Di salah satu dialognya, ketika ditanya mengenai bagaimana keadaan bumi sebelum terjadinya kiamat kecil itu, Eli menjawab: people had more than they needed… people didn’t know what was precious and what wasn’t… people threw things away they kill each other for now.  

Iya. Saat ini kita memiliki lebih dari yang kita perlukan. Kita tidak tahu apa yang berharga dan mana yang tidak. Eli memang tidak menyebutkan apa yang dimaksudnya dengan ‘things’, namun saya tahu salah satu yang dia maksud adalah air. 

Negara Kita Kaya Air

Iya. Dengan tapi.

Indonesia adalah negara tropis, dengan curah hujan yang juga tinggi. Sebagai seseorang yang lahir dan besar di sebuah desa di Pulau Jawa, saya tidak pernah merasakan kekeringan, dan saya bersyukur untuk itu. Namun satu kecamatan di kabupaten yang sama, saat musim kemarau, harus mendapatkan bantuan pasokan air karena semua sumber air kering kerontang. Iya, negara kita dikarunia curah hujan tinggi, namun itu tidak lantas membuat kita semua, di daerah yang berbeda-beda, memiliki ‘nasib’ yang sama.

Air yang kita gunakan untuk minum dan semua kebutuhan lain berasal dari dua sumber: surface water (air permukaan, misalnya sungai dan danau) dan groundwater (air tanah, misalnya sumur). Persebaran dua sumber air ini memang tidak merata di Indonesia, ada daerah yang punya banyak sungai dan danau, ada pula yang lebih didominasi oleh air tanah. Ketika kita melihatnya secara makro, masalah yang kita miliki sebenarnya bukan kurangnya air, melainkan kurangnya manajemen pengolahan air. We don’t have water shortage, we have water management problem.

Ketika berbicara mengenai air bersih dan pengelolaannya, saya ingat masa kecil saya. Dulu, sepulang sekolah, ayah mengajari saya berenang di sungai. Iya, sungai. Pelampungnya batang pisang. Sungai itu sungai favorit saya. Ketika pasokan air belum lancar, saya dan ibu selalu ke sungai untuk mandi dan mencuci. Dua puluh tahun kemudian, sungai favorit saya aliran airnya sudah berkurang banyak, Airnya yang dulu jernih kini kecoklatan, membawa banyak lumpur. Pinggiran sungai yang dulu bersih, kini penuh bertebaran sampah. Siapa yang kini mau berenang dan bermain air di sana? Tidak ada. Cari penyakit namanya. 

Saya kehilangan sungai favorit saya. Lebih dari itu, saya tahu benar bahwa air sungai yang tercemar akan mempengaruhi pasokan air bersih. Tak hanya volumenya yang berkurang, juga karena air yang kita gunakan untuk minum dan mandi itu juga berasal dari sungai. 

Sadarkah itu ketika kita membuang sampah sembarangan di sungai, atau bahkan di jalan?

Si Kembar Seoul dan Tokyo

DSC09859 (1)

Saat masih mahasiswa, saya berkesempatan untuk mengunjungi instalasi pengolahan air minum di Seoul dan Tokyo. Seoul dengan Arisu, dan Tokyo dengan Tokyo Water-nya. Mengapa saya bilang kembar? Dua kota metropolitan ini sadar betul bahwa air adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan keduanya merawat, mengolah, dan menjaga air sedemikian hingga, dengan teknologi yang juga terus dikembangkan untuk membuat masyarakatnya tenang. Air banyak dianggap sepele, tapi apakah hari-hari kita bisa kita jalani dengan menyenangkan ketika tidak ada air bersih di rumah? Atau ketika kita khawatir dengan air yang kita minum?

Saya pernah membantu adviser saya untuk menulis review singkat mengenai water environment in Southeast Asian countries. Level sanitation coverage Indonesia hanya 55% (UNEP RRCAP, 2004), dan Jakarta, ibukota negara, bahkan tidak memiliki integrated sewerage system, dan hanya 2% dari 8 juta penduduknya yang terlayani oleh sistem pembuangan air (UN Habitat, 2003). Artinya air pembuangan dari rumah tangga dan industri belum diolah secara optimal dan dibuang begitu saja ke water body, ke sungai. Padahal kita tahu, resource management air kita belumlah se-advanced Seoul atau Tokyo yang memiliki reservoir khusus untuk supply air. Yang artinya lagi, sumber air minum kita (dari sungai ataupun ground water), tidaklah sebersih jika kita memiliki reservoir sendiri.

Yang artinya juga ketika kita membuang sampah sembarangan ke jalan, ke sungai; keduanya bisa berakhir mencemari sumber air yang kita gunakan untuk minum, mandi, dan mencuci. Air yang tercemar adalah sumber banyak penyakit, karena banyak penyakit yang media penyebarannya adalah air.

Rumah Kita Hanya Satu

Benang merah kepingan-kepingan cerita saya hanya satu saja: air adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, dan karenanya, kita wajib menjaganya. Kenapa? Karena rumah kita hanya satu, yaitu bumi. Kalau air di bumi ini habis atau tercemar, kita tidak bisa pindah rumah. Kita harus banyak bersyukur tinggal di Indonesia dengan curah hujannya yang tinggi dan sumber airnya yang melimpah. And we should not take it for granted. 

Sementara untuk menyusul Seoul dan Tokyo kita perlu pemerintah dan perencanaan yang matang, apa yang bisa kita lakukan sendiri? Kita bisa iuran. Iuran menghemat air dan menjaga kebersihan sumber air. Menghemat air tentu bisa dengan berbagai cara: mengurangi konsumsi air untuk mandi, mencuci, dan sebagainya atau dengan mematikan kran saat tidak digunakan. Menjaga kebersihan sumber air? Tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon sembarangan. Kalau membuang sampah erat hubungan dengan surface water, tidak menebang pohon adalah salah satu cara menjaga area resapan air dan memastikan tanah tidak mengalami erosi, menjaga kelestarian groundwater. 

Lihat, iurannya sederhana. Semua bisa melakukannya. Dari kita dan untuk kita.

Much love,

-C

 

 

Tujuh Tahun Menulis

Tak ada yang meragukan kemampuan saya menulis. Oke, ini memang menyombongkan diri. Saya percaya bahwa kalau mau sombong, sombong aja, nggak sudah pake merendah. Kemarin saya diingatkan WordPress bahwa blog saya yang pertama ini sudah berulang tahun yang ketujuh. Ah, ternyata sudah lama. Dan sebagai hadiah untuk diri sendiri, bolehlah saya menuliskan ini.

Faktanya memang saya suka dan bisa menulis. Jauh dari sempurna, tentu, namun deretan prestasi yang saya torehkan di dunia tulis menulis itu adalah kenyataan yang tidak bisa dibantah.

Tapi tahukah Anda, bahwa perjalanan saya menulis itu diawali oleh sebuah hal yang pahit?

Sewaktu kecil saya tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran saya. Saya terbiasa menurut, padahal saya punya banyak sekali hal di kepala yang bisa dibilang berbeda. Iya, saya takut menjadi beda. Saya tahu rasanya di-bully. Saya memilih diam.

Mulut bisa saja diam, namun pikiran saya terus bergerak. Entah sejak kapan, saya mulai terbiasa menulis, dari puisi tidak berima yang sama sekali tidak indah, kata-kata mutiara buatan sendiri, hingga prosa yang tidak jelas bentuknya. Saya mulai menemukan dunia sendiri, menemukan media yang bisa menjadi teman melepaskan segala macam pikiran yang tadinya terkurung tanpa teman. Seringkali ketika sedang kesal, saya menuliskan makian dan keluhan di selembar kertas sampai kecapekan, lalu merobek kertasnya. Ketika menginginkan sesuatu, saya tuliskan semuanya lalu menyimpannya di bawah bantal. I am that introvert. Itu cara saya menghadapi permasalahan dalam hidup. Dan kebiasaan menulis itu terus berlanjut hingga akhirnya saya memiliki keberanian membuat blog ini di tahun 2007. 

See? Perjalanannya panjang dan tidak dilihat orang.

Di masa ini saya sudah bisa dibilang seorang accomplished writer. Blog saya rajin terisi, saya bisa menulis di banyak media lain (bahkan dibayar), kumpulan kisah saya juga ada yang dijadikan buku kompilasi, menjuarai beberapa kompetisi menulis yang hadiahnya juga tidak main-main, dan di bidang yang lebih serius, saya juga menulis bab buku (textbook) bersama pembimbing disertasi saya.

Kini saya merencanakan menulis buku sendiri. How awesome is that?

Perjalanan menulis saya hingga di titik ini adalah contoh nyata bahwa kerja keras dan cinta itu membawa banyak sekali bonus. Tidak, saya tidak menulis dengan tujuan mencari uang dan penghargaan. Saya menulis karena saya cinta menulis. Saya meluangkan waktu setelah bekerja untuk menulis, karena saya segitu cintanya menulis. Kerja keras? Tentu. Menulis itu perlu konsentrasi, menulis perlu kreativitas, menulis perlu teknik. Saya belajar dan terus belajar untuk mengembangkan kemampuan menulis ini.

Dan secara khusus, saya ingin berterima kasih pada teman-teman, pada Anda, pada semua orang yang mau meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya. Apresiasi pembaca, apapun bentuknya, adalah hal yang menyenangkan bagi seorang penulis. Kritikan yang menyakitkan pun adalah bentuk kepedulian. Thank you. Thank you.

Tujuh tahun saya menulis di sini. Tujuh tahun kulminasi keberanian saya menulis untuk semua.

Salam cinta,

-Citra

 

 

 

Ketika Pertiwi Tak Lagi Memberi

Siang itu begitu terik. Pelabuhan di ujung utara Taiwan itu terasa membara. Di depan saya berdiri seorang lelaki paruh baya berkulit legam, tulang-tulangnya menonjol. Sorot matanya membuat saya tercekat. Suaranya yang lirih dan pias membuat ceritanya berkali lipat menyentuh saya.  

Saya menggigit bibir, sekuat tenaga menahan air mata yang sudah berada di pelupuk, tinggal menunggu jatuhnya.

Lelaki paruh bayar berinisial K ini adalah seorang nelayan Indonesia yang terpaksa harus pergi ke Taiwan untuk mencari penghidupan. K dan ribuan nelayan lainnya bekerja sebagai anak buah kapal (ABK), bekerja pada ‘majikan’ orang Taiwan yang memiliki kapal. Jumlah mereka yang banyak, dan dengan demikian menjadikan mereka sebagai tenaga kerja yang banyak dicari tidak lantas membuat kehidupan mereka layak.

Mereka tinggal, makan, bekerja, bercengkerama di kapal milik ‘majikan’ mereka. Kapal-kapal itulah hidup mereka. Tempat tidur seadanya di bawah dek, bercampur amis ikan dan pengap. Makan mereka belum tentu bervariasi, jika tidak beruntung, mereka hanya makan sisa hasil tangkapan. Pekerjaan mereka berat dan kasar, membutuhkan tenaga, belum lagi bila ‘majikan’ mereka seseorang yang banyak membentak. Libur? Jangan berharap banyak. Pendek kata, pertemuan saya dengan mereka membukakan mata. They live a hard life, they really do.

“Kenapa tidak melaut di Indonesia saja, Pak?”

Pertanyaan tidak berdosa dari saya ini mungkin basi bagi mereka. Bukankah Indonesia adalah negara bahari? Hasil laut kita banyak, banyak banget.

Jawaban mereka serupa. Desakan ekonomi, apa lagi. S, seorang ABK di Pelabuhan Donggang di bagian selatan Taiwan menyeka keringat di keningnya sambil berujar, “Dulu saya di Indonesia punya kapal mbak, istri saya berjualan. Kebutuhan saya terpenuhi. Tapi trus krisis (ekonomi), dan harga bahan bakar semua naik. Kapal saya jual, saya terpaksa ke sini (Taiwan).” Mereka terpaksa meninggalkan keluarga bukan karena tak ada lagi ikan, namun karena mereka tak mampu lagi bertahan dengan gempuran mahalnya harga bahan bakar, rendahnya harga hasil laut. Mereka merasa ditelantarkan. Mereka pedih karena tak diperhatikan.

Pertiwi tak lagi memberi, dan pergilah mereka meninggalkan si negeri bahari. Sebuah ironi, bukan? Nelayan negeri bahari yang tak melaut di negeri sendiri. Bukankah janji kemerdekaan itu salah satunya ‘memajukan kesejahteraan umum’? Lihat mereka, para nelayan yang tak punya pilihan selain meninggalkan kampung halaman. Kemerdekaan itu ternyata belum menyentuh semua insan. Bisakah kita mewujudkan harapan mereka untuk bisa sejahtera?

Dada saya sesak.

Mereka memang kekurangan, namun kehangatan mereka tak lantas menghilang. Siang yang panas itu, mereka berbagi makan siang. Ikan, ikan goreng hasil tangkapan mereka yang digoreng dengan garam saja. Ikan terenak yang pernah saya makan.

Di akhir pertemuan, salah satu nelayan berpesan, “Mbak, belajar yang rajin ya, jadi nanti kalau sudah lulus dan berhasil menjadi orang penting, Mbak bisa membantu kami-kami di sini.”

Saya tersenyum.

Di perjalanan pulang, saya menangis.

 

Mengapa Indonesia Mengajar Ngotot Mengembangkan Konsep Pendanaan Berbasis Publik?

Oleh: Hikmat Hardono 

Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Mengajar

Saudara-saudara,
dalam musim pidato-pidato ini, maka inilah pidato saya.

Setelah perjanjian Renville, Belanda gembira dengan hasilnya karena mereka berhasil memojokkan negara baru ini sehingga dugaan mereka– bakal gagal menaati isi perjanjian itu. Dan bila gagal maka itu akan membuktikan premis Belanda bahwa  tidak ada negara RI, tidak ada tentara. Yang ada hanyalah gerombolan, sebagian sok  diplomatis, sebagian lagi ngaku tentara.

Salah satu isi perjanjian itu mengharuskan 30 ribu orang harus pindah dari Jawa  Barat dalam tempo 2 minggu ke wilayah Republik, yaitu praktis hanya sebagian Jawa  Tengah dan Jawa Timur. Dan itu terjadi di tahun 1948.

Hebatnya itu berhasil. 30 ribu orang. Tentara dengan persenjataan. 2 minggu.  Ratusan kilometer. Tahun 1948.

Tentara itu namanya Divisi Siliwangi.

Setelah 10 bulan di perantauan, ketika sudah mulai menetap dan disusul oleh  keluarga mereka, datang perintah baru: kembali ke basis perjuangan. Lalu mereka, sebagian bersama keluarganya, melakukan longmarch –jalan kaki, Bro —dari daerah Republik di Jogja dan Solo sekitarnya kembali ke Jawa Barat untuk bersiap kembali berperang karena adanya agresi Belanda yang kedua.

Salah satu kerumitan yang tidak pernah habis saya kagumi adalah pengelolaan logistiknya. Bagaimana uang didapat, bagaimana mengirimkan uangnya, mengelola logistik dan perbekalan serta aspek pengorganisasian lainnya yang pastilah rumit dengan alat komunikasi yang terbatas. Bagaimana ya bentuk slip pembelian bensin untuk truk pengangkut senapan, bagaimana mencairkan dana untuk pembelian makanan tentara atau sekedar bagaimana cara mengirimkan uang dari para bendahara Republik ini untuk dikirim ke para pengelola lapangan?

Hebatnya itu ada di mana-mana. Ini terjadi bukan hanya dalam fenomena Siliwangi di atas. Upaya menggalang dana dilakukan di mana-mana. Ada yang iuran dengan harta bendanya, ada yang menyelundupkan hasil bumi untuk ditukar senjata. Ada pula yang menyumbang seadanya: tempat untuk tidur atau berbagi makanan yang sedikit.

Dan ketika uang didapat, ia disebar dan dikirimkan dengan cepat dan sederhana. Saya pasti bodoh bila percaya bahwa saat itu uang diserahterimakan dengan dokumen berangkap 5 dengan meterai secukupnya. Tidak ada yang mencuri, tidak ada yang mengambil untuk dirinya. Agak sulit membuktikan dan mengukur soal ini tetapi toh buktinya uangnya cukup. Cukup untuk memenangkan Indonesia.

Sebagian sumberdaya non-uang malah dikumpulkan dan dikirimkan dengan berbagai cara. Senjata dibeli dan diselundupkan dengan kapal atau pesawat menerobos pengawasan Belanda. Makanan? Minum? Rumah? Terlalu banyak untuk diceritakan sumbangan orang-orang tentang ini pada perjuangan kala itu.

Semua ini merupakan kegiatan yang sangat kompleks, rumit. Dalam pengelolaan keuangan, ada rumus sederhana: sistem kontrol yang handal diperlukan dalam budaya kepercayaan yang rendah. Dan ketika sistem pengendalian keuangan dalam revolusi kemerdekaan itu sangat sederhana sebenarnya menggambarkan hal esensial: bahwa bangunan kepercayaan di antara seluruh elemen organisasi sangatlah kokoh. Ketika yang dibicarakan adalah organisasi negara-bangsa, artinya lembaga-lembaga negara serta masyarakatnya sama-sama kokoh kepercayaannya satu sama lain; dan sama-sama dapat dipercaya dalam memegang amanah uang.

Pengorganisasian rumit pastilah memerlukan kepercayaan. Tanpa itu, pengorganisasian jadi lebih rumit karena kesibukan kita untuk mencegah kekacauan keuangan sekaligus upaya eksesif untuk meyakinkan warga untuk ikut menyumbang. Bayangkan kerumitan lanjutannya: pejuang kita terlalu sibuk membuat laporan penggunaan peluru daripada pertembakan itu sendiri. Atau para diplomat sibuk untuk menyusun slip tiket dan boarding-pass ketika berkunjung meyakinkan negara lain untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Atau para staf pemerintahan baru itu terlalu sibuk membuat company profile dan proposal yang akan disebarkan pada calon penyumbang daripada bekerja untuk menyebarkan cita-cita kemerdekaan kita.

Dan ketika Belanda benar-benar mengakui kedaulatan kita pada 1949 maka – setidaknya bagi saya—ini adalah salah satu puncak pencapaian hebat para pendahulu kita. Dimulai sejak 1908, Dr Wahidin yang mengamen –  istilahnya mbarang jantur—berkeliling Jawa untuk berjualan ide dan keyakinannya yang kemudian bersinggungan dan diwujudkan oleh Dr Soetomo dan kawan- kawannya dengan Boedi Oetomo; sampai di ujung revolusi kemerdekaan di tahun itu sebenarnya menggambarkan betapa besarnya pekerjaan raksasa yang bisa diwujudkan para pendahulu kita.

Maka saya tidak sedang pidato mengajak kalian untuk mengalahkan Belanda. Saya hanya iri bahwa para pendahulu kita bisa mengerjakan hal-hal raksasa di masa lalu. Saya hanya ingin mengajak kalian merasakan kembali kehebatan bangsa kita, membuat hal-hal raksasa yang hari ini tampaknya tidak mungkin.

Tentu kita bisa mengurai berbagai macam pelajaran dari cerita di atas. Tetapi saya selalu suka mengulang-ulang kalimat ini pada diri sendiri: dulu kita pernah jadi bangsa sehebat ini dalam pengorganisasian. Negara baru, pemimpin sipil baru, tentara baru. Kita pasti bisa sehebat itu kembali.

***

Kalau Indonesia Mengajar nih cuma ingin jadi lembaga pengirim guru atau jadi LSM biasa maka cita-cita kita sudah tercapai. Sama dan sebangun kalau Soetomo cita- citanya hanya bikin Boedi Oetomo atau Soekarno hanya bikin PNI, Hatta bikin Perhimpunan Indonesia.

Dan barangkali kerjaan kita sebenarnya menjadi gampang saja. Kirim proposal, buat paket-paket lalu sebar sembarangan. Hasrat para pemuja logo perusahaan mudah dipenuhi: logo ada di semua tempat. Salah satu paket inovatif yang bisa dijual memang mengharuskan kita kalau berfoto harus tersenyum agar tampak jelas logo di salah satu gigi kita.

Cita-cita Indonesia Mengajar adalah menggerakkan orang-orang untuk ikut serta dalam gerak kemajuan pendidikan. Kita bahkan tidak menyebut bahwa organisasi IM harus besar tetapi gerakan ini harus menular.

Belajar dari pengalaman masa lalu, karena itu yang penting ditularkan bukan cuma soal pentingnya ikut serta dalam kegiatan pendidikan tetapi juga soal bagaimana mengelola gerakan dengan baik, termasuk bagaimana menggalang dan mengelola pendanaan dengan baik. Organisasi pergerakan tumbuh subur bukan semata-mata karena cita-cita soal kebangsaan yang menular –ingat, konsep negara bangsa juga baru tumbuh seiring pergerakan nasional– tetapi juga karena praktek-praktek terbaik dalam pengelolaan organisasi dan pendanaan juga tumbuh.

Hebatnya yang kemudian terakumulasi bukan soal sistem pendanaan yang keren tetapi budaya organisasi yang akuntabel dan amanah. Sistem pencatatan barangkali bisa saja sederhana tetapi para pejuang selalu membentuk kepercayaan publik pada apa yang mereka kerjakan dan mewariskan kepercayaan itu menjadi akumulasi kepercayaan satu sama lain yang belakangan hari kita panen di masa revolusi kemerdekaan.

Karena itu di masa perang kemerdekaan, orang secara mudah menyumbang pada para pejuang tak dikenal sekalipun karena dunia yang melingkupi mereka adalah kepercayaan. Orang bisa seketika membantu sesama tanpa harus ada proposal. Sebagian menyumbang emas, rumah atau sekedar makan minum seadanya. Masa ini barangkali bagi Indonesia adalah masa tersulit menemukan pencuri uang publik.

Lalu apakah kita tidak iri dengan masa lalu seperti itu? Apakah kita tidak iri membayangkan bahwa di mana-mana inisiatif sosial bisa tumbuh tanpa kerepotan serius soal penggalangan dana. Orang-orang terlalu mudah ikut membantu karena — tentu sistem pengelolaan dana harus pula dibangun secanggih mungkin– dunia yang melingkupi kita adalah kepercayaan. Kita sedemikian iri sampai ingin memiliki masa di mana menjadi aneh kalau kita berprasangka buruk pada anak-anak muda atau pekerja sosial yang sedang menggalang dana bagi inisiatif mereka.

Halooooowww, mereka itu bisa jadi Soetomo, Soekarno dan Hatta di masa depan.

***

Hari-hari ini tantangan pengelolaan pendanaan di kalangan masyarakat sipil memang rumit. Sebagian LSM –salah satu wujud organisasi masyarakat sipil– kita masih mengandalkan donor asing. Banyak studi sudah membahas mengenai kapasitas organisasi masyarakat sipil dalam hal pendanaan. Rustam Ibrahim, seperti dikutip dalam laporan Bappenas (2010) menemukan fakta bahwa LSM kita mengandalkan sumber bantuan luar negeri yang besarnya mencapai 65%, sementara 35% sisanya didapat dari berbagai sumber dalam negeri.

Di sisi lain potensi masyarakat untuk terlibat dalam inisiatif sosial sebenarnya cukup besar. Anggap saja potensi keterlibatan itu diukur dari kesertaan masyarakat dalam organisasi sosial maka data menunjukkan derajat keterlibatan yang tinggi. Studi YAPPIKA dalam laporan Bappenas yang sama mencatat bahwa lebih dari separuh warga negara Indonesia pernah menjadi anggota organisasi masyarakat sipil dan satu dari tiga orang Indonesia pernah menjadi anggota lebih dari satu organisasi.

Bagaimana dari sisi filantropi sosialnya? Survei PIRAC dalam laporan yang sama menunjukkan bahwa tingkat kedermawanan (rate of giving) masyarakat sangat tinggi, yakni 99,6%. Artinya hampir seluruh masyarakat yang menjadi responden memberi sumbangan dalam setahun terakhir. Studi yang sama melaporkan bahwa potensi sumbangan masyarakat Indonesia lebih dari Rp. 12,3 trilyun per tahun dan baru sekitar 10% yang berhasil digalang oleh lembaga-lembaga di Indonesia.

Studi Charities Aid Foundation pada 2005 menggambarkan angka benchmark rasio besaran filantropi terhadap PDB di berbagai negara. Sebagai pembanding, besaran charitable giving terhadap PDB di Amerika Serikat, misalnya, tercatat 1,7%. Sedangkan di Inggris 0,73%. Bila GDP Indonesia sebutlah 8.200 triliun rupiah maka dengan asumsi rasio 1% maka potensi filantropi di negeri kita besarnya 82 triliun rupiah.

Jadi potensi ada. Tantangan pengelolaan juga ada, rumit dan menantang.

Dan hal seperti inilah yang disukai Indonesia Mengajar. Maka sejak Agustus 2012, kita mengembangkan skema donasi publik. Awalnya tertatih-tatih namun tetap tumbuh. Pada awalnya jumlah donaturnya hanya 200an orang dan sekarang sudah hampir 500 orang. Sistem digital juga akhirnya terbangun dengan rapi dan terakhir dilengkapi fitur virtual account. Sistem digital yang dikembangkan ini terhubung dengan basis data komunitas IM yang sudah mencapai 98.000 nama dan 12.000 di antaranya adalah relawan aktif. Sistem donasi IM mampu memfasilitasi sumbangan dari berbagai model transaksi, dari kartu kredit sampai transfer ke rekening virtual account unik untuk setiap donatur. Dan setiap donatur atau relawan memiliki akun personal yang di dalamnya tercatat donasi dia sejak awal sampai sekarang.

Dengan perkembangan itu pula komunitas dikelola. Mereka yang menjadi donatur perorangan itu bergabung dalam Korps Donatur Publik yang aktif juga dalam kegiatan IM lain sekaligus khususnya juga dalam menggalang donatur lainnya. Para anggotanya aktif ikut mengembangkan sistem ini agar handal dan transparan, termasuk usulan implementasi fitur virtual account merupakan rekomendasi dari mereka.

Terakhir, inovasi IM adalah mengembangkan skema donatur institusi yang memfasilitasi jumlah donasi yang lebih kecil dari nilai sponsor IM umumnya. Donasi ini memfasilitasi sumbangan dengan nilai 2-10 juta perbulan dan menyasar perusahaan skala kecil dan menengah yang merupakan porsi terbesar unit usaha di Indonesia.

Dalam perspektif keuangan, kehendak untuk terus mengembangkan pilar-pilar publik dalam pendanaan IM juga untuk mengantisipasi agar IM tidak tergantung pada melulu sponsor-sponsor besar. Dana besar memerlukan perlakuan tertentu yang
memakan waktu apalagi bila ada ketentuan komersial khusus yang diperlukan. Pilar harus banyak sehingga topangan jadi lebih kokoh.

***

Maka wajarlah bila IM selalu ngotot untuk terus mengembangkan pendanaan berbasis publik.

Selalu menyenangkan menyaksikan bahwa ternyata ada banyak orang baik terus bekerja di muka bumi Indonesia. Sebagian jadi guru, kepala sekolah atau kepala desa yang sungguh-sungguh keren serta tulus berbakti. Sama senangnya ketika kita mensyukuri perjalanan panjang para Pengajar Muda di daerah serta para relawan lain di Jakarta atau tempat lain dalam berbagai inisiatif IM.

Kita bisa kok menjadi bangsa beradab dan terhormat seperti para pendahulu kita. Kita bisa mengorganisir kerjaan-kerjaan publik yang betapapun negara (dan pemerintah) itu efektif, tetap saja ada urusan yang harus dikerjakan masyarakat, seperti yang dikerjakan melalui Kelas Inspirasi, Indonesia Menyala, FGIM, Ruang Belajar dan banyak lagi. Kita bisa kok mengelola pengiriman guru tanpa berdebat lebih panjang sementara anak-anak di luar sana tidak bisa berhenti tumbuh. Dan kita bisa kok mengelola berbagai inisiatif dengan iuran dan kerja bakti bersama.

Di atas semua kekaguman dan penghormatan kita pada para pendahulu kita, menyaksikan perjalanan 4 tahun terakhir gerakan ini, saya rasa kita gak jelek-jelek amat. Kita sudah mulai sesuatu yang kecil dan menjaganya besar tetap dengan
amanah.

Berbagai berita memang menggambarkan bahwa di luar sana masih saja ditemukan korupsi yang menyebalkan. Kadangkala kita bisa jadi pesimis bahwa bangsa bisa runtuh kalau semua orang mencuri. Dan lebih menyebalkan karena ini seperti penghinaan bahwa bangsa kita bahkan tidak bisa membersihkan dirinya sendiri.

Maka bagi Indonesia Mengajar, pendanaan publik pastilah bukan melulu soal duitnya. IM harus terus mengembangkannya dengan berbagai inovasi dan semoga bisa menular ke tempat-tempat lainnya. Inisiatif-inisiatif lain bisa tumbuh ketika pendekatan penggalangan dana baru dicoba efektif senyampang kepercayaan masyarakat bisa ditumbuhkan.

Di atas semua kesulitan, kita hanya harus ngotot bahwa dunia penuh kepercayaan yang diwariskan para pendahulu itu bisa dipulihkan. Karena hanya dengan itulah negara ini dirintis, dibangun dan didirikan.

Galuh, 6 Juni 2014