Takashimaya, Singapura.
Andrew berjalan tanpa melepas pandangannya dari ponsel. Tanpa sengaja ia menabrak seorang gadis.
“Ouch!”, gadis itu terjatuh dan isi tas belanjaannya tumpah.
Andrew buru-buru membantu gadis itu bangun dan dengan tidak enak hati langsung minta maaf.
“Duibuqi”, katanya meminta maaf.
Gadis berambut hitam itu mengambil tasnya sambil berkata, “Meiguanxi”.
“Stephanie?”, Andrew terkejut ketika gadis itu akhirnya mendongak dan wajahnya terlihat jelas.
Gadis itu tak kalah terkejutnya. “Andrew? Haojiubuqian”, katanya sambil mengulurkan tangan.
“Benar-benar long time no see ya, Steph. Aku dengar sekarang kamu kuliah di Belanda?”, tanya Andrew sembari membantu Stephanie memungut barang-barang belanjaannya.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. “Begitulah, mama ingin kembali ke Belanda setelah papa meninggal, jadi aku harus menemaninya. Kamu sendiri? Kata Anna kamu sekarang bekerja di perusahaan oil and gas”.
“Iya, sudah empat tahunan. Great job, great salary, hahaha. Lagipula sejak lama aku ingin bekerja di perusahaan itu”, jawab Andrew.
Terdengar melodi Dangerous, singel yang dipopulerkan Akon. Stephanie membuka tasnya dan menjawab panggilan ke telepon genggamnya. “Stephanie”.
Stephanie terlihat mendengarkan, kemudian menjawab,”Okay, I’m back in ten”.
Andrew menyahut, “Kita bisa bertemu lagi, Steph? Lamakah di Singapura?”.
Stephanie tersenyum, “Guess so. I need to go. Sorry, urgent matter. This is my number, call me later okay?”.
Andrew menerima secarik kertas dari Stephanie dan memandang gadis itu pergi melangkah dengan tergesa-gesa menuju stasiun MRT.
Andrew tidak menyangka akan bertemu lagi dengan gadis itu. Sejak Stephanie pindah ke Belanda, Andrew tidak pernah lagi bisa menghubunginya. Tidak dipungkirinya bahwa ia jatuh hati pada gadis itu sejak bertahun-tahun lalu, saat ia pertama kali berbicara dengan Stephanie di lift apartemen.
Tujuh tahun lalu.
Hari itu, Andrew baru saja sampai di bandara Changi. Di sana ia dijemput kakaknya, Ray, yang saat itu kuliah semester akhir di National University of Singapore (NUS). Orangtuanya begitu gembira mengetahui Andrew mendapat beasiswa penuh untuk belajar di School of Civil and Environmental Engineering Nanyang Technological University (NTU). Jadilah ia pindah ke Singapura, dan akan tinggal dengan kakaknya yang sudah lebih dulu ada di sana.
Karena orang tua mereka cukup berada, Ray tinggal di apartemen pribadi di kawasan Thomson, bukan di apartemen HDB (Housing Development Board) milik pemerintah yang fasilitasnya terbatas. Jadilah Andrew tinggal di sana, dan dalam beberapa hari ia diajak keliling Singapura untuk mengenal negara kecil itu lebih dekat.
Hari itu hari Kamis. Andrew berangkat ke kampusnya jam 1o pagi. Ketika melewati taman di belakang apartemennya, Andrew melihat seorang gadis kecil duduk di dekat air mancur, memandang ke kejauhan. Andrew berlalu saja tanpa memperhatikan lebih jauh.
Sekitar jam 10 malam, Andrew pulang dari kampusnya. Ketika melewati tempat yang sama, Andrew masih melihat gadis kecil itu duduk di literally, spot yang sama. Andrew heran melihatnya, namun karena merasa capek dan toh ia tidak mengenal gadis kecil itu, Andrew tetap berjalan menuju apartemen.
Pintu lift yang baru saja menutup terbuka lagi. Andrew mendongak, dan melihat gadis kecil yang tadi dilihatnya di taman masuk. Gadis itu tersenyum. Andrew memberanikan diri bertanya, “You sit by the pond all day?”.
Gadis kecil itu sedikit terkejut, lalu menjawab, ”Yes, how do you know that? Are you spying on me or something?”
Andrew tertawa kecil. “Just guessing. What did you do there?”
“I want to draw a picture”, jawabnya halus.
Andrew melihat gadis kecil itu tidak membawa peralatan gambar apapun. “Then, where is your drawing? I don’t see any”, kata Andrew.
Gadis itu menatap mata Andrew. “I am just waiting. When nature calls me to draw, I will. It is important to know how it speaks to you, so you can draw it in its way”, gadis itu tersenyum lagi.
Andrew terdiam. “Nature’s call?”, tanyanya.
“Weird? Don’t write because you have to write. Don’t draw because you have to draw. If you believe, nature sends many signs for us. Each with different meaning. And I just copy them into drawings”, gadis itu menjawab dengan lancar.
“Why?”
“Because nature is a mother. It is a she. She nurtures us. And I adore her. A lot”, sahut gadis itu.
Andrew tercenung sejenak, lalu tersenyum dan mengulurkan tangan. “Andrew”, ia memperkenalkan dirinya.
Gadis kecil itu menyambut, “Stephanie”.
what they said...