Gadis itu manis. Cerdas. Anak pasangan pejabat dan pimpinan perusahaan. Kuliah di luar negeri. Communication-journalism. Dan aku akan mengatakan temanku itu adalah seseorang yang sempurna. Sampai dua tahun lalu dia meneleponku.
“Hi Miss Perfectionist, still alive?” Seperti biasa suara renyahnya menyapa.
“Mmm, bagaimana kabarnya Miss Perfect ini? Tidak biasanya menelepon jam segini jeng”, kataku.
“Yup. Mengabarkan hal penting tidak bisa menunggu dong babe. I’m getting married, in the next two weeks“.
Aku terhenyak. Menikah? Aku tidak pernah tahu dia punya pacar serius, dan menikah?
“Something’s wrong? Seems like not you. I never heard you have any plan to get married”, akhirnya aku bersuara setelah 40 detik terdiam.
Dan lancarlah Nona Sempurna itu bercerita. Seperti yang kuduga, meski aku tidak mengharapkan itu terjadi padanya. Dia hamil di luar nikah, dengan seorang pria yang dia kencani selama 3 bulan. Anak seorang distributor cat tembok. Sepertinya sempurna. Money marries bigger money?
Tapi temanku ini adalah seorang yang aku tahu tidak akan melakukan hal sebodoh. Faktanya adalah, sekalipun dia melakukan hubungan seks di luar nikah, pasti dia sudah mengantisipasinya duluan. Dan apa jawabnya ketika aku blak-blakan bertanya?
“I am not stupid, dear. The truth is, I am so smart hahaha”, jawabnya dengan tawa.
Pintar? Apa pintarnya dengan hamil di luar nikah? Lalu mulailah dia bercerita panjang lebar. Dia sudah melakukan hubungan suami-istri dengan mantan kekasihnya dulu di Amerika. Lalu ia pulang dan berpacaran lagi dengan anak teman ayahnya, yang menurutnya adalah calon suami teladan. Tapi ketakutan menderanya, ketika tahu bahwa si pria baik ini begitu mengagung-agungkan keperawanan. Apa jadinya bila calon suami teladan ini mengetahui dirinya tidak perawan?
Nona manis itu berkata, “Ya udah, aku putusin. Susah juga sih ngomongnya, tapi aku terlanjur takut say”.
“Lalu, kamu putus asa sampai kejadian kayak gini?”, aku menyahut.
“Yah mungkin bisa dibilang begitu. Aku ketemu si Adri [calon suaminya sekarang] di club, trus ya gitu deh.”
Aku belum mengerti. “Aku nggak ngerti, non”.
“Aduuhhh, kamu tu pinter tapi kok lemot. Jadi si Adri tu ternyata brengsek juga, yah pokoknya dia juga udah pengalaman nge-seks kayak aku. Jadi kita gituan deh. Trus aku pikir, kenapa enggak dia aja yang aku jadiin suami? Toh aku nggak perlu khawatir dia mempertanyakan keperawanan”, jawabnya dengan nada santai.
Aku terdiam lagi. Terkejut.
“Jadi kamu sengaja hamil?”, tanyaku kemudian.
“Damn right, hahaha. I’m smart, eh?“.
Aku langsung menyahut, “Enggak, kamu gila. Kok kamu bisa tenang gitu sih. Menikah itu bukan urusan gampang dan sederhana kali”.
“Ya ya ya, aku ngerti pasti banyak yang bertanya dan ngomong ini itu. Tapi aku nggak punya pilihan. Aku nggak mau hidup dalam ketakutan nggak punya suami dengan kondisi sekarang. Lagipula dia generally baik, keluarganya terhormat, ganteng pula, so what?“, dia membela dirinya.
“Jadi kamu menikah karena udah menemukan paket all in one? Aku kaget. Serius”, aku masih belum bisa menerima alasannya.
Nada suaranya menjadi lirih ketika ia menjawab ketidakpercayaanku. “Citra, aku nggak berharap kamu mengerti. Aku juga nggak munafik. Aku hanya ingin menyelamatkan diriku sendiri. Apapun yang terjadi, ya itulah yang terjadi sekarang”.
Aku masih ingat benar pembicaraan itu.
*M, I wrote this for you. I did not, do not, and will not judge.
what they said...