Mengapa Indonesia Mengajar Ngotot Mengembangkan Konsep Pendanaan Berbasis Publik?

Oleh: Hikmat Hardono 

Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Mengajar

Saudara-saudara,
dalam musim pidato-pidato ini, maka inilah pidato saya.

Setelah perjanjian Renville, Belanda gembira dengan hasilnya karena mereka berhasil memojokkan negara baru ini sehingga dugaan mereka– bakal gagal menaati isi perjanjian itu. Dan bila gagal maka itu akan membuktikan premis Belanda bahwa  tidak ada negara RI, tidak ada tentara. Yang ada hanyalah gerombolan, sebagian sok  diplomatis, sebagian lagi ngaku tentara.

Salah satu isi perjanjian itu mengharuskan 30 ribu orang harus pindah dari Jawa  Barat dalam tempo 2 minggu ke wilayah Republik, yaitu praktis hanya sebagian Jawa  Tengah dan Jawa Timur. Dan itu terjadi di tahun 1948.

Hebatnya itu berhasil. 30 ribu orang. Tentara dengan persenjataan. 2 minggu.  Ratusan kilometer. Tahun 1948.

Tentara itu namanya Divisi Siliwangi.

Setelah 10 bulan di perantauan, ketika sudah mulai menetap dan disusul oleh  keluarga mereka, datang perintah baru: kembali ke basis perjuangan. Lalu mereka, sebagian bersama keluarganya, melakukan longmarch –jalan kaki, Bro —dari daerah Republik di Jogja dan Solo sekitarnya kembali ke Jawa Barat untuk bersiap kembali berperang karena adanya agresi Belanda yang kedua.

Salah satu kerumitan yang tidak pernah habis saya kagumi adalah pengelolaan logistiknya. Bagaimana uang didapat, bagaimana mengirimkan uangnya, mengelola logistik dan perbekalan serta aspek pengorganisasian lainnya yang pastilah rumit dengan alat komunikasi yang terbatas. Bagaimana ya bentuk slip pembelian bensin untuk truk pengangkut senapan, bagaimana mencairkan dana untuk pembelian makanan tentara atau sekedar bagaimana cara mengirimkan uang dari para bendahara Republik ini untuk dikirim ke para pengelola lapangan?

Hebatnya itu ada di mana-mana. Ini terjadi bukan hanya dalam fenomena Siliwangi di atas. Upaya menggalang dana dilakukan di mana-mana. Ada yang iuran dengan harta bendanya, ada yang menyelundupkan hasil bumi untuk ditukar senjata. Ada pula yang menyumbang seadanya: tempat untuk tidur atau berbagi makanan yang sedikit.

Dan ketika uang didapat, ia disebar dan dikirimkan dengan cepat dan sederhana. Saya pasti bodoh bila percaya bahwa saat itu uang diserahterimakan dengan dokumen berangkap 5 dengan meterai secukupnya. Tidak ada yang mencuri, tidak ada yang mengambil untuk dirinya. Agak sulit membuktikan dan mengukur soal ini tetapi toh buktinya uangnya cukup. Cukup untuk memenangkan Indonesia.

Sebagian sumberdaya non-uang malah dikumpulkan dan dikirimkan dengan berbagai cara. Senjata dibeli dan diselundupkan dengan kapal atau pesawat menerobos pengawasan Belanda. Makanan? Minum? Rumah? Terlalu banyak untuk diceritakan sumbangan orang-orang tentang ini pada perjuangan kala itu.

Semua ini merupakan kegiatan yang sangat kompleks, rumit. Dalam pengelolaan keuangan, ada rumus sederhana: sistem kontrol yang handal diperlukan dalam budaya kepercayaan yang rendah. Dan ketika sistem pengendalian keuangan dalam revolusi kemerdekaan itu sangat sederhana sebenarnya menggambarkan hal esensial: bahwa bangunan kepercayaan di antara seluruh elemen organisasi sangatlah kokoh. Ketika yang dibicarakan adalah organisasi negara-bangsa, artinya lembaga-lembaga negara serta masyarakatnya sama-sama kokoh kepercayaannya satu sama lain; dan sama-sama dapat dipercaya dalam memegang amanah uang.

Pengorganisasian rumit pastilah memerlukan kepercayaan. Tanpa itu, pengorganisasian jadi lebih rumit karena kesibukan kita untuk mencegah kekacauan keuangan sekaligus upaya eksesif untuk meyakinkan warga untuk ikut menyumbang. Bayangkan kerumitan lanjutannya: pejuang kita terlalu sibuk membuat laporan penggunaan peluru daripada pertembakan itu sendiri. Atau para diplomat sibuk untuk menyusun slip tiket dan boarding-pass ketika berkunjung meyakinkan negara lain untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Atau para staf pemerintahan baru itu terlalu sibuk membuat company profile dan proposal yang akan disebarkan pada calon penyumbang daripada bekerja untuk menyebarkan cita-cita kemerdekaan kita.

Dan ketika Belanda benar-benar mengakui kedaulatan kita pada 1949 maka – setidaknya bagi saya—ini adalah salah satu puncak pencapaian hebat para pendahulu kita. Dimulai sejak 1908, Dr Wahidin yang mengamen –  istilahnya mbarang jantur—berkeliling Jawa untuk berjualan ide dan keyakinannya yang kemudian bersinggungan dan diwujudkan oleh Dr Soetomo dan kawan- kawannya dengan Boedi Oetomo; sampai di ujung revolusi kemerdekaan di tahun itu sebenarnya menggambarkan betapa besarnya pekerjaan raksasa yang bisa diwujudkan para pendahulu kita.

Maka saya tidak sedang pidato mengajak kalian untuk mengalahkan Belanda. Saya hanya iri bahwa para pendahulu kita bisa mengerjakan hal-hal raksasa di masa lalu. Saya hanya ingin mengajak kalian merasakan kembali kehebatan bangsa kita, membuat hal-hal raksasa yang hari ini tampaknya tidak mungkin.

Tentu kita bisa mengurai berbagai macam pelajaran dari cerita di atas. Tetapi saya selalu suka mengulang-ulang kalimat ini pada diri sendiri: dulu kita pernah jadi bangsa sehebat ini dalam pengorganisasian. Negara baru, pemimpin sipil baru, tentara baru. Kita pasti bisa sehebat itu kembali.

***

Kalau Indonesia Mengajar nih cuma ingin jadi lembaga pengirim guru atau jadi LSM biasa maka cita-cita kita sudah tercapai. Sama dan sebangun kalau Soetomo cita- citanya hanya bikin Boedi Oetomo atau Soekarno hanya bikin PNI, Hatta bikin Perhimpunan Indonesia.

Dan barangkali kerjaan kita sebenarnya menjadi gampang saja. Kirim proposal, buat paket-paket lalu sebar sembarangan. Hasrat para pemuja logo perusahaan mudah dipenuhi: logo ada di semua tempat. Salah satu paket inovatif yang bisa dijual memang mengharuskan kita kalau berfoto harus tersenyum agar tampak jelas logo di salah satu gigi kita.

Cita-cita Indonesia Mengajar adalah menggerakkan orang-orang untuk ikut serta dalam gerak kemajuan pendidikan. Kita bahkan tidak menyebut bahwa organisasi IM harus besar tetapi gerakan ini harus menular.

Belajar dari pengalaman masa lalu, karena itu yang penting ditularkan bukan cuma soal pentingnya ikut serta dalam kegiatan pendidikan tetapi juga soal bagaimana mengelola gerakan dengan baik, termasuk bagaimana menggalang dan mengelola pendanaan dengan baik. Organisasi pergerakan tumbuh subur bukan semata-mata karena cita-cita soal kebangsaan yang menular –ingat, konsep negara bangsa juga baru tumbuh seiring pergerakan nasional– tetapi juga karena praktek-praktek terbaik dalam pengelolaan organisasi dan pendanaan juga tumbuh.

Hebatnya yang kemudian terakumulasi bukan soal sistem pendanaan yang keren tetapi budaya organisasi yang akuntabel dan amanah. Sistem pencatatan barangkali bisa saja sederhana tetapi para pejuang selalu membentuk kepercayaan publik pada apa yang mereka kerjakan dan mewariskan kepercayaan itu menjadi akumulasi kepercayaan satu sama lain yang belakangan hari kita panen di masa revolusi kemerdekaan.

Karena itu di masa perang kemerdekaan, orang secara mudah menyumbang pada para pejuang tak dikenal sekalipun karena dunia yang melingkupi mereka adalah kepercayaan. Orang bisa seketika membantu sesama tanpa harus ada proposal. Sebagian menyumbang emas, rumah atau sekedar makan minum seadanya. Masa ini barangkali bagi Indonesia adalah masa tersulit menemukan pencuri uang publik.

Lalu apakah kita tidak iri dengan masa lalu seperti itu? Apakah kita tidak iri membayangkan bahwa di mana-mana inisiatif sosial bisa tumbuh tanpa kerepotan serius soal penggalangan dana. Orang-orang terlalu mudah ikut membantu karena — tentu sistem pengelolaan dana harus pula dibangun secanggih mungkin– dunia yang melingkupi kita adalah kepercayaan. Kita sedemikian iri sampai ingin memiliki masa di mana menjadi aneh kalau kita berprasangka buruk pada anak-anak muda atau pekerja sosial yang sedang menggalang dana bagi inisiatif mereka.

Halooooowww, mereka itu bisa jadi Soetomo, Soekarno dan Hatta di masa depan.

***

Hari-hari ini tantangan pengelolaan pendanaan di kalangan masyarakat sipil memang rumit. Sebagian LSM –salah satu wujud organisasi masyarakat sipil– kita masih mengandalkan donor asing. Banyak studi sudah membahas mengenai kapasitas organisasi masyarakat sipil dalam hal pendanaan. Rustam Ibrahim, seperti dikutip dalam laporan Bappenas (2010) menemukan fakta bahwa LSM kita mengandalkan sumber bantuan luar negeri yang besarnya mencapai 65%, sementara 35% sisanya didapat dari berbagai sumber dalam negeri.

Di sisi lain potensi masyarakat untuk terlibat dalam inisiatif sosial sebenarnya cukup besar. Anggap saja potensi keterlibatan itu diukur dari kesertaan masyarakat dalam organisasi sosial maka data menunjukkan derajat keterlibatan yang tinggi. Studi YAPPIKA dalam laporan Bappenas yang sama mencatat bahwa lebih dari separuh warga negara Indonesia pernah menjadi anggota organisasi masyarakat sipil dan satu dari tiga orang Indonesia pernah menjadi anggota lebih dari satu organisasi.

Bagaimana dari sisi filantropi sosialnya? Survei PIRAC dalam laporan yang sama menunjukkan bahwa tingkat kedermawanan (rate of giving) masyarakat sangat tinggi, yakni 99,6%. Artinya hampir seluruh masyarakat yang menjadi responden memberi sumbangan dalam setahun terakhir. Studi yang sama melaporkan bahwa potensi sumbangan masyarakat Indonesia lebih dari Rp. 12,3 trilyun per tahun dan baru sekitar 10% yang berhasil digalang oleh lembaga-lembaga di Indonesia.

Studi Charities Aid Foundation pada 2005 menggambarkan angka benchmark rasio besaran filantropi terhadap PDB di berbagai negara. Sebagai pembanding, besaran charitable giving terhadap PDB di Amerika Serikat, misalnya, tercatat 1,7%. Sedangkan di Inggris 0,73%. Bila GDP Indonesia sebutlah 8.200 triliun rupiah maka dengan asumsi rasio 1% maka potensi filantropi di negeri kita besarnya 82 triliun rupiah.

Jadi potensi ada. Tantangan pengelolaan juga ada, rumit dan menantang.

Dan hal seperti inilah yang disukai Indonesia Mengajar. Maka sejak Agustus 2012, kita mengembangkan skema donasi publik. Awalnya tertatih-tatih namun tetap tumbuh. Pada awalnya jumlah donaturnya hanya 200an orang dan sekarang sudah hampir 500 orang. Sistem digital juga akhirnya terbangun dengan rapi dan terakhir dilengkapi fitur virtual account. Sistem digital yang dikembangkan ini terhubung dengan basis data komunitas IM yang sudah mencapai 98.000 nama dan 12.000 di antaranya adalah relawan aktif. Sistem donasi IM mampu memfasilitasi sumbangan dari berbagai model transaksi, dari kartu kredit sampai transfer ke rekening virtual account unik untuk setiap donatur. Dan setiap donatur atau relawan memiliki akun personal yang di dalamnya tercatat donasi dia sejak awal sampai sekarang.

Dengan perkembangan itu pula komunitas dikelola. Mereka yang menjadi donatur perorangan itu bergabung dalam Korps Donatur Publik yang aktif juga dalam kegiatan IM lain sekaligus khususnya juga dalam menggalang donatur lainnya. Para anggotanya aktif ikut mengembangkan sistem ini agar handal dan transparan, termasuk usulan implementasi fitur virtual account merupakan rekomendasi dari mereka.

Terakhir, inovasi IM adalah mengembangkan skema donatur institusi yang memfasilitasi jumlah donasi yang lebih kecil dari nilai sponsor IM umumnya. Donasi ini memfasilitasi sumbangan dengan nilai 2-10 juta perbulan dan menyasar perusahaan skala kecil dan menengah yang merupakan porsi terbesar unit usaha di Indonesia.

Dalam perspektif keuangan, kehendak untuk terus mengembangkan pilar-pilar publik dalam pendanaan IM juga untuk mengantisipasi agar IM tidak tergantung pada melulu sponsor-sponsor besar. Dana besar memerlukan perlakuan tertentu yang
memakan waktu apalagi bila ada ketentuan komersial khusus yang diperlukan. Pilar harus banyak sehingga topangan jadi lebih kokoh.

***

Maka wajarlah bila IM selalu ngotot untuk terus mengembangkan pendanaan berbasis publik.

Selalu menyenangkan menyaksikan bahwa ternyata ada banyak orang baik terus bekerja di muka bumi Indonesia. Sebagian jadi guru, kepala sekolah atau kepala desa yang sungguh-sungguh keren serta tulus berbakti. Sama senangnya ketika kita mensyukuri perjalanan panjang para Pengajar Muda di daerah serta para relawan lain di Jakarta atau tempat lain dalam berbagai inisiatif IM.

Kita bisa kok menjadi bangsa beradab dan terhormat seperti para pendahulu kita. Kita bisa mengorganisir kerjaan-kerjaan publik yang betapapun negara (dan pemerintah) itu efektif, tetap saja ada urusan yang harus dikerjakan masyarakat, seperti yang dikerjakan melalui Kelas Inspirasi, Indonesia Menyala, FGIM, Ruang Belajar dan banyak lagi. Kita bisa kok mengelola pengiriman guru tanpa berdebat lebih panjang sementara anak-anak di luar sana tidak bisa berhenti tumbuh. Dan kita bisa kok mengelola berbagai inisiatif dengan iuran dan kerja bakti bersama.

Di atas semua kekaguman dan penghormatan kita pada para pendahulu kita, menyaksikan perjalanan 4 tahun terakhir gerakan ini, saya rasa kita gak jelek-jelek amat. Kita sudah mulai sesuatu yang kecil dan menjaganya besar tetap dengan
amanah.

Berbagai berita memang menggambarkan bahwa di luar sana masih saja ditemukan korupsi yang menyebalkan. Kadangkala kita bisa jadi pesimis bahwa bangsa bisa runtuh kalau semua orang mencuri. Dan lebih menyebalkan karena ini seperti penghinaan bahwa bangsa kita bahkan tidak bisa membersihkan dirinya sendiri.

Maka bagi Indonesia Mengajar, pendanaan publik pastilah bukan melulu soal duitnya. IM harus terus mengembangkannya dengan berbagai inovasi dan semoga bisa menular ke tempat-tempat lainnya. Inisiatif-inisiatif lain bisa tumbuh ketika pendekatan penggalangan dana baru dicoba efektif senyampang kepercayaan masyarakat bisa ditumbuhkan.

Di atas semua kesulitan, kita hanya harus ngotot bahwa dunia penuh kepercayaan yang diwariskan para pendahulu itu bisa dipulihkan. Karena hanya dengan itulah negara ini dirintis, dibangun dan didirikan.

Galuh, 6 Juni 2014

“Kapan Menikah?”

Salah waktu ulangan itu konsekuensinya paling kamu tanggung seminggu saja, berikutnya bisa belajar lagi. Tapi salah memilih suami atau istri, akibatnya kamu tanggung seumur hidup, jadi pikirkan baik-baik.

Begitu nasehat yang diberikan Bapak tentang pernikahan. Dalam hukum gereja Katolik, pernikahan bersifat monogam tak terceraikan, satu pasangan hidup untuk selamanya, jika mau dikaitkan secara agama. Tapi ini bukan soal agama, ini soal menjatuhkan pilihan untuk membagi sisa hidup dengan satu orang yang sama sepanjang hayat.

“Kamu kapan menikah? Sudah umur segini, lho.”

Banyak yang menanyakan hal ini. Hidup di Indonesia dengan norma sosial tidak tertulis bahwa wanita biasanya menikah di usia relatif muda membuat saya banyak sekali disebut telat menikah. Pertanyaan kapan menikah itu selalu ada, hampir setiap minggu, apalagi jika sedang menghadiri resepsi pernikahan atau acara keluarga. Sudah 1001 jawaban saya keluarkan, mulai dari belum lulus kuliah (waktu belum lulus), belum bekerja (waktu masih nganggur), hingga senyum simpul sambil melirik kanan kiri. I have found that every answer I gave satisfy no one. Sepertinya mereka yang bertanya itu baru puas kalau saya menikah. Jadi sepanjang saya belum menikah, pertanyaan itu akan terus menerus diajukan. Kenyataan yang saya terima dengan lapang dada (well, I will say the question doesn’t bother me anymore).

Seorang teman dekat berkata, “Ya kamu bisa santai aja belum nikah karena banyak temanmu yang belum, rekan kerjamu juga banyak yang single.” Ini memang faktor yang mempengaruhi sikap santai saya tentang pernikahan. Tapi faktor ini bukan faktor yang sangat mempengaruhi saya. Sudah sejak lama saya menyeting (halah) pikiran saya, think of relevant things, think about people who matter. Alasan santai saya yang terutama adalah karena orangtua yang saya banggakan dan cintai sama sekali tidak pernah memaksa atau menyegerakan saya untuk menikah. That’s it. 

Pernikahan bukan hanya penyatuan dua orang, juga penyatuan dua keluarga dan in extension, dua komunitas di sekitar pasangan ini. Tak hanya soal kuatnya cinta, menikah juga soal ekonomi. Getting married is a huge leap of faith. Percaya bahwa satu sama lain akan bisa membahagiakan dan bersama mengarungi segala masalah sepanjang hidup. Saya sama sekali tidak sinis mengenai pernikahan, justru sebaliknya, saya mengagumi mereka yang berani mengambil keputusan untuk menikah, apalagi di usia muda. Does that mean I am afraid of getting married? Di satu titik, iya. Di sisi lain, saya memang tidak mau memaksakan diri untuk menikah, apapun alasannya: umur, sudah pacaran lama, dan sebagainya. Siapa yang bisa memperkirakan akan jatuh cinta dengan siapa, dan siapa yang bisa memperkirakan kapan pacar melamar? Sometimes even the timing is not right, even though s/he is the right one. 

Banyak pula yang menyodorkan alasan bahwa sebagai wanita, saya sebaiknya menikah sebelum usia 30 karena setelah itu wanita rentan ketika mengandung dan melahirkan. Saya bisa mengerti alasan ini. Hanya saja, bukankah saya lebih tidak bertanggungjawab sebagai seorang ibu, sebagai orangtua, ketika saya memaksakan menikah sebelum waktunya? Apa yang terjadi bila keluarga yang saya bangun tidak bisa menjadi rumah yang nyaman untuk anak saya hanya karena saya buru-buru menikah dengan menjadikan anak sebagai alasan?

No, I will not bow to this reason. 

Jadi iya, kalau ditanya mengapa saya santai-santai saja di usia 27 (hampir 28), sementara sudah banyak tetangga, teman sekolah yang menikah bahkan menimang anak; saya sodorkan jawaban dari Bapak. Jangan menikah karena sudah umurnya, karena yang namanya umur bisa jadi sekedar angka, nasehat Bapak yang lain. Bapak menikah di usia 35, Ibu di usia 19, sebuah kombinasi yang menjadikan saya manusia aneh.

Saya percaya satu hal: segala sesuatu akan menjadi indah pada waktunya. Don’t worry, when I get married, I’ll send you an invitation. 

XOXO,

-C

A Day in London

Why I have to go to the UK?

Because I am a foodie. I am practically a Hobbit, don’t tell anyone. And I want to be a Hobbit in London.

I enjoyed The Lord of The Rings much, both the books and the (super awesome) movies, and I paid attention to little things in them. One of them being: how the Hobbits have 7 meals a day. A foodie like me, relate much to that. So they have: breakfast, second breakfast, elevenses, luncheon, afternoon tea, dinner, supper. Pretty much me in real life (yes, I do have breakfast twice!).

And since I am a curious little cat, I did my research (Googling is called research, people) and I found out that in the UK, apart from the famous afternoon tea, low tea, high tea (whatever you people prefer to call it), there is REAL elevenses/elevensies, which is a custom to eat light snacks at 11-ish.

WOW!

Can I be annoyingly excited now?

So people, I have to go to the UK so I can enjoy a day (errr, every day sounds better) in London like this:

06.30: Wake up to London’s damp air, spend 15 minutes strolling around with umbrella in one hand. Every one knows how moody London’s weather is.

07.00: Having a full breakfast, washed down with a cup of strong black coffee. Julian Barnes (have you read his book, The Sense of an Ending?) said this, “Britain is a land of embarrassment and breakfast.” So yes, I must have my breakfast the way Britons have it: a plate full of bacon, fried egg, sausages, fried bread, and baked beans. Oh, I forgot mushrooms.

When I feel that I still have some space in my stomach, I will opt for eggs Benedict. I know it is an American tradition, but they put the eggs on English muffin, so I’ll say yes.

07.30 – 09.00: Walk around the city (or whatever Londoners do in the morning, except working, okay?)

09.00: Isn’t the time for my second breakfast? I already had my breakfast, so now I will pick something light. Did I mention about muffin before? Yes. At first it sounded silly to me, when a friend mentioned that muffin and English muffin are two different things. The first refers to cupcakes, and the second is a kind of round, flat bread served toasted and buttered. I’ll walk into a bakery, bravely say, “I want to buy some English muffins!” and maybe the waitress will laugh at me for ordering so. She’ll know I am a visitor, and I hope that she’ll talk to me a lot about muffin, the real English muffin. A good conversation is always exhilarating, isn’t it? Food for the body, food for the soul.

And I’ll have the photo op of me and the English muffin, in London, in the UK! (couldn’t be more inception-able than that)

09.30 – 11.00: Literature review, as known as going to The British Library and read everything there. They have 14 million books, for God’s sake. I’ll pick Wuthering Heights to bring home.

11.00: Time for elevenses! Great. I can’t wait for this. I mean, it is a real British tradition. It is an answer to my foodie cravings. You do know that Winnie the Pooh also has elevenses, right? He loves bread with honey for elevenses. Now if we were to dwell into children’s literature, I would refer Paddington Bear for elevenses option. He would go to Mr. Gruber’s Portobello Road antiques shop and had some cocoa and buns. There is an actual Portobello Road in west London, and it is my place of choice to enjoy my elevenses! Perhaps I’ll have cocoa and buns as well.

11.30 – 13.00: Having my ‘silence in the crowd’ moment. It is funny that I love being in the middle of a crowd, alone, and enjoy the ambiance by myself. I bring the book I borrow from The British Library, Wuthering Heights, and I will head to King’s Cross station (looking for a crowd, the station is the right place of all places). Sit down in a corner, read the story, observe people, take picture, then go back to Catherine and Heathcliff.

Splendid.

13.00: What’s for lunch? I have been told that most Britons have ‘packed lunch’, some sandwiches or boxed meal during busy days to save the time. Will I do that? Being a foodie as I am, I’ll surely opt for a beef Wellington. I am more of well-done-steak type foodie, but for a sense of UK, I’ll bow to the convention. I’ll head to a nearby restaurant serving beef Wellington and enjoy my lunch with a pot of Twinning’s chamomile tea.

14.00 – 16.00: Another ‘silence in the crowd’ moment. This time I choose to go to Trafalgar Square with Wuthering Heights in my hand.

16.00: Posh Afternoon Tea. When I was living in Taipei, I observed that afternoon tea places were very popular. In fact, one or two specific afternoon tea places only opened their reservation once a month. ONCE a month, I repeat. So many people wanted to have afternoon tea there, and if you missed the reservation date, you had to wait another month. Crazy, huh? I have to admit I also suffered from the afternoon tea addiction that I frequented a lot of different places to have a cup of tea (of coffee! duh) or a slice of cake (this is an understatement considering I wouldn’t bow to just a slice of cake).

That’s why I have to go to the UK! (how many times I’ve said that already?)

I am crazy about afternoon tea and NOT willing to go to the UK to taste the experience of having afternoon tea in its native country is just wrong, don’t you agree?

A friend of mine, a Briton, told me that I have to check this particular afternoon tea place in London: Orange Pekoe. I thought it was some type of tea, but turned out, after doing some research, Orange Pekoe is a restaurant located near Thames River and well known for its afternoon tea set. “They have this classic deco you wouldn’t be able to resist,” he said. I looked up online, and the picture on their website confirms what my friend explained.

Come on, having an afternoon tea at a place like this? On the side of the Thames?

(picture credit: orangepekoeteas.com)

17.00 – 20.00: Museum visit. Let’s assume it is a Friday, because I know the British Museum opens till late on Friday. So after having my appropriate afternoon tea, I’ll go there and amuse myself. The name is big, but I had no intention of visiting the museum soon before I read an introduction from my favorite Japanese manga (comic book): C.M.B. It is a story about a genius kid with three fathers, three wise men chosen to protect all the valuables in the British Museum. So yeah, I’ll go.

20.00: It is time for supper, or if you prefer, dinner. The fact that I had six meals already doesn’t change another fact that it is time for supper. But where? 

Thames dinner cruise springs to mind, and I should’ve put the question, on where? On a boat cruising Thames river, none other. After seeing so much of London during daylight, now it is time to devour the sparkling city with a 4-course meal with the side of live jazz. It would’ve been perfect with a nice gentleman by my side, but even when I am flying solo, it will be a very nice experience to remember (and I would like to remind you that I’ll be stuffing my face with all those meals, which means I am waaaay more than happy).

There, a perfect day well spent. Can I go to the UK now? Please?

XOXO,

-C

picture043

Aside

Being Different and Happy

Pacar gue die hard fan Manchester United. Gue penggemar Chelsea, suka yang tidak gue kategorikan kemana-mana, apalagi karena alasan awal gue suka Chelsea cuma karena namanya terdengar enak di telinga.

Bokap gue berbakat banget di bidang olahraga, termasuk sepakbola. Sewaktu muda aktif bermain, setelah itu sering menjadi wasit, ya meski cuma pertandingan antar kelurahan atau kecamatan. Karena kesibukannya sebagai wasit itu, gue sering diajak menonton pertandingan sepakbola, dan gue jadi suka sepakbola juga, dulu sesekali bergabung dengan temen-temen cowok kalau mereka bermain. Sempet juga ada wacana, bokap gue mau memasukkan gue ke sekolah wasit (gile ya bokap gue), dengan harapan gue jadi wasit sepakbola cewek yang emang waktu itu belum ada.

Dari itu semua gue mengikuti perkembangan sepakbola liga mayor di beberapa negara. Sewaktu SMP gue termasuk rutin mengikuti Liga Italia, dengan klub favorit Juventus. Liga Inggris gue ikuti dengan ya gitu deh, karena televisi di rumah cuma pake antena, dan stasiun televisi swasta jaman itu hanya menyiarkan pertandingan Liga Italia. Chelsea adalah tim pilihan gue, ya itu tadi, awalnya gue suka namanya. Berawal dari situ gue selalu memberikan perhatian lebih pada Chelsea, karena emang gue tidak bisa dibilang mengikuti dengan religius.

Pacar gue suka MU sejak SD, katanya. Mengikuti semua berita tentang MU dengan antusias. Karena segitu senengnya, dia punya banyak kaos MU entah dari tahun berapa, berbagai warna. Sampai gue sering berkomentar, “Kamu cuma punya kaos MU ya, nggak ada yang lain?” yang selalu dijawabnya dengan celotehan riang tentang betapa dia menggemari klub setan merah itu. Gue selalu suka melihat raut mukanya yang berseri-seri saat menceritakan bagaimana Januzaj bermain bagus atau melihat dia ngomel-ngomel karena Moyes gagal memenuhi harapan penggemar MU. When he shows me his passionate side, I can’t do anything else except staring at him. 

Saat musim pertandingan berlangsung, kegiatan akhir pekannya tentu saja diisi dengan nobar bareng temen-temennya sesama penggemar MU. Tak kurang, dia juga berinisiatif mengawali chapter United Indonesia di daerahnya. Jangan tanya deh, setiap ada jadwal pertandingan, dia selalu sibuk. Ada gathering nasional United Indonesia, jelas dia ikut dengan bersemangat. Tak lupa, dia sering ngompori gue untuk ikut jadi pendukung MU, menawarkan gue untuk jadi Manchunian Angel, kumpulan cewek-cewek penggemar MU.

‘Perselisihan’ karena gue mendukung Chelsea dan dia MU tentu saja ada. He supports MU that much and it means that he ‘bullies’ me a lot about Chelsea. Gue lebih sering bilang, “Bisa nggak sih saling menikmati klub masing-masing tanpa harus menjelek-jelekkan klub lain?”, jawaban yang menurut dia itu artinya gue ngambek. “I do this so we both can enjoy the game. Isn’t it fun, us together watching football?”, dia kemudian menggoda. Gue tersenyum. Itu juga yang gue suka dari dia. Ketika gue dan dia sempat bisa nobar MU-Chelsea dan Chelsea menang, gue bilang, “MU mainnya lumayan, tapi Chelsea lebih bagus,” dia merangkul gue dan berujar, “Iya, Chelsea layak menang.”

Despite our differences, in characters and also our favorite football clubs, we realize that differences are not a reason to argue.

Tentu saja, cita-citanya adalah ‘naik haji’ ke Old Trafford. Dia beberapa kali mengatakan, “Sayang, nanti kita bulan madunya ke Old Trafford ya, dan kamu pake baju MU,” sebuah harapan yang kami berdua tahu belum tentu bisa terwujud bersama (nobody can predict or guarantee the future, right?), dan selalu gue bales dengan, “Boleh, tapi mampir dulu ke Stamford Bridge.”

Gue punya car magnet  dari Inggris yang betuknya seragam sepakbola, oleh-oleh temen gue. Suvenir yang gue simpen baik-baik dengan harapan gue bisa ke UK entah kapan, dan jelas mampir ke Stamford Bridge. One day, when I felt particularly loved, I gave the car magnet to him. I want to make him happy, I want to share him a good faith that one day we can go to UK together. 

Mendengar suara gembiranya di telepon ketika menerima kiriman itu, gue tersenyum simpul. I know it is just to say that we are both eager to go to UK, for the very same reason, but different places to visit.

Dan sekarang, kalau gue punya kesempatan pergi terlebih dahulu, gue pengen ngirim kartupos untuk dia, kebiasaan gue jika bepergian. Dengan perangko Inggris, cap pos Manchester dan Chelsea. Lalu gue akan mengirim pesan di WhatsApp, foto gue di depan Old Trafford dengan baju Chelsea, dan foto gue di depan Stamford Bridge dengan baju MU.

To remind him how we cherish our differences and how we wish that someday we will be there together.

XOXO,

-C

picture039

The Story of My Father’s Wit

I am always proud of my father.

Saya dilahirkan di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Desa yang jauhnya 20 km dari pusat kota kabupaten, desa yang tidak memiliki jaringan telepon, desa yang jam sembilan malam sudah tertidur lelap.

Dari banyak segi, desa ini bukan tempat untuk menggantungkan mimpi.

Ayah menyadari semua itu. Meski terlahir, besar, dan akhirnya bekerja di desa itu, Ayah punya pikiran seluas samudera. Karena Ayah percaya bahwa untuk mengerti, kita harus mengalami, bahwa untuk membuka wawasan, kita harus bepergian, dan bahwa perbedaan dan perubahan itu sebuah keniscayaan. “Kamu harus pergi dari desa ini, pergi melihat dunia, supaya kamu banyak belajar, supaya kamu punya banyak pengalaman, supaya kamu mengerti bahwa perbedaan itu bukanlah sesuatu yang harus dijadikan alasan untuk tidak berkawan,” suatu hari Ayah berujar.

Satu contoh saja.

Ketika sekolah saja belum disadari menjadi sebuah kewajiban di desa tempat tinggal saya, Ayah memaksa saya untuk les bahasa Inggris seminggu dua kali di kota kabupaten ketika saya menginjak kelas 4 SD. Terpaksa, saya memang terpaksa. Siapa yang mau bersusah-susah les bahasa Inggris sepulang sekolah, as if my day at school wasn’t tiring enough. Sayangnya saya tidak punya cukup keberanian untuk menolak, dan Ayah sangat jeli membuat saya mau segera makan sepulang sekolah, ganti baju, naik ke boncengan motor dan berkendara selama empat puluh menit. “Nanti pulangnya boleh mampir ke perpustakaan,” satu kalimat sakti yang tidak pernah tidak berhasil membujuk saya.

Pertama tidak suka, lama-lama saya menikmati belajar bahasa Inggris. And when you start to love learning something, you begin to excel at it. Di kelas les, di SMP, di SMA, hingga kuliah, saya dikenal fasih berbahasa Inggris. Di SMA, saya bisa menjuarai speech competition di Universitas Atmajaya Yogyakarta. Saat kuliah, saya bisa menulis satu artikel penelitian di jurnal internasional. Hingga akhirnya kemampuan berbahasa Inggris itu membawa saya pada persimpangan: Singapura, Taiwan, Australia. I am good at my major, and I speak English very well. When you possess both things, they can take you a long way from home.

Di persimpangan itu, saya termenung. Tanpa visi Ayah yang jauh ke depan, saya tidak akan berada di titik itu. Tanpa kerasnya kehendak Ayah meminta saya les bahasa Inggris sejak lama, hingga kerelaannya mengantar di sela-sela kesibukannya; I wouldn’t make it this far. Ayah sudah tahu sejak lama, bahwa saya akan pergi meninggalkan rumah, meninggalkan desa kecil itu. Saat itu saya menyadari makna di balik perkataan beliau, “Berikan kail, bukan ikan.”

He gave me the exact things I need to go advanced on my own. The skills, the experiences. 

September 2008, saya memutuskan memilih Taiwan. Menghabiskan lima tahun di sana untuk mendapat gelar yang saya inginkan. Di banyak kesempatan, pembimbing disertasi saya mempercayakan banyak tugas ke saya dengan satu alasan sederhana, “Your English is excellent.” Saya bisa ikut konferensi di beberapa negara juga sedikit banyak karena saya bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Menjadi contributing writer di sebuah media online di Taiwan, hingga menjadi master of ceremony untuk sebuah konferensi internasional; semua kesempatan itu datang karena saya bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris dengan baik.

Kail yang diberikan Ayah sudah berhasil membuat saya menjaring ikan yang banyak.

So yes, I am dying to go to England, the very country where the language was born, and I’ll talk to every Briton I meet on the road. When they say that my English is good, good enough for them, I’ll proudly tell them this story, the story of my father’s wit. 

XOXO,

-C

P.S. And with this, I sincerely hope that you, Mister Potato, will grant me my wish.

picture036

I Work At Indonesia Mengajar, I Work For Indonesia

???????????????????????????????

Ketika ditanya saya bekerja di mana dan saya menjawab “Indonesia Mengajar”, ada dua reaksi yang saya dapat. Pertanyaan lanjutan berupa “Apa sih Indonesia Mengajar?” dan “Penempatannya di daerah mana?”.

Pertanyaan pertama tentu diajukan oleh mereka yang belum pernah mendengar mengenai Indonesia Mengajar. Indonesia Mengajar, yang bernama lengkap Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, merupakan sebuah yayasan non-pemerintah yang awalnya merupakan ide dari Anies Baswedan, memiliki visi melunasi janji kemerdekaan dengan mengirimkan anak-anak muda terdidik dan terbaik yang dimiliki bangsa Indonesia untuk mengajar selama satu tahun di berbagai sekolah dasar di pelosok negeri. Anak-anak muda terdidik dan terbaik, karena hanya mereka yang memiliki karakter kepemimpinan dan pengalaman organisasi yang baik yang akan dipilih. Ribuan anak muda mendaftar untuk menjadi Pengajar Muda, sebutan bagi mereka yang terpilih, dan hanya 127 orang yang akan diberangkatkan per tahunnya.

Lihat mereka, calon-calon Pengajar Muda penuh semangat.

Lihat mereka, calon-calon Pengajar Muda penuh semangat.

Selain mengirimkan Pengajar Muda, Indonesia Mengajar yang memiliki kata ‘gerakan’ dalam namanya, memiliki misi untuk menggerakkan sebanyak mungkin orang untuk berperan serta memeratakan pendidikan di Indonesia. Mereka yang tidak bisa menyumbangkan waktu setahun menjadi guru, bisa menyumbang sehari cuti untuk mengajar di SD dalam kegiatan yang dinamakan Kelas Inspirasi. Membagikan cerita sebagai pekerja pada anak-anak, ngapain sih bekerja sebagai chef, banker, hingga menjadi seorang duta besar. Memperjelas gambaran masa depan dan cita-cita mereka, dan jika mungkin, memberikan inspirasi dan ide untuk menjadi apa. Kelas Inspirasi kini tumbuh dan berkembang di berbagai kota: Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Banyuwangi, Polewali Mandar, hingga Mamuju, dengan relawan-relawan yang mengelola Kelas Inspirasi di kota masing-masing. Ini dia yang menjadi nafas Indonesia Mengajar: menggerakkan banyak pihak. Kalau menjadi sebuah MLM, barangkali Pak Anies sekarang sudah tidak perlu bekerja, tinggal ongkang-ongkang menikmati passive income  dan bonus jalan-jalan ke Planet Mars.

Mas Gilang dan Mbak Shahnaz Haque juga ikut Kelas Inspirasi, lho.

Mas Gilang dan Mbak Shahnaz Haque juga ikut Kelas Inspirasi, lho.

Ingin berperan aktif di bidang yang berbeda? Indonesia Mengajar memiliki korps Penyala, juga dikelola relawan, bagi mereka yang ingin menyumbangkan buku-buku. Mengorganisir sumbangan buku untuk dikirim ke SD-SD yang ditempati para Pengajar Muda, hingga mendirikan taman bacaaan di lingkungan tempat tinggal. Tidak ada yang dibayar, semua murni keikhlasan pribadi.

Dan dengan semangat ‘gerakan’, tentu saja Indonesia Mengajar menyambut gembira ketika program mengirimkan Pengajar Muda ke daerah ini diduplikasi dengan cepat oleh banyak institusi. UI Mengajar, Solo Mengajar, hingga gerakan-gerakan lain yang serupa merupakan sebuah pertanda positif: semakin banyak yang peduli dan bergerak untuk peningkatan pendidikan Indonesia.

Pertanyaan kedua jelas berasal dari mereka yang sudah mendengar mengenai Indonesia Mengajar dan program pengiriman Pengajar Muda ke daerah. Citra dan nama Pengajar Muda memang menempel erat pada Indonesia Mengajar, seakan-akan yang namanya bekerja di Indonesia Mengajar selalu identik dengan menjadi Pengajar Muda. Nope. Saya bekerja di Indonesia Mengajar itu benar-benar harfiah: saya bekerja di kantor Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Istilah kerennya: program officer at the back office.

Barangkali banyak yang tidak tahu isinya kantor Indonesia Mengajar. Isi dalam artian orangnya. Siapa yang menyeleksi anak-anak muda hingga akhirnya terpilih sekian dari ribuan yang mendaftar? Siapa yang berkomunikasi dengan pemangku jabatan di daerah untuk berkoordinasi mengenai daerah penempatan Pengajar Muda? Siapa yang menjalin kemitraan dengan berbagai institusi untuk memenuhi pembiayaan program?

Tim di balik layar Indonesia Mengajar adalah orang-orang muda yang juga punya motivasi serupa: berkontribusi untuk gerakan ini. Urusan tetek bengek administrasi, sosialisasi, hingga keberlanjutan program. Saya bergabung di tim ini. Benar-benar bekerja kantoran, yang mungkin terkesan sepele dibandingkan dengan para Pengajar Muda yang menghabiskan setahun di pelosok negeri. Bagi saya, ada sebuah kebahagiaan tersendiri bergabung dengan tim yang saya sebut hebat, kumpulan orang-orang cerdas dan dinamis yang bekerja bersama untuk maju.

???????????????????????????????

I work at Indonesia Mengajar, I work for Indonesia. And I am happy.

XOXO,

-C

Pemimpin yang Memahami

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Semboyan Ki Hadjar Dewantara, yang petikan ketiganya, tut wuri handayani, hingga kini menjadi prinsip pelaksanaan pendidikan Indonesia, tidak hanya bisa diterapkan untuk pendidikan. Semboyan ini sangat pas disandingkan untuk mencari figur pemimpin.

Pemimpin yang di depan memberikan contoh, teladan (ing ngarsa sung tuladha), yang ketika berada di tengah ikut turun tangan dan bekerja keras, menyeimbangkan kerja dan tak hanya memberikan komando (ing madya mangun karsa), dan sosok yang ketika berada di belakang, urun semangat, urun meneguhkan (tut wuri handayani).

Sulitkah mencari pemimpin yang memiliki kualitas seperti ini?

Ada satu faktor penting yang sama untuk mendapatkan pemimpin yang memiliki kualitas tinggi di depan, di tengah, dan di belakang, yaitu figur yang tak hanya mengerti apa yang dihadapi masyarakat yang dipimpinnya, namun juga memahami. Punya hands-on experience, tak hanya menuruti manual.

Jika sudah memiliki pemahaman yang mendalam akan berbagai masalah, seorang pemimpin tentu bisa menunjukkan teladan, bisa ikut andil dalam kerja yang sesungguhnya, juga bisa menyalakan semangat; karena sudah memiliki pengalaman yang mumpuni, tak hanya sekadar berteori.

You’ll never understand what other people have been through untill you see the world from their eyes and walk with their shoes.

Ketika saya SMA, ada program ekstra yang disebut homestay. Selama satu minggu, saya dan teman-teman disebar ke berbagai desa di lereng Gunung Merapi dan Merbabu, dititipkan di rumah penduduk desa di sana. Tujuannya satu saja: supaya kami memahami bagaimana rasanya tinggal di sana. Kami yang kebanyakan datang dari keluarga dengan tingkat ekonomi lebih baik, mana tahu rasanya mandi di sungai?

Saya tinggal di rumah seorang petani cabai di lereng Gunung Merbabu. Rumahnya sederhana, tidak harus mandi di sungai, namun kamar mandinya juga seadanya. Setiap hari saya dan seorang teman pergi ke ladang, membersihkan rumput dan juga memanen cabai (kebetulan sudah saatnya panen). Menjelang sore, pulang. Tidak ada hiburan di rumah, tidak juga televisi. Sudah ada listrik, memang. Dilihat secara penghidupan, penduduk di sana memang tidak ‘kekurangan’. Sebagai petani cabai, sekali panen mereka bisa mendapatkan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Yang kurang dari desa ini adalah infrastruktur sanitasi dan transportasi. Kamar mandi belum dimiliki oleh semua rumah, saluran air juga masih seadanya. Menilik lokasi, desa ini terletak di lereng gunung dengan jalan berbatu yang cukup terjal, bisa dilewati mobil namun harus dengan sopir berpengalaman. Belum bila hujan. Kebanyakan petani cabai tidak bisa langsung menjual cabai mereka ke pasar karena kurangnya sarana transportasi, sehingga mereka menjualnya pada pengepul yang datang secara berkala. Tentu dengan harga yang lebih rendah dibandingkan dengan harga yang bisa mereka dapatkan di pasar.

Lain saya, lain juga dengan teman saya yang lain. Ada yang ditempatkan di desa yang memang penduduknya kekurangan lapangan pekerjaan memadai, ada juga yang listriknya terbatas. Dari homestay ini saya belajar memahami, bahwa tak semua orang seberuntung saya. Bahwa di balik kemegahan kota, ada banyak desa yang masih memerlukan banyak perhatian.

Saya ingat sebuah perbincangan di Twitter, mengenai seorang calon presiden yang menjanjikan memberikan 1 miliar rupiah pada setiap desa di Indonesia per tahunnya. Dari beberapa komentar yang ada, satu yang saya setuju, intinya kurang lebih begini: hanya seseorang yang tidak pernah tinggal di desa yang bisa mengemukakan program seperti itu. Alasannya tentu jelas, tak hanya soal adil atau tidak bagi desa yang memang kondisinya sudah maju dibanding yang masih di pedalaman, juga mengenai sempitnya pola pikir bahwa kebutuhan desa itu bisa disederhanakan dalam bentuk uang. Naif mengatakan bahwa ribuan desa di Indonesia ini memiliki kebutuhan yang sama. Dari pengalaman saya menjalani homestay itu saja, bisa terlihat bahwa satu desa butuh listrik, yang lain butuh akses jalan, yang lain mungkin memerlukan pemimpin yang mengayomi. Yang pertama dan kedua bisa jadi soal biaya, namun yang ketiga?

Karena itu saya percaya seorang pemimpin yang mumpuni haruslah kenyang pengalaman. Tak hanya soal kepemimpinan, melainkan juga pemahaman akan persoalan yang dihadapi masyarakatnya.

Meminjam misi Indonesia Mengajar: “menjadi wahana belajar kepemimpinan bagi anak-anak muda terbaik Indonesia agar tak semata memiliki kompetensi kelas dunia, tetapi juga pemahaman akar rumput”. Kita seringkali lebih mengedepankan prestasi yang gilang gemilang terlihat bersinar di depan mata, tapi melupakan pemahaman akar rumput (grass root understanding). Memahami, dan tak sekedar mengerti. Kompetensi memang penting, namun keterbukaan hati untuk memahami jelas merupakan faktor yang tidak boleh dilupakan. Dari mana pemahaman itu berasal? Dari interaksi langsung, tak hanya membaca. Mau turun tangan, bukan semata beradu pendapat tanpa melihat kenyataan di lapangan.

Saya tentu mensyukuri segala macam kegiatan ekstra yang saya dapat di SMA, tentang bagaimana membuka mata dan hati. Mencoba mengerti dan memahami, tak hanya mendengar dan membaca teori. Itu yang diperlukan calon-calon pemimpin masa depan. Tak hanya berprestasi akademis, namun memiliki pikiran yang terbuka luas. Karenanya saya optimis dengan gerakan-gerakan seperti Indonesia Mengajar, Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM3T) milik Dikti, hingga kompetisi video dokumenter semacam Eagle Awards. Mengapa? Semuanya mengajak anak-anak muda Indonesia untuk turun dari ‘singgasana’ kenyamanan mereka, merengkuh asa bersama dengan mereka yang kehidupannya belum seberuntung penduduk kota.

Dan itulah pemimpin yang kita butuhkan. Ketika tiba saatnya mereka terjun mengolah negeri, mereka tak hanya berbicara tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tak hanya memberi janji, melainkan mencari solusi.

Untuk negeri, ibu pertiwi.

-Citra

Tragedi John Green

1621970_10203449262661110_967843810_n

Yang namanya pengeluaran tak diduga, tentu bisa apa saja. Kalau pengalaman saya, ketika jalan ke mall, toko buku adalah godaan terbesar. Tidak berencana ke sana, namun ketika sampai, pasti ada yang dibawa pulang.

Tragedi untuk dompet.

Begitulah kisah di balik buku The Fault in Our Stars ini. Janjian bertemu teman lama di Central Park (Jakarta, bukan New York), masuk ke Gramedia, dan sialnya di Gramedia CP ini ada bagian buku impor. Kalah melawan godaan, saya mengambil buku karya John Green ini, sedikit mengumpat dalam hati karena harganya yang mencekik kantong, lalu pergi ke kasir.

Lalu menghabiskan dua hari sisanya merampungkan buku ini. Lalu mengakhirinya dengan mengumpat lagi, “John Green, you are a damn good writer.”

Oke, sinopsis singkat. The Fault in Our Stars ditulis berdasarkan sudut pandang Hazel Grace, seorang penderita kanker tiroid yang menyebar ke paru-parunya. Untuk membantu Hazel Grace menghadapi kankernya, Hazel Grace mengikuti sebuah support group bagi para penderita kanker, dan di sana dia bertemu dengan Augustus Waters, juga seorang penderita kanker yang salah satu kakinya harus diamputasi. Dan mereka berdua jatuh cinta. Dan tidak memiliki happy ending. Jadi jangan lupa siapkan tisu kalau Anda mudah tersentuh.

Anyway, lepas dari kisah cintanya, saya mengumpat John Green karena membeberkan sudut pandang lain tentang hidup, lebih spesifik lagi, tentang penderita kanker dan orang-orang di sekelilingnya. Catatannya di halaman awal buku ini pun membuat saya kagum terlalu dini. John Green menegaskan bahwa bukunya ini adalah sebuah karya fiksi, sepenuhnya fiksi, tapi itu tidak berarti kita tidak bisa mengambil nilai dan pelajaran dari dalamnya.

Itu poin pertama. Di antara sekian banyak kisah nyata yang memang menginspirasi, menyentuh, memberikan banyak pelajaran; Green menyodorkan pelajaran yang tak kalah inspiratif lewat sebuah karya fiksi.

Anda mungkin tahu Talia Castellano, gadis cilik berusia 13 tahun penderita neuroblastoma dan pre-leukimia yang berbagi tips mengenai make-up dan kemudian diundang di The Ellen Show. Banyak yang terharu dengan semangatnya, bahwa dengan kondisi kesehatannya yang memprihatinkan, gadis kecil ini tetap berusaha menjalani sisa hidupnya dengan riang, bahkan berbagai hal positif dengan orang-orang di sekelilingnya. Inspiratif? Tentu. Tapi Green justru melihat kebalikannya. Dalam sebuah percakapan antara Augustus dengan Hazel Grace, Augustus juga menyinggung mengenai hidup yang berarti. Hazel Grace waktu itu menjawab, “It’s really mean of you to say that the only lives that matter ara the ones that are lived for something or die for something. That’s a really mean thing to say to me.”

Pernahkah kita menyadari sudut pandang ini? Bahwa mereka yang sakit, yang divonis tinggal memiliki waktu sekian bulan atau tahun, belum tentu bisa melakukan sesuatu seperti Talia; hidup dalam sebuah opini yang menyakitkan, bahwa hidup yang dihabiskan biasa-biasa saja adalah sebuah hidup yang tak berarti. Dobel menyakitkan karena usia mereka yang juga terbatas.

Lalu apa yang dikatakan Augustus tentang mantan kekasihnya yang meninggal karena tumor otak.

“She was… I mean, to be honest, she was a bitch. But you can’t say that, because she had this tumor, and also she’s, I mean, she’s dead. And she had plenty of reason to be unpleasant, you know?”

Poin kedua. Bersikap positif mengenai banyak hal, apalagi yang tidak menyenangkan, memang sebuah kelebihan. Tapi ijinkan saya berbeda pendapat dengan Pak Mario Teguh salam super, bagi saya (dan mungkin bagi Green), being all the way positive is delusional. Bayangkan, seorang pesakitan, tidak punya waktu lama untuk menikmati hidup, selalu dikasihani, mereka memang punya banyak alasan untuk tidak bahagia, alasan untuk tidak berlaku menyenangkan. Tak setiap orang memilih untuk menjadi seorang yang baik dengan kondisi seperti itu. Dan apakah itu salah? Belum tentu.

Poin selanjutnya, about who matters and who don’t. Seberapa sering dalam hidup kita menghabiskan waktu, uang, dan tenaga untuk meninggalkan kesan bagi orang-orang yang kita kenal saja tidak? Kita terlalu sibuk memoles penampilan diri, menonjolkan sesuatu dengan segala upaya, tapi melupakan orang-orang dekat.

Augustus: Sometimes I dream that I’m writing a memoir. A memoir would be just the thing to keep me in the hearts and memories of my adoring public.

Hazel Grace: Why do you need an adoring public when you’ve got me?

Lalu berapa di antara kita yang sadar bahwa penulis dan apa yang ditulisnya berbeda? Novel favorit Hazel Grace, An Imperial Affliction, ditulis oleh seorang Peter Van Houten (yap, diceritakan bahwa Peter ini memang salah satu anggota keluarga Van Houten pemilik pabrik cokelat itu). Ceritanya juga tentang seorang gadis penderita kanker, dan uniknya, ceritanya berhenti di tengah kalimat, bahkan tanpa titik. Hazel Grace yang begitu penasaran dengan inti ceritanya, akhirnya terbang ke Amsterdam untuk menemui Peter dan menanyakan kelanjutannya. Apa yang terjadi? Peter ternyata seseorang yang secara karakter, buruk. Jauh berbeda dengan apa yang dibayangkan dari buku karyanya. Augustus menulis, “Van Houten, I’m a good person but a shitty writer. You’re a shitty person but a good writer.”

How true.

Dan yang terakhir, ceritanya mirip Inception. Bukan dari segi plot, tentu. The Fault in Our Stars lahir karena pengalaman Green dengan anak-anak dan remaja penderita kanker. Dari pengalaman itu, lahir buku ini, yang sudut pandangnya dari Hazel Grace. Di dalam buku ini, ada buku An Imperial Affliction, yang juga mengenai penderita kanker, ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Untungnya di buku dalam buku ini, tidak ada buku lagi.

Kalau di An Imperial Affliction, ceritanya berakhir menggantung (sangat literal), The Fault of Our Starts juga menggantung, implisit. Membuat saya ingin menjadi Hazel Grace kedua, hanya kali ini bukan ke Amsterdam, melainkan ke Indianapolis, menagih cerita lanjutan mengenai Hazel Grace.

Selamat membaca, kalau ada rejeki lebih, beli yang edisi bahasa Inggris ya. Lebih ngena.

XOXO,

-C

The Enchanting Banyuwangi

[this is going to be long, so sit back, grab a cup of coffee]

I didn’t remember how I really had the idea of going to Banyuwangi, but that didn’t matter. My traveling experience mimics the decisions I’ve made in life: I rely a lot on my intuition and rarely think about what happens next. I follow the flow, because that’s how I roll in life.

And so, I bought an economy train ticket to Banyuwangi (IDR 50,000 from Solo, cheap one), spent a 12-hour train ride to the eastern-most regency in Java Island.

Banyuwangi is surely less known than the mighty Bali, but if you happen to go to Bali overland and then by ferry, Ketapang Ferry Harbor is located in Banyuwangi. This regency is often missed by many, even by locals, which I associate with a lot of factors: publicity, facilities, et cetera et cetera. However so, it doesn’t cover the fact that this regency has a lot to offer.

But I’m going to tell you my story, a journey so eye-opening I believe some of you will have the desire to visit Banyuwangi.

I was greeted by a new friend, initially surprised on how I traveled by myself, but then faithfully being my travel companion for five days (thank you, Dimas). I had travel itinerary, which I made very flexible, knowing that I had no previous experience visiting the regency. And so I arrived in the evening, spent the night with dinner and talking about my travel plan, and in the morning, headed to Baluran National Park.

Baluran-F

Baluran National Park

Baluran National Park is actually located in the neighboring Situbondo regency, but it is quite close from Banyuwangi town center where I stayed. It took only 15 mins to reach the gate of the national park, and another 30 mins to cross the forest (rocky road!) to finally arrive at the savanna, called Bekol point. Baluran National Park has been dubbed as “The Mini Africa” or “Africa of Java” due to its similarity with Africa’s dry climate, savanna, and lowland forests. This national park is rich in wildlife, frequent encounter with deer, banteng (ox), a large variety of wild birds, and if you’re lucky: peacocks. From an observation tower you can see the vastness of the savanna with Mount Baluran in the far.

I’ve never seen a savanna before, much less wild deer roaming freely within running distance. I must have looked like a kid enjoying her first trip for this experience. I couldn’t stop smiling seeing the savanna from up high. It was dry season, and most of the grass were you know, dry, but it didn’t make the savanna less pretty. The sky was so blue I could only stare at it, and the breeze, it was soothing. Right on the left side (from where I stood), I could see the coastline. Yes, beach, people!

Apart from the enchanting savanna and its teeming wildlife, Baluran National Park has a 40-km or so coastline with white sand beaches, mangrove forests, also coral reefs.

???????????????????????????????

The idyllic Bama Beach

Then I was excited as hell because the beach (Bama Beach so it is called) was utterly gorgeous! The white sand, the mangroves, the monkeys (beware of your belongings!), everything was perfect. And to top that, it felt like my own beach because a few people were there. Apart from me, there were two foreign tourists with their local guide. That was all.

When I said 40 km coastline, I was not kidding. So you can just walk along the beach as you want, dip you feet in the water. Because it is a national park, please expect to experience ‘beach-forest walking’, as everything seems untouched, lots of wild animals (no, not tigers), tree branches here and there. I didn’t remember how far I walked along the beach to the north (I assume), but then I got a bit scared to go further as no one was there so yeah, at that point I went back to the original point. Forget that I told you I was scared, the beach itself should be your main focus. If I brought my laptop, I would just stay there for hours: writing, looking at ocean, swimming, snorkeling, lounging around, whatever.

Some pictures for you.

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

I was glad that my journey was started with beautiful things.

The next two days was dedicated for the south-side beaches. I went to Sukamade Beach, Pulau Merah (literally: Red Island), and ended the adventure in G-Land.

???????????????????????????????

Sukamade Beach

Sukamade Beach, famous for its location for turtles to lay their eggs is located in Meru Betiri National Park, is located deep in the far end of the jungle and mountains and well, another rocky road. I strongly suggest using motorbike (preferably the dual-sport one because you will cross a river) or 4WD to go there as it will be a rocky trip. I was informed that a truck runs the distance from nearby ‘normal civilization’ to Sukamade but is only available once a day. The sighting for turtles laying their eggs is at night, so spending a night there is advised. I didn’t though. I just walked to the beach and saw the surrounding forests, as well as watched baby turtles newly hatched from the eggs in the turtle farm. Cute little bunnies! (er, I meant turtles)

Phone signal is bad (I will say it is out of range), the lodge is very basic (and I heard there is no electricity after 9 PM), so if you’re going to stay there to see the turtle laying eggs, DON’T COMPLAIN. Enjoy that moment, truly.

Pictures!

??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Now I’ll tell you a secret: there are several (more) beautiful beaches in between Meru Betiri National Park gate entrance and Sukamade Beach.

With  a note: as long as you’re willing to do some jungle waking. Yeah, jungle walking. And of course, it was not “flat”, you know what I mean. Ups and downs.

I immediately gasped when I saw this beach. At first I was a bit skeptical knowing that I needed to walk for 1 km in the jungle to find this beach, but then my doubt quickly disappeared. It is the most beautiful beach I’ve ever seen in my life.

??????????????????????????????? ???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

White sand, old trees, green water, tranquility, solitude. JUST P-E-R-F-E-C-T.

The next destination was catching sunrise at Pulau Merah, a relatively new beach opened for public, known for its iconic small island located just across the beach.

I woke up at 4, eagerly changed my clothes and walked to the beach, 2 minutes away. I imagined this beach is crowded during daytime (of which Dimas also said so), and I was so grateful I decided to spend just the morning here. There were only a few other people, and some local dogs playing in the water. Everything was misty blue. The ocean, the hills far away. There was no sound other than the wave breaking its way to the coast and the dogs barking.

At about 5.15, a blush of colors appeared in the east. The dogs stopped playing and barking, sitting calm looking at the sky. So did I.

??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Spent the rest of the morning sipping coffee.

Four hours later, I arrived at Pos Pancur, in the middle of Alas Purwo National Park. Pos Pancur is the gate to G-Land, a beach more well-known to international surfers. Locals call it Plengkung Beach. This particular beach is a holy places for surfers due to its high surfs and its unique G-contour, making the experience of riding the surfs a bit different (I don’t surf, so I can’t describe it, sorry).

Again, the beach is located inside a national park, so expect to see a lot of monkeys, wild boars, and well, I was lucky to meet the awesome peafowl (male peacock, you know, the one with those pretty tails).

I love the sands, the size of peppercorns, which make your feet drown under when you step on them. Repeat: white peppercorn sands. I love the vast blue sky. I love the fact that I felt like I own the beach. I love the cold water tickling my feet. I love standing on the cliff looking at the horizon. Maybe I’ll love surfing there too, if I am good at it.

??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

You can also catch a sunset there, if you’re willing to stay late. The accommodation in G-Land is priced in US dollars rate, so spare some money. Or, you can bring your own tent and camp there. I went back to town center just before the sunsets because we were about to go to Ijen Crater in the midnight to catch another sunrise.

Ijen Crater is probably more familiar as tourists destination. Famous for its tosca-green crater (high in sulfur that is!), Ijen Crater attracts a lot of visitors, both local and foreign. I came to see the sunrise, and went up at 2 AM from Paltuding, the parking lot. The journey uphill takes about 2 hours with normal walking speed, more if you’re not accustomed to walk. Don’t worry, the path is not that narrow and there are a lot of other people walking with you, so at least you feel safe. It is a mountain, so expect the wind to be strong and the weather to be cold.

When it is time for the sun to rise, hold your breath. The dark blue sky is slowly filled with orange, pink, light blue, and whatever. They blend perfectly and you keep questioning on how Mother Nature is so brilliant.

??????????????????????????????? ???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

My last day was spent at Kalibendo waterfall. It was not that high, but still so pure I love it at the first sight. Walking in the river is necessary to reach the waterfall, and that was fun.

???????????????????????????????

Five days wasn’t enough. I didn’t expect my journey would be this memorable, and I enjoyed every second of it. I’ll be back. I also realized that we (humans) are the culprit of nature’s destruction, as it is evident that those beaches, forests, wildlife; are at their prime condition when civilization hasn’t touched them.

Leave nothing but footprints, take nothing but pictures and garbage.

Happy traveling to Banyuwangi, folks.

XOXO,

-C

I Learned My Lesson

If I am to look at myself, my history, by any accounts, I am not a good person. Yet.

I have my own reason.

Today I heard the news of Nelson Mandela’s death, and I spent five minutes in silence. A great person has finished his journey. He dies, leaving a stone-carved history, his fight to end the long years of injustice to those who were different in South Africa. He lived in solitary confinement for 27 fuckin’ years, for his people.

Being a selfish chick as I am, there were times I couldn’t understand people who would do things like that for other people. What for? Is their life not hard enough and they need to make it harder by helping people?

But I learned my lesson.

Mid 2011, I just finished my duty as the president of Indonesian student association in my university. I was happy, partly relieved, because the task was hard, hard enough to put a lot pressure on myself. Not so long after, a friend asked me to join a pilot team for the establishment of long-distance learning university for Indonesian workers in Taiwan. Pilot team, meaning we had to start from zero, a total zero. I knew it was going to be a social work, regardless the fact the we would have joint operation with an established open university in Indonesia. I was also aware that a lot of hard work, and that included time, was necessary.

I didn’t respond straightaway. I was torn in between myself and others. For your reference, the number of Indonesian workers in Taiwan almost reaches 200K, a large part works as caretaker, and most of them only have high school diploma, some even lower. Indonesian Student Association in Taiwan then had the initiative to provide higher education for them, via the long-distance learning platform.

It is about helping people achieve their dreams. Or at the least, helping people making a way through their hard life to a better one. With higher degree, hopefully they can get better job, make better living.

So noble, isn’t it? It is indeed a noble cause. And I was given a chance to work on it.

I forgot how I finally said yes. Then it all started, we have to worked our ass off to get the words running, build the website, talk to people here and there. We spread the news to Indonesian workers in Taiwan, explained to them how this type of learning is done, how much they need to pay, and so on. We built the website, we contacted people to ensure this establishment was going well. It was a really hard work, it took up a lot of our time and resources. Not to mention we were not paid to do that.

September 13, 2011. After a few months of working things from scratch, Orientation Day for the very first batch of students in Indonesia Open University in Taiwan was finally held. It was opened with a studium generale from the Representative of Republic Indonesia in Taipei, the Head of the Indonesian Economic and Trade Office to Taipei, Mr. Harmen Sembiring. A couple weeks later, a joint-cooperation note was signed in Jakarta, Indonesia. The next month, a memorandum of understanding was also signed by Indonesian Economic and Trade Office to Taipei and the Rector of Indonesia Open University, Prof. Tian Belawati.

Upon seeing ‘this baby’ grows, I took a few notes for myself.

I saw hard work, I saw restless effort from the people studying in the university. We do bear the name ‘university’, but the classrooms are virtual. Since not all the workers can have free time at the same time to study, every lecture was recorded to ensure each and every student can study them anytime. I have heard stories about how the students listened to the lecture while preparing food for the family they worked for, or how they spared extra time while the senior citizen they took care of sleeping. I admire their effort, their fight to make a better future for themselves.

I saw my friends in this team, and so often I felt shame. They had their own duties, they were busy with lab-work, and yet, they continued to work, unpaid, even uncredited at first, because we all share the same belief: helping people brings us happiness. We may be skeptical about politics; about how people looking for name or credit by helping people in a fake way, or about the not so good condition of why so many Indonesians have to seek (menial) jobs abroad; but at the very least, we didn’t condone those things. We decided to take action, no matter how small.

I was happy (I still am), happy to help other people achieve their dreams. I’ve got (almost) nothing financially, I spent many hours working on it, but in return, I found happiness, a bliss. The same gracious feeling Mandela felt for his action, I presume.

There, I learned my lesson. The first batch of students there is now in their fifth semester. Three more, and they will graduate, with a bachelor degree. I am proud, more than words, seeing them succeed, seeing them on their way making a better life .  

I dedicated this post to Nelson Mandela, to my friends in Indonesian Open University in Taiwan, to my fellow Indonesians studying there, and to you all, so you will not hesitate to do some crazy things helping others.

XOXO,

-C

P.S. The picture belongs to Indonesian Open University in Taiwan.