Past, Present, and the Future-Taipei. Rabu (28/1), Professor J.C. Liu, yang sering kami panggil prof atau laoshi, mengundang kami, mahasiswa di labnya, untuk makan siang bersama di kediamannya. Lab kami, memiliki 9 mahasiswa: Nash, William, Barry, Ariel (keempatnya dari Taiwan), Liana,Ervin, Devarly, Pak Wawan, dan saya, ditambah dengan satu dosen dari Indonesia yang mengadakan penelitian sementara, Bu Ellina. Berhubung di antara kami semua tidak ada yang berpengalaman pergi sendiri ke rumah prof, makan prof dengan penuh pengertian akan menjemput kami di kampus pukul 10.30 tepat.
Pukul 10.20, prof sudah datang dengan mobil Toyota Vios putihnya. Yang akan berangkat dari kampus adalah saya, Liana, Ervin, Devarly, dan Bu Ellina, sedangkan Pak Wawan dan keluarganya (Pak Wawan tinggal dengan keluarganya di apartemen, bukan di asrama sekolah) akan dijemput kemudian. Jadilah kami berangkat berlima (berenam dengan prof) menuju ke rumahnya di dekat Taipei City Hospital (saya juga kurang tahu jalan apa — dekat dengan Xiangshan). Teman-teman yang lain berangkat sendiri dengan kendaraan masing-masing (minus Barry yang pulang ke kota asalnya di dekat Taichung). Apartemen tempat tinggal prof ternyata bagus dan rapi. Penataannya minimalis, dengan sudut-sudut yang menarik dan nyaman. Istri prof, namanya Yi Hua, menyambut di rumah. Orangnya cantik dan tegas. Prof mengajak kami melihat-lihat isi rumahnya sejenak, memperlihatkan ruang-ruang tertata rapi yang membuat saya iri, koleksi-koleksi suvenir pemberian murid atau koleganya, dan ini yang tidak saya sangka, di salah satu meja terletak setumpuk komik yang familiar sekali untuk saya, Death Note. Saya mengira putra tunggal prof yang membacanya, tapi ternyata prof yang membaca komik itu. Well….out of my expectation prof. Bravo. Beliau mengatakan, “Yes, I read some comics, I read that Death Note, still volume one, though. I also have comics on wine. Japanese comics sure are good and unpredictable.” Sayang komiknya dalam tulisan Mandarin (kalau Inggris saya pasti meminjamnya). Setelah beberapa saat prof kemudian berangkat lagi untuk menjemput Pak Wawan dan keluarga.
Area empat tinggal prof memiliki sebutan tidak resmi Taipei Manhattan, karena di sekitar area inilah banyak terdapat apartemen-apartemen mahal, toko-toko branded, kawasan bisnis, dan tentunya Taipei 101. Saya sempat bertanya pada salah satu teman lab yang tinggal di Taipei, tinggal di area tersebut memang memakan biaya yang bisa dibilang sangat mahal, tidak heran bila dibandingkan dengan kawasan Manhattan asli di New York.
Makan siangnya dalah pizza, berhubung di antara kami ada yang vegetarian dan ada yang muslim. Kami juga disuguhi dengan teh lotus (mungkin bukan nama yang tepat, teh adalah teh, dan lotus adalah lotus, whatever). Setelah makan siang dan berbincang-bincang, prof mengajak kami hiking sbeentar di bukit belakang rumahnya, Xiangshan, atau dalam bahasa Inggrisnya, Elephant Mountain. Bukit ini merupakan satu di antara empat rangkaian bukit yang dikenal dengan nama Si Shou Shan (Four Beasts Mountain). Bukit ini memang dikhususkan pemerintah Taipei untuk menjadi kawasan reservasi alam dan tempat hiking. Elephant Mountain dilengkapi dengan tangga untuk mendaki ke atas dan beberapa perhentian untuk beristirahat atau ke kamar mandi. Perlu sekitar 20 menit untuk sampai ke puncak bukit, dan melihat pemandangan kota Taipei. Landmark Taipei, Taipei 101, terlihat jelas sekali dari puncak Xiangshan ini. Tidak heran, menurut prof, banyak pemburu video dan foto yang datang ke bukit ini untuk merekam dan mengambil gambar pesta kembang api Taipei 1o1 di saat pergantian tahun.
Setelah itu kami kembali ke rumah prof dengan jalan yang berbeda. Nyaman sekali Xiangshan ini, dan spot ini yang membuat Taipei berbeda dibanding dengan capital city lain. Taipei dikelilingi dengan perbukitan yang masih asri dan hijau, dirawat dengan baik, dan sangat bersih. Indonesia perlu mencontoh Taipei, dengan manajemen pengelolaan alamnya yang bagus. Tidak hanya berlomba-lomba membangun gedung pencakar langit, namun juga berperan aktif melestarikan lingkungan sekitar.
Acara kami di rumah prof berakhir sekitar pukul 15.00, dan kami pulang naik bus. Nice experience, and I will go to Xiangshan again, for sure!
Cuit melaporkan dari Taipei.












what they said...