secangkir kopi panas yang sama. laptop yang sama. dan masih blog yang sama. tempat pelarian di kala gundah, yang tak juga berubah. ketika menulis adalah sebuah oase menyejukkan, atau terkadang menjadi laut garam yang justru membuat perih.
tidak perlu sebuah pengertian, simpati, atau tatap belas kasihan. karena esensi tulisan ini adalah sampah. untuk mengosongkan keranjang kecil dalam hati yang terlalu penuh dengan kemunafikan. dunia tidak akan pernah menjadi ramah, dan kita juga tidak seharusnya menjadi rapuh.
secangkir kopi dengan sedikit gula. lihatlah betapa aku menghindari kepahitan. aku lupa, bahwa hidup tidaklah semanis dark berry mocha frappuccino.
lalu ketika aku ingin bermain dengan analogi, kopi apakah aku ini? caffè latte, cappuccino, cafè mocha, frappuccino, liquor coffee, espresso, or just a simple dark coffee? hidupku serupa dengan frappuccino, tapi bagaimana dengan diriku? pertanyaan konyol yang lagi-lagi muncul seolah aku ini sedang mengalami krisis identitas.
kopi itu tinggal setengah cangkir. dan aku belum juga tenang.
lalu, pernahkah aku berusaha mengerti?
i’m not that merciful.












0 Responses to “Aku dan Kopi”