ketakutanku bukanlah tidak beralasan. pencarian sebuah titik untuk segenggam harapan. ketidaknyamanan, bukan, ini adalah rasa tidak aman yang terus menerus ada dan membuatku terbias. tidaklah aku khawatir dengan kesendirian. aku bertahan dengan segala kerisauan, aku maju dengan segala kehampaan. aku adalah aku. dan tak seorang pun yang berhak menghakimi. lalu ketika refleksi bukan lagi menjadi bagian privasi, apakah aku masih sanggup menjalani hidup dengan caraku sendiri? karena kini nilai menjadi cerminan universal, dan dunia semakin lama semakin tidak adil. lalu apakah nilaiku menjadi berkurang di mata orang lain?
pencapaianku adalah prestasi. dan dengan kepercayaan bahwa ujian itu ada untuk memberikanku pelajaran akan hidup, aku tidak boleh berhenti. belumlah sanggup kuberikan pelangi indah yang begitu kasat mata di cakrawala. tapi bias cahaya itu, bukanlah mustahil untuk diperlihatkan.
Apa yang kaualami kini, mungkin tak dapat engkau mengerti. Cobaan yang engkau alami, tak melebihi kekuatanmu. Tuhanmu tak akan memberi, ular beracun pada yang minta roti. Satu hal tanamkan di hati, indah semua yang Tuhan b’ri. Tangan Tuhan sedang merenda, suatu karya yang agung mulia. Saatnya kan tiba nanti, kau lihat pelangi kasih-Nya.











what they said...