Diharuskan menulis laporan teratur setiap minggu ternyata membuat saya sedikit kehilangan inspirasi. Belum lagi dengan fluktuasi kondisi hati yang tidak bisa diprediksi. Karena itu saya membuka YouTube, dan mencari The Corrs. Membuka WordPress, dan menulis ini. Apa yang ingin saya tuliskan?
Satu kata dengan kompleksitas [atau mungkin malah kesederhanaan] yang tak terhingga, cinta.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ada empat definisi cinta: cin·ta a 1 suka sekali; sayang benar: orang tuaku cukup – kpd kami semua; — kpd sesama makhluk; 2 kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan): sebenarnya dia tidak — kpd lelaki itu, tetapi hanya menginginkan hartanya; 3 ingin sekali; berharap sekali; rindu: makin ditindas makin terasa betapa — nya akan kemerdekaan; 4 kl susah hati (khawatir); risau: tiada terperikan lagi — nya ditinggalkan ayahnya itu.
Lihatlah betapa beda arti cinta nomor 1 -3 dengan nomor 4. Saya percaya banyak yang menghubungkan cinta dengan definisi kedua, dimana cinta digunakan untuk mewakili hubungan kualitatif antara pria dan wanita dalam konteks yang erat/intim. Saya tidak terlalu suka terjebak dengan definisi, karena menurut saya, sesuatu yang kualitatif jarang sekali bisa dijelaskan dengan kata, kalimat, atau gambar yang secara kuantitatif akan memasukkannya ke dalam kelas-kelas tertentu untuk memudahkan kita mencernanya dengan logika. Atau katakanlah, it is not defined beautifully.
Cinta tidak memiliki tingkatan dalam bahasa Indonesia. Seberapa kenal anda dengan istilah eros, philia, and agape? Dalam bahasa Yunani, ada tiga tingkatan berbeda untuk mewakili satu kata cinta [kadang disebutkan ada empat tingkat]. Philia, adalah cinta secara umum, yang dirasakan seseorang pada teman, keluarga, atau sesuatu seperti hobi. Eros digunakan untuk mendefinisikan cinta antara pria dan wanita, keinginan untuk mengenal lebih dalam pasangan, dan membawa cinta itu ke tingkat yang lebih dalam dibanding dengan philia. Kata eros sering dihubungkan dengan pengertian cinta secara seksual, meskipun tidak secara mutlak dikaitkan hanya dengan sesuatu yang bersifat sensual. Agape, seringkali dipakai untuk menunjukkan cinta yang murni, yang lebih dari sekedar cinta pada pertemanan, tidak berhubungan dengan ketertarikan secara fisik, namun jauh melebihi itu, agape mendapat kehormatan untuk mewakili kecintaan manusia pada Tuhan.
Ketika ditanya, lalu menurut Citra, apakah arti cinta? Mmm. Saya sungguh-sungguh tidak bisa menjawab pertanyaan seperti itu. Bermain analogi untuk mendefinisikan cinta lebih mudah, namun jika diharuskan menggunakan kata-kata saya sendiri untuk secara eksak menjelaskannya, saya memilih menggeleng. Terlalu banyak kontradiksi dan interupsi-interupsi yang akan muncul, yang kemudian akan membuat saya memilih beberapa boundary condition untuk definisi cinta saya, dan itu akan menyempitkan maknanya. Akan membuat kalimat saya diawali dengan jika dan hanya jika, padahal saya sungguh-sungguh menghargai cinta dan ingin membuatnya seindah mungkin. Tanpa perlu kata-kata.
Dari lubuk hati yang paling dalam, saya berterima kasih untuk seseorang yang memanggil saya ‘cinta’. Sebuah kehormatan tak terkira untuk disandingkan dengan kata yang selalu ingin saya definisikan dengan indah.