ketika mencintai hanyalah menghitung-hitung apa yang seharusnya aku dapatkan ketika aku memberi, masih layakkah aku disebut mencintai? aku merasa telah memberikan segala yang bisa aku berikan, untuk sebuah senyuman, untuk segenggam kehangatan, untuk semenit pelukan, atau untuk sekejap pertemuan. dan ketika aku masih merasa kurang, apakah aku salah? betapa aku terjerat dengan sains. bahwa segalanya harus berada dalam kesetimbangan. bahwa segalanya harus proporsional. cinta bukan hitungan matematika. cinta tidak mengikuti hukum termodinamika. cinta tidak bisa disederhanakan dengan kinetika orde pertama.
lalu jika semuanya itu benar adanya, mengapa aku merasa tersakiti? aku merasa telah sepenuhnya memberi, namun itu mungkin hanya membebani. menangis dan tak henti menangis, hanya untuk sedikit menenteramkan hati, dan menyadarkan diri bahwa kekuatan itu bukan milikku. bahwa aku merapuh. terlalu lama aku membenarkan diriku sendiri, tapi kenapa aku juga tidak mampu berubah? apakah artinya mencintai?
lagi-lagi mempertanyakan arti. hal mendasar yang tidak ada ujungnya, dan tidak akan pernah memcapai pembenaran mutlak. aku tidak mengerti. atau mungkin aku mengerti namun aku tidak sanggup menerimanya. kenyataan terlalu pahit untuk ditelan. dan aku hanya bisa memandangnya, aku tidak berani menyentuhnya sama sekali.
lihatlah betapa aku tidak sanggup mengatakan selamat tinggal. ketika aku masih berada dalam tempat yang sama. ketika taman gelap itu belum bosan melihatku menangis. ketika malam masih bersedia menyaksikan air mataku. ketika merasa sakit dan terus sakit namun aku juga masih belum beranjak. itu yang aku sebut mencintai.
dan aku bersyukur aku masih mencintai.
Tuhan, aku tidak meminta bebanku diringankan, namun kuatkanlah aku.
-ditulis untuk Rheia. Kamu tahu, kamu mengerti, dan kamu akan bertahan. Air mata itu tidak percuma.
what they said...