Archive for August, 2009

31
Aug
09

back again, in the lab :)

Okay. It has been forever since my last post :P . Well, I’m a bit distracted, and I couldn’t focus to write something though I have many things in my mind.

So, I’m already back to Taipei, to my lab. And back to reports, experiments, courses :) .

I miss my Hero so much :( .

See you again, soon.

09
Aug
09

Verse 2: Accept Life As-Is

Seperti biasa, mereka duduk berdua di Starbucks, menikmati frappuccino masing-masing. Stephanie dengan espresso frappuccinonya, Adri dengan mocha frappuccino. Dan segudang pembicaraan.
“Kok nggak bosen sih sama mocha”, Stephanie menggoda Adri.
Cowok itu mengernyit dan memandang cewek di depannya, “Lha kamu juga pesen espresso terus, apa enaknya, pahit gitu”.
Stephanie tergelak. “Karena hidup itu seperti espresso, pahit, tapi bisa kamu jadikan manis. Dan percaya deh, ekstra shot membuat kopi ini makin nikmat. Hidup makin nikmat ketika kesulitanmu banyak tapi kamu bisa menghadapinya”.
“Mulai deh berfilosofi. Aku heran, kenapa dulu kamu nggak masuk jurusan filsafat aja”, sahut Adri sambil menyesap kopinya.
“Ya ya ya, karena aku menyadari belajar filsafat itu tidak bisa dibatasi oleh dinding-dinding akademik semata, melainkan dari hidup itu secara keseluruhan. Lagipula, aku tidak merasa aku punya kemampuan untuk belajar filsafat secara serius”, jawab Stephanie.
Adri mengambil gula di depannya, dan menuangkannya ke dalam gelas. Stephanie berkomentar, “Masih kurang manis? Kupikir mocha itu tidak perlu lagi gula”.
I like something sweet. Like you, darl”, katanya sambil melirik Stephanie.
Gadis berambut sebahu itu tertawa terbahak-bahak, “Oh you always make me flattered sweetheart. Is that the way you talk to every girl you’re dating?”.
Kind of. Too bad you’re not one of them, officially”, Adri menekankan kata terakhirnya dengan nada menggoda.

Begitulah mereka berdua. Sepasang muda-mudi dengan intelegensi tinggi yang sama-sama senang minum kopi. Tidak kesamaan lain di antara mereka. Stephanie Angeline Hwan, gadis keturunan Belanda-Tionghoa Indonesia, besar di Singapura, berusia 21 tahun, kuliah biologi di Delft, Belanda. Adri Artha Wijaya, orang Jawa asli, tidak pernah pergi dari kota kelahirannya, Solo, berusia 23 tahun, baru saja menjadi Sarjana Ekonomi dari UNS. Kok bisa bertemu? Tidak ada yang tahu, karena dua sejoli itu tidak pernah mau bercerita. Tapi begitulah mereka berdua. Tidak sering bertemu. Hanya bertemu dan mengobrol di Starbucks, manapun. Dengan frappuccino venti cup masing-masing. Bukan pasangan kekasih. Bukan teman dekat. Tidak bergaul dalam satu circle yang sama.

“Siapa pacar kamu sekarang, ‘dri? Kudengar kamu dan Ranti putus”, tanya Stephanie.
Adri mengangguk. “Iya, udah dua bulan lalu putusnya. Nggak tahan deh kalo diungkit-ungkit terus masalah mantan. Cemburuan berat. Bosen lama-lama. Sekarang aku lagi deketin Amel”.
“Amel?”
“Iya, itu tuh Amelia adiknya si Donny”.
“Oh, Melia?”
“Ya whatever deh. Aku panggilnya dia Amel, lha si Donny manggilnya juga gitu. Anaknya baik dan sederhana tuh ternyata, kupikir dia tipe-tipe high maintenance kayak kamu Steph”, Adri tertawa.
Stephanie melotot, “Sialan, aku biasa aja kali. High maintenance tu si Natalie, mantanmu yang LV mania tuh”.
“Hahahaha….iya juga. Kalo dia tu emang very very high maintenance Steph. Gila aja kalo kencan sekalinya abis berapa. Belum lagi dia suka pasang tampang ga enak kalo aku ngasi sesuatu yang kurang mahal. Yang bener aja kalo mesti beliin LV terus, emang bapakku bosnya LV?”
“Tapi kamu paling lama pacaran sama dia bukan? Hampir dua tahun?”, sergah Stephanie.
“Betuuull sekali. Dia bisa manjain aku sih kalo moodnya lagi normal”, jawab Adri.
“Trus sampai kapan kamu mau gonta-ganti pacar gini ‘dri? Inget umur gih”.
Adri terdiam, lalu menukas,”Yaaa, belum ktemu yang cocok Steph. Tahu sendirilah aku gimana. Gampang bosen. Gampang tergoda. Kamu sendiri? Kapan punya pacar? Aku denger kamu nolak si Andrew”.
“Iya. Masih belum bisa ngelupain Martin sih. Aku tahu itu udah lama, dan mungkin kamu mau bilang aku bodoh banget, tapi ya gitu, selama belum ada orang lain yang cocok, waktu aja nggak cukup buat ngelupain*, jadinya ya gini, lama”, Stephanie menjelaskan alasannya belum punya pacar lagi setelah dua tahun lalu putus.
“Setuju. Yah selama kamu enjoy aja sih, dibawa seneng aja”.
“Sebenernya dah bosen sedih terus gini, tapi mau gimana. Yang penting life must go on kan. Liat aja Martin, pasti nyesel lu mutusin gue hahaha”, Stephanie terbahak.
Adri ikut tertawa. “Emang bener-bener Stephanie banget deh kamu. Salut deh. Ngakunya sedih tapi nggak pernah kelihatan sedih. Jadi artis aja deh, biar dapet Oscar”.
“Lho kan emang hidup itu panggung sandiwara ‘dri. Tapi inget, nggak ada stuntmen. Sakit ya sakit sendiri. Resiko ditanggung penumpang”, timpal Stephanie.
“Inget Filosofi Kopi nggak? Kopi tiwus. Walau tak sempurna, hidup ini indah begini adanya”, Adri mengutip kalimat dari cerita pendek Dewi Lestari.
Stephanie tersenyum, “Couldn’t agree more”.

Dan dua manusia itu terus bicara. Berbagi. Saat mereka masih punya waktu untuk duduk di meja yang sama.

*R, cepatlah sembuh. Meski baru punya waktu :) , but everyday gets a bit easier, trust me.

08
Aug
09

|overheard part 1|

*overheard in front of the house

Cerdas-cermat antar RT se RW.

Tanya: Siapakah nama warga di RW 1 yang namanya merupakan gabungan antara nada dan rumus matematika?

Jawab: La-Min

kok ada ya yang namanya begitu :D

*overheard in the television

….dari dalam rumah juga terdengar letusan senjata tajam…

senjata api kali mbak :D

08
Aug
09

Verse 1: Price of Virginity

Gadis itu manis. Cerdas. Anak pasangan pejabat dan pimpinan perusahaan. Kuliah di luar negeri. Communication-journalism. Dan aku akan mengatakan temanku itu adalah seseorang yang sempurna. Sampai dua tahun lalu dia meneleponku.

Hi Miss Perfectionist, still alive?” Seperti biasa suara renyahnya menyapa.

“Mmm, bagaimana kabarnya Miss Perfect ini? Tidak biasanya menelepon jam segini jeng”, kataku.

“Yup. Mengabarkan hal penting tidak bisa menunggu dong babe. I’m getting married, in the next two weeks“.

Aku terhenyak. Menikah? Aku tidak pernah tahu dia punya pacar serius, dan menikah?

“Something’s wrong? Seems like not you. I never heard you have any plan to get married”, akhirnya aku bersuara setelah 40 detik terdiam.

Dan lancarlah Nona Sempurna itu bercerita. Seperti yang kuduga, meski aku tidak mengharapkan itu terjadi padanya. Dia hamil di luar nikah, dengan seorang pria yang dia kencani selama 3 bulan. Anak seorang distributor cat tembok. Sepertinya sempurna. Money marries bigger money?

Tapi temanku ini adalah seorang yang aku tahu tidak akan melakukan hal sebodoh. Faktanya adalah, sekalipun dia melakukan hubungan seks di luar nikah, pasti dia sudah mengantisipasinya duluan. Dan apa jawabnya ketika aku blak-blakan bertanya?

“I am not stupid, dear. The truth is, I am so smart hahaha”, jawabnya dengan tawa.

Pintar? Apa pintarnya dengan hamil di luar nikah? Lalu mulailah dia bercerita panjang lebar. Dia sudah melakukan hubungan suami-istri dengan mantan kekasihnya dulu di Amerika. Lalu ia pulang dan berpacaran lagi dengan anak teman ayahnya, yang menurutnya adalah calon suami teladan. Tapi ketakutan menderanya, ketika tahu bahwa si pria baik ini begitu mengagung-agungkan keperawanan. Apa jadinya bila calon suami teladan ini mengetahui dirinya tidak perawan?

Nona manis itu berkata, “Ya udah, aku putusin. Susah juga sih ngomongnya, tapi aku terlanjur takut say”.

“Lalu, kamu putus asa sampai kejadian kayak gini?”, aku menyahut.

“Yah mungkin bisa dibilang begitu. Aku ketemu si Adri [calon suaminya sekarang] di club, trus ya gitu deh.”

Aku belum mengerti. “Aku nggak ngerti, non”.

“Aduuhhh, kamu tu pinter tapi kok lemot. Jadi si Adri tu ternyata brengsek juga, yah pokoknya dia juga udah pengalaman nge-seks kayak aku. Jadi kita gituan deh. Trus aku pikir, kenapa enggak dia aja yang aku jadiin suami? Toh aku nggak perlu khawatir dia mempertanyakan keperawanan”, jawabnya dengan nada santai.

Aku terdiam lagi. Terkejut.

“Jadi kamu sengaja hamil?”, tanyaku kemudian.

Damn right, hahaha. I’m smart, eh?“.

Aku langsung menyahut, “Enggak, kamu gila. Kok kamu bisa tenang gitu sih. Menikah itu bukan urusan gampang dan sederhana kali”.

“Ya ya ya, aku ngerti pasti banyak yang bertanya dan ngomong ini itu. Tapi aku nggak punya pilihan. Aku nggak mau hidup dalam ketakutan nggak punya suami dengan kondisi sekarang. Lagipula dia generally baik, keluarganya terhormat, ganteng pula, so what?“, dia membela dirinya.

“Jadi kamu menikah karena udah menemukan paket all in one? Aku kaget. Serius”, aku masih belum bisa menerima alasannya.

Nada suaranya menjadi lirih ketika ia menjawab ketidakpercayaanku. “Citra, aku nggak berharap kamu mengerti. Aku juga nggak munafik. Aku hanya ingin menyelamatkan diriku sendiri. Apapun yang terjadi, ya itulah yang terjadi sekarang”.

Aku masih ingat benar pembicaraan itu.

*M, I wrote this for you. I did not, do not, and will not judge.




Me in Words

Welcome to my blog. As you may or may not know, I have just started to write this blog around a year ago. I merely think that my writings are value-free, but do not hesitate to judge, though.
I am currently a PhD student in Taiwan. Studying chemical engineering, minor in environmental engineering. Love it :)

Leave a comment, or just send me an email at marlistya_citraningrum@yahoo.com

they visited me...

  • 7,284 hits
free counters

i’ve written about….posts

counting the days…

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

what a wonderful world!!

grad day-cuit and nash

nash and liana

liana

bunch of flowers for liana, nash, and william

liana and cuit

full team :)

whose hand is this???

go cheers!!

ganpei :D

no taxi, waiting for bus :)

More Photos

Globe Tracker