Tujuh Tahun Menulis

Tak ada yang meragukan kemampuan saya menulis. Oke, ini memang menyombongkan diri. Saya percaya bahwa kalau mau sombong, sombong aja, nggak sudah pake merendah. Kemarin saya diingatkan WordPress bahwa blog saya yang pertama ini sudah berulang tahun yang ketujuh. Ah, ternyata sudah lama. Dan sebagai hadiah untuk diri sendiri, bolehlah saya menuliskan ini.

Faktanya memang saya suka dan bisa menulis. Jauh dari sempurna, tentu, namun deretan prestasi yang saya torehkan di dunia tulis menulis itu adalah kenyataan yang tidak bisa dibantah.

Tapi tahukah Anda, bahwa perjalanan saya menulis itu diawali oleh sebuah hal yang pahit?

Sewaktu kecil saya tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran saya. Saya terbiasa menurut, padahal saya punya banyak sekali hal di kepala yang bisa dibilang berbeda. Iya, saya takut menjadi beda. Saya tahu rasanya di-bully. Saya memilih diam.

Mulut bisa saja diam, namun pikiran saya terus bergerak. Entah sejak kapan, saya mulai terbiasa menulis, dari puisi tidak berima yang sama sekali tidak indah, kata-kata mutiara buatan sendiri, hingga prosa yang tidak jelas bentuknya. Saya mulai menemukan dunia sendiri, menemukan media yang bisa menjadi teman melepaskan segala macam pikiran yang tadinya terkurung tanpa teman. Seringkali ketika sedang kesal, saya menuliskan makian dan keluhan di selembar kertas sampai kecapekan, lalu merobek kertasnya. Ketika menginginkan sesuatu, saya tuliskan semuanya lalu menyimpannya di bawah bantal. I am that introvert. Itu cara saya menghadapi permasalahan dalam hidup. Dan kebiasaan menulis itu terus berlanjut hingga akhirnya saya memiliki keberanian membuat blog ini di tahun 2007. 

See? Perjalanannya panjang dan tidak dilihat orang.

Di masa ini saya sudah bisa dibilang seorang accomplished writer. Blog saya rajin terisi, saya bisa menulis di banyak media lain (bahkan dibayar), kumpulan kisah saya juga ada yang dijadikan buku kompilasi, menjuarai beberapa kompetisi menulis yang hadiahnya juga tidak main-main, dan di bidang yang lebih serius, saya juga menulis bab buku (textbook) bersama pembimbing disertasi saya.

Kini saya merencanakan menulis buku sendiri. How awesome is that?

Perjalanan menulis saya hingga di titik ini adalah contoh nyata bahwa kerja keras dan cinta itu membawa banyak sekali bonus. Tidak, saya tidak menulis dengan tujuan mencari uang dan penghargaan. Saya menulis karena saya cinta menulis. Saya meluangkan waktu setelah bekerja untuk menulis, karena saya segitu cintanya menulis. Kerja keras? Tentu. Menulis itu perlu konsentrasi, menulis perlu kreativitas, menulis perlu teknik. Saya belajar dan terus belajar untuk mengembangkan kemampuan menulis ini.

Dan secara khusus, saya ingin berterima kasih pada teman-teman, pada Anda, pada semua orang yang mau meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya. Apresiasi pembaca, apapun bentuknya, adalah hal yang menyenangkan bagi seorang penulis. Kritikan yang menyakitkan pun adalah bentuk kepedulian. Thank you. Thank you.

Tujuh tahun saya menulis di sini. Tujuh tahun kulminasi keberanian saya menulis untuk semua.

Salam cinta,

-Citra

 

 

 

Ketika Pertiwi Tak Lagi Memberi

Siang itu begitu terik. Pelabuhan di ujung utara Taiwan itu terasa membara. Di depan saya berdiri seorang lelaki paruh baya berkulit legam, tulang-tulangnya menonjol. Sorot matanya membuat saya tercekat. Suaranya yang lirih dan pias membuat ceritanya berkali lipat menyentuh saya.  

Saya menggigit bibir, sekuat tenaga menahan air mata yang sudah berada di pelupuk, tinggal menunggu jatuhnya.

Lelaki paruh bayar berinisial K ini adalah seorang nelayan Indonesia yang terpaksa harus pergi ke Taiwan untuk mencari penghidupan. K dan ribuan nelayan lainnya bekerja sebagai anak buah kapal (ABK), bekerja pada ‘majikan’ orang Taiwan yang memiliki kapal. Jumlah mereka yang banyak, dan dengan demikian menjadikan mereka sebagai tenaga kerja yang banyak dicari tidak lantas membuat kehidupan mereka layak.

Mereka tinggal, makan, bekerja, bercengkerama di kapal milik ‘majikan’ mereka. Kapal-kapal itulah hidup mereka. Tempat tidur seadanya di bawah dek, bercampur amis ikan dan pengap. Makan mereka belum tentu bervariasi, jika tidak beruntung, mereka hanya makan sisa hasil tangkapan. Pekerjaan mereka berat dan kasar, membutuhkan tenaga, belum lagi bila ‘majikan’ mereka seseorang yang banyak membentak. Libur? Jangan berharap banyak. Pendek kata, pertemuan saya dengan mereka membukakan mata. They live a hard life, they really do.

“Kenapa tidak melaut di Indonesia saja, Pak?”

Pertanyaan tidak berdosa dari saya ini mungkin basi bagi mereka. Bukankah Indonesia adalah negara bahari? Hasil laut kita banyak, banyak banget.

Jawaban mereka serupa. Desakan ekonomi, apa lagi. S, seorang ABK di Pelabuhan Donggang di bagian selatan Taiwan menyeka keringat di keningnya sambil berujar, “Dulu saya di Indonesia punya kapal mbak, istri saya berjualan. Kebutuhan saya terpenuhi. Tapi trus krisis (ekonomi), dan harga bahan bakar semua naik. Kapal saya jual, saya terpaksa ke sini (Taiwan).” Mereka terpaksa meninggalkan keluarga bukan karena tak ada lagi ikan, namun karena mereka tak mampu lagi bertahan dengan gempuran mahalnya harga bahan bakar, rendahnya harga hasil laut. Mereka merasa ditelantarkan. Mereka pedih karena tak diperhatikan.

Pertiwi tak lagi memberi, dan pergilah mereka meninggalkan si negeri bahari. Sebuah ironi, bukan? Nelayan negeri bahari yang tak melaut di negeri sendiri. Bukankah janji kemerdekaan itu salah satunya ‘memajukan kesejahteraan umum’? Lihat mereka, para nelayan yang tak punya pilihan selain meninggalkan kampung halaman. Kemerdekaan itu ternyata belum menyentuh semua insan. Bisakah kita mewujudkan harapan mereka untuk bisa sejahtera?

Dada saya sesak.

Mereka memang kekurangan, namun kehangatan mereka tak lantas menghilang. Siang yang panas itu, mereka berbagi makan siang. Ikan, ikan goreng hasil tangkapan mereka yang digoreng dengan garam saja. Ikan terenak yang pernah saya makan.

Di akhir pertemuan, salah satu nelayan berpesan, “Mbak, belajar yang rajin ya, jadi nanti kalau sudah lulus dan berhasil menjadi orang penting, Mbak bisa membantu kami-kami di sini.”

Saya tersenyum.

Di perjalanan pulang, saya menangis.

 

Mengapa Indonesia Mengajar Ngotot Mengembangkan Konsep Pendanaan Berbasis Publik?

Oleh: Hikmat Hardono 

Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Mengajar

Saudara-saudara,
dalam musim pidato-pidato ini, maka inilah pidato saya.

Setelah perjanjian Renville, Belanda gembira dengan hasilnya karena mereka berhasil memojokkan negara baru ini sehingga dugaan mereka– bakal gagal menaati isi perjanjian itu. Dan bila gagal maka itu akan membuktikan premis Belanda bahwa  tidak ada negara RI, tidak ada tentara. Yang ada hanyalah gerombolan, sebagian sok  diplomatis, sebagian lagi ngaku tentara.

Salah satu isi perjanjian itu mengharuskan 30 ribu orang harus pindah dari Jawa  Barat dalam tempo 2 minggu ke wilayah Republik, yaitu praktis hanya sebagian Jawa  Tengah dan Jawa Timur. Dan itu terjadi di tahun 1948.

Hebatnya itu berhasil. 30 ribu orang. Tentara dengan persenjataan. 2 minggu.  Ratusan kilometer. Tahun 1948.

Tentara itu namanya Divisi Siliwangi.

Setelah 10 bulan di perantauan, ketika sudah mulai menetap dan disusul oleh  keluarga mereka, datang perintah baru: kembali ke basis perjuangan. Lalu mereka, sebagian bersama keluarganya, melakukan longmarch –jalan kaki, Bro —dari daerah Republik di Jogja dan Solo sekitarnya kembali ke Jawa Barat untuk bersiap kembali berperang karena adanya agresi Belanda yang kedua.

Salah satu kerumitan yang tidak pernah habis saya kagumi adalah pengelolaan logistiknya. Bagaimana uang didapat, bagaimana mengirimkan uangnya, mengelola logistik dan perbekalan serta aspek pengorganisasian lainnya yang pastilah rumit dengan alat komunikasi yang terbatas. Bagaimana ya bentuk slip pembelian bensin untuk truk pengangkut senapan, bagaimana mencairkan dana untuk pembelian makanan tentara atau sekedar bagaimana cara mengirimkan uang dari para bendahara Republik ini untuk dikirim ke para pengelola lapangan?

Hebatnya itu ada di mana-mana. Ini terjadi bukan hanya dalam fenomena Siliwangi di atas. Upaya menggalang dana dilakukan di mana-mana. Ada yang iuran dengan harta bendanya, ada yang menyelundupkan hasil bumi untuk ditukar senjata. Ada pula yang menyumbang seadanya: tempat untuk tidur atau berbagi makanan yang sedikit.

Dan ketika uang didapat, ia disebar dan dikirimkan dengan cepat dan sederhana. Saya pasti bodoh bila percaya bahwa saat itu uang diserahterimakan dengan dokumen berangkap 5 dengan meterai secukupnya. Tidak ada yang mencuri, tidak ada yang mengambil untuk dirinya. Agak sulit membuktikan dan mengukur soal ini tetapi toh buktinya uangnya cukup. Cukup untuk memenangkan Indonesia.

Sebagian sumberdaya non-uang malah dikumpulkan dan dikirimkan dengan berbagai cara. Senjata dibeli dan diselundupkan dengan kapal atau pesawat menerobos pengawasan Belanda. Makanan? Minum? Rumah? Terlalu banyak untuk diceritakan sumbangan orang-orang tentang ini pada perjuangan kala itu.

Semua ini merupakan kegiatan yang sangat kompleks, rumit. Dalam pengelolaan keuangan, ada rumus sederhana: sistem kontrol yang handal diperlukan dalam budaya kepercayaan yang rendah. Dan ketika sistem pengendalian keuangan dalam revolusi kemerdekaan itu sangat sederhana sebenarnya menggambarkan hal esensial: bahwa bangunan kepercayaan di antara seluruh elemen organisasi sangatlah kokoh. Ketika yang dibicarakan adalah organisasi negara-bangsa, artinya lembaga-lembaga negara serta masyarakatnya sama-sama kokoh kepercayaannya satu sama lain; dan sama-sama dapat dipercaya dalam memegang amanah uang.

Pengorganisasian rumit pastilah memerlukan kepercayaan. Tanpa itu, pengorganisasian jadi lebih rumit karena kesibukan kita untuk mencegah kekacauan keuangan sekaligus upaya eksesif untuk meyakinkan warga untuk ikut menyumbang. Bayangkan kerumitan lanjutannya: pejuang kita terlalu sibuk membuat laporan penggunaan peluru daripada pertembakan itu sendiri. Atau para diplomat sibuk untuk menyusun slip tiket dan boarding-pass ketika berkunjung meyakinkan negara lain untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Atau para staf pemerintahan baru itu terlalu sibuk membuat company profile dan proposal yang akan disebarkan pada calon penyumbang daripada bekerja untuk menyebarkan cita-cita kemerdekaan kita.

Dan ketika Belanda benar-benar mengakui kedaulatan kita pada 1949 maka – setidaknya bagi saya—ini adalah salah satu puncak pencapaian hebat para pendahulu kita. Dimulai sejak 1908, Dr Wahidin yang mengamen –  istilahnya mbarang jantur—berkeliling Jawa untuk berjualan ide dan keyakinannya yang kemudian bersinggungan dan diwujudkan oleh Dr Soetomo dan kawan- kawannya dengan Boedi Oetomo; sampai di ujung revolusi kemerdekaan di tahun itu sebenarnya menggambarkan betapa besarnya pekerjaan raksasa yang bisa diwujudkan para pendahulu kita.

Maka saya tidak sedang pidato mengajak kalian untuk mengalahkan Belanda. Saya hanya iri bahwa para pendahulu kita bisa mengerjakan hal-hal raksasa di masa lalu. Saya hanya ingin mengajak kalian merasakan kembali kehebatan bangsa kita, membuat hal-hal raksasa yang hari ini tampaknya tidak mungkin.

Tentu kita bisa mengurai berbagai macam pelajaran dari cerita di atas. Tetapi saya selalu suka mengulang-ulang kalimat ini pada diri sendiri: dulu kita pernah jadi bangsa sehebat ini dalam pengorganisasian. Negara baru, pemimpin sipil baru, tentara baru. Kita pasti bisa sehebat itu kembali.

***

Kalau Indonesia Mengajar nih cuma ingin jadi lembaga pengirim guru atau jadi LSM biasa maka cita-cita kita sudah tercapai. Sama dan sebangun kalau Soetomo cita- citanya hanya bikin Boedi Oetomo atau Soekarno hanya bikin PNI, Hatta bikin Perhimpunan Indonesia.

Dan barangkali kerjaan kita sebenarnya menjadi gampang saja. Kirim proposal, buat paket-paket lalu sebar sembarangan. Hasrat para pemuja logo perusahaan mudah dipenuhi: logo ada di semua tempat. Salah satu paket inovatif yang bisa dijual memang mengharuskan kita kalau berfoto harus tersenyum agar tampak jelas logo di salah satu gigi kita.

Cita-cita Indonesia Mengajar adalah menggerakkan orang-orang untuk ikut serta dalam gerak kemajuan pendidikan. Kita bahkan tidak menyebut bahwa organisasi IM harus besar tetapi gerakan ini harus menular.

Belajar dari pengalaman masa lalu, karena itu yang penting ditularkan bukan cuma soal pentingnya ikut serta dalam kegiatan pendidikan tetapi juga soal bagaimana mengelola gerakan dengan baik, termasuk bagaimana menggalang dan mengelola pendanaan dengan baik. Organisasi pergerakan tumbuh subur bukan semata-mata karena cita-cita soal kebangsaan yang menular –ingat, konsep negara bangsa juga baru tumbuh seiring pergerakan nasional– tetapi juga karena praktek-praktek terbaik dalam pengelolaan organisasi dan pendanaan juga tumbuh.

Hebatnya yang kemudian terakumulasi bukan soal sistem pendanaan yang keren tetapi budaya organisasi yang akuntabel dan amanah. Sistem pencatatan barangkali bisa saja sederhana tetapi para pejuang selalu membentuk kepercayaan publik pada apa yang mereka kerjakan dan mewariskan kepercayaan itu menjadi akumulasi kepercayaan satu sama lain yang belakangan hari kita panen di masa revolusi kemerdekaan.

Karena itu di masa perang kemerdekaan, orang secara mudah menyumbang pada para pejuang tak dikenal sekalipun karena dunia yang melingkupi mereka adalah kepercayaan. Orang bisa seketika membantu sesama tanpa harus ada proposal. Sebagian menyumbang emas, rumah atau sekedar makan minum seadanya. Masa ini barangkali bagi Indonesia adalah masa tersulit menemukan pencuri uang publik.

Lalu apakah kita tidak iri dengan masa lalu seperti itu? Apakah kita tidak iri membayangkan bahwa di mana-mana inisiatif sosial bisa tumbuh tanpa kerepotan serius soal penggalangan dana. Orang-orang terlalu mudah ikut membantu karena — tentu sistem pengelolaan dana harus pula dibangun secanggih mungkin– dunia yang melingkupi kita adalah kepercayaan. Kita sedemikian iri sampai ingin memiliki masa di mana menjadi aneh kalau kita berprasangka buruk pada anak-anak muda atau pekerja sosial yang sedang menggalang dana bagi inisiatif mereka.

Halooooowww, mereka itu bisa jadi Soetomo, Soekarno dan Hatta di masa depan.

***

Hari-hari ini tantangan pengelolaan pendanaan di kalangan masyarakat sipil memang rumit. Sebagian LSM –salah satu wujud organisasi masyarakat sipil– kita masih mengandalkan donor asing. Banyak studi sudah membahas mengenai kapasitas organisasi masyarakat sipil dalam hal pendanaan. Rustam Ibrahim, seperti dikutip dalam laporan Bappenas (2010) menemukan fakta bahwa LSM kita mengandalkan sumber bantuan luar negeri yang besarnya mencapai 65%, sementara 35% sisanya didapat dari berbagai sumber dalam negeri.

Di sisi lain potensi masyarakat untuk terlibat dalam inisiatif sosial sebenarnya cukup besar. Anggap saja potensi keterlibatan itu diukur dari kesertaan masyarakat dalam organisasi sosial maka data menunjukkan derajat keterlibatan yang tinggi. Studi YAPPIKA dalam laporan Bappenas yang sama mencatat bahwa lebih dari separuh warga negara Indonesia pernah menjadi anggota organisasi masyarakat sipil dan satu dari tiga orang Indonesia pernah menjadi anggota lebih dari satu organisasi.

Bagaimana dari sisi filantropi sosialnya? Survei PIRAC dalam laporan yang sama menunjukkan bahwa tingkat kedermawanan (rate of giving) masyarakat sangat tinggi, yakni 99,6%. Artinya hampir seluruh masyarakat yang menjadi responden memberi sumbangan dalam setahun terakhir. Studi yang sama melaporkan bahwa potensi sumbangan masyarakat Indonesia lebih dari Rp. 12,3 trilyun per tahun dan baru sekitar 10% yang berhasil digalang oleh lembaga-lembaga di Indonesia.

Studi Charities Aid Foundation pada 2005 menggambarkan angka benchmark rasio besaran filantropi terhadap PDB di berbagai negara. Sebagai pembanding, besaran charitable giving terhadap PDB di Amerika Serikat, misalnya, tercatat 1,7%. Sedangkan di Inggris 0,73%. Bila GDP Indonesia sebutlah 8.200 triliun rupiah maka dengan asumsi rasio 1% maka potensi filantropi di negeri kita besarnya 82 triliun rupiah.

Jadi potensi ada. Tantangan pengelolaan juga ada, rumit dan menantang.

Dan hal seperti inilah yang disukai Indonesia Mengajar. Maka sejak Agustus 2012, kita mengembangkan skema donasi publik. Awalnya tertatih-tatih namun tetap tumbuh. Pada awalnya jumlah donaturnya hanya 200an orang dan sekarang sudah hampir 500 orang. Sistem digital juga akhirnya terbangun dengan rapi dan terakhir dilengkapi fitur virtual account. Sistem digital yang dikembangkan ini terhubung dengan basis data komunitas IM yang sudah mencapai 98.000 nama dan 12.000 di antaranya adalah relawan aktif. Sistem donasi IM mampu memfasilitasi sumbangan dari berbagai model transaksi, dari kartu kredit sampai transfer ke rekening virtual account unik untuk setiap donatur. Dan setiap donatur atau relawan memiliki akun personal yang di dalamnya tercatat donasi dia sejak awal sampai sekarang.

Dengan perkembangan itu pula komunitas dikelola. Mereka yang menjadi donatur perorangan itu bergabung dalam Korps Donatur Publik yang aktif juga dalam kegiatan IM lain sekaligus khususnya juga dalam menggalang donatur lainnya. Para anggotanya aktif ikut mengembangkan sistem ini agar handal dan transparan, termasuk usulan implementasi fitur virtual account merupakan rekomendasi dari mereka.

Terakhir, inovasi IM adalah mengembangkan skema donatur institusi yang memfasilitasi jumlah donasi yang lebih kecil dari nilai sponsor IM umumnya. Donasi ini memfasilitasi sumbangan dengan nilai 2-10 juta perbulan dan menyasar perusahaan skala kecil dan menengah yang merupakan porsi terbesar unit usaha di Indonesia.

Dalam perspektif keuangan, kehendak untuk terus mengembangkan pilar-pilar publik dalam pendanaan IM juga untuk mengantisipasi agar IM tidak tergantung pada melulu sponsor-sponsor besar. Dana besar memerlukan perlakuan tertentu yang
memakan waktu apalagi bila ada ketentuan komersial khusus yang diperlukan. Pilar harus banyak sehingga topangan jadi lebih kokoh.

***

Maka wajarlah bila IM selalu ngotot untuk terus mengembangkan pendanaan berbasis publik.

Selalu menyenangkan menyaksikan bahwa ternyata ada banyak orang baik terus bekerja di muka bumi Indonesia. Sebagian jadi guru, kepala sekolah atau kepala desa yang sungguh-sungguh keren serta tulus berbakti. Sama senangnya ketika kita mensyukuri perjalanan panjang para Pengajar Muda di daerah serta para relawan lain di Jakarta atau tempat lain dalam berbagai inisiatif IM.

Kita bisa kok menjadi bangsa beradab dan terhormat seperti para pendahulu kita. Kita bisa mengorganisir kerjaan-kerjaan publik yang betapapun negara (dan pemerintah) itu efektif, tetap saja ada urusan yang harus dikerjakan masyarakat, seperti yang dikerjakan melalui Kelas Inspirasi, Indonesia Menyala, FGIM, Ruang Belajar dan banyak lagi. Kita bisa kok mengelola pengiriman guru tanpa berdebat lebih panjang sementara anak-anak di luar sana tidak bisa berhenti tumbuh. Dan kita bisa kok mengelola berbagai inisiatif dengan iuran dan kerja bakti bersama.

Di atas semua kekaguman dan penghormatan kita pada para pendahulu kita, menyaksikan perjalanan 4 tahun terakhir gerakan ini, saya rasa kita gak jelek-jelek amat. Kita sudah mulai sesuatu yang kecil dan menjaganya besar tetap dengan
amanah.

Berbagai berita memang menggambarkan bahwa di luar sana masih saja ditemukan korupsi yang menyebalkan. Kadangkala kita bisa jadi pesimis bahwa bangsa bisa runtuh kalau semua orang mencuri. Dan lebih menyebalkan karena ini seperti penghinaan bahwa bangsa kita bahkan tidak bisa membersihkan dirinya sendiri.

Maka bagi Indonesia Mengajar, pendanaan publik pastilah bukan melulu soal duitnya. IM harus terus mengembangkannya dengan berbagai inovasi dan semoga bisa menular ke tempat-tempat lainnya. Inisiatif-inisiatif lain bisa tumbuh ketika pendekatan penggalangan dana baru dicoba efektif senyampang kepercayaan masyarakat bisa ditumbuhkan.

Di atas semua kesulitan, kita hanya harus ngotot bahwa dunia penuh kepercayaan yang diwariskan para pendahulu itu bisa dipulihkan. Karena hanya dengan itulah negara ini dirintis, dibangun dan didirikan.

Galuh, 6 Juni 2014

“Kapan Menikah?”

Salah waktu ulangan itu konsekuensinya paling kamu tanggung seminggu saja, berikutnya bisa belajar lagi. Tapi salah memilih suami atau istri, akibatnya kamu tanggung seumur hidup, jadi pikirkan baik-baik.

Begitu nasehat yang diberikan Bapak tentang pernikahan. Dalam hukum gereja Katolik, pernikahan bersifat monogam tak terceraikan, satu pasangan hidup untuk selamanya, jika mau dikaitkan secara agama. Tapi ini bukan soal agama, ini soal menjatuhkan pilihan untuk membagi sisa hidup dengan satu orang yang sama sepanjang hayat.

“Kamu kapan menikah? Sudah umur segini, lho.”

Banyak yang menanyakan hal ini. Hidup di Indonesia dengan norma sosial tidak tertulis bahwa wanita biasanya menikah di usia relatif muda membuat saya banyak sekali disebut telat menikah. Pertanyaan kapan menikah itu selalu ada, hampir setiap minggu, apalagi jika sedang menghadiri resepsi pernikahan atau acara keluarga. Sudah 1001 jawaban saya keluarkan, mulai dari belum lulus kuliah (waktu belum lulus), belum bekerja (waktu masih nganggur), hingga senyum simpul sambil melirik kanan kiri. I have found that every answer I gave satisfy no one. Sepertinya mereka yang bertanya itu baru puas kalau saya menikah. Jadi sepanjang saya belum menikah, pertanyaan itu akan terus menerus diajukan. Kenyataan yang saya terima dengan lapang dada (well, I will say the question doesn’t bother me anymore).

Seorang teman dekat berkata, “Ya kamu bisa santai aja belum nikah karena banyak temanmu yang belum, rekan kerjamu juga banyak yang single.” Ini memang faktor yang mempengaruhi sikap santai saya tentang pernikahan. Tapi faktor ini bukan faktor yang sangat mempengaruhi saya. Sudah sejak lama saya menyeting (halah) pikiran saya, think of relevant things, think about people who matter. Alasan santai saya yang terutama adalah karena orangtua yang saya banggakan dan cintai sama sekali tidak pernah memaksa atau menyegerakan saya untuk menikah. That’s it. 

Pernikahan bukan hanya penyatuan dua orang, juga penyatuan dua keluarga dan in extension, dua komunitas di sekitar pasangan ini. Tak hanya soal kuatnya cinta, menikah juga soal ekonomi. Getting married is a huge leap of faith. Percaya bahwa satu sama lain akan bisa membahagiakan dan bersama mengarungi segala masalah sepanjang hidup. Saya sama sekali tidak sinis mengenai pernikahan, justru sebaliknya, saya mengagumi mereka yang berani mengambil keputusan untuk menikah, apalagi di usia muda. Does that mean I am afraid of getting married? Di satu titik, iya. Di sisi lain, saya memang tidak mau memaksakan diri untuk menikah, apapun alasannya: umur, sudah pacaran lama, dan sebagainya. Siapa yang bisa memperkirakan akan jatuh cinta dengan siapa, dan siapa yang bisa memperkirakan kapan pacar melamar? Sometimes even the timing is not right, even though s/he is the right one. 

Banyak pula yang menyodorkan alasan bahwa sebagai wanita, saya sebaiknya menikah sebelum usia 30 karena setelah itu wanita rentan ketika mengandung dan melahirkan. Saya bisa mengerti alasan ini. Hanya saja, bukankah saya lebih tidak bertanggungjawab sebagai seorang ibu, sebagai orangtua, ketika saya memaksakan menikah sebelum waktunya? Apa yang terjadi bila keluarga yang saya bangun tidak bisa menjadi rumah yang nyaman untuk anak saya hanya karena saya buru-buru menikah dengan menjadikan anak sebagai alasan?

No, I will not bow to this reason. 

Jadi iya, kalau ditanya mengapa saya santai-santai saja di usia 27 (hampir 28), sementara sudah banyak tetangga, teman sekolah yang menikah bahkan menimang anak; saya sodorkan jawaban dari Bapak. Jangan menikah karena sudah umurnya, karena yang namanya umur bisa jadi sekedar angka, nasehat Bapak yang lain. Bapak menikah di usia 35, Ibu di usia 19, sebuah kombinasi yang menjadikan saya manusia aneh.

Saya percaya satu hal: segala sesuatu akan menjadi indah pada waktunya. Don’t worry, when I get married, I’ll send you an invitation. 

XOXO,

-C

A Day in London

Why I have to go to the UK?

Because I am a foodie. I am practically a Hobbit, don’t tell anyone. And I want to be a Hobbit in London.

I enjoyed The Lord of The Rings much, both the books and the (super awesome) movies, and I paid attention to little things in them. One of them being: how the Hobbits have 7 meals a day. A foodie like me, relate much to that. So they have: breakfast, second breakfast, elevenses, luncheon, afternoon tea, dinner, supper. Pretty much me in real life (yes, I do have breakfast twice!).

And since I am a curious little cat, I did my research (Googling is called research, people) and I found out that in the UK, apart from the famous afternoon tea, low tea, high tea (whatever you people prefer to call it), there is REAL elevenses/elevensies, which is a custom to eat light snacks at 11-ish.

WOW!

Can I be annoyingly excited now?

So people, I have to go to the UK so I can enjoy a day (errr, every day sounds better) in London like this:

06.30: Wake up to London’s damp air, spend 15 minutes strolling around with umbrella in one hand. Every one knows how moody London’s weather is.

07.00: Having a full breakfast, washed down with a cup of strong black coffee. Julian Barnes (have you read his book, The Sense of an Ending?) said this, “Britain is a land of embarrassment and breakfast.” So yes, I must have my breakfast the way Britons have it: a plate full of bacon, fried egg, sausages, fried bread, and baked beans. Oh, I forgot mushrooms.

When I feel that I still have some space in my stomach, I will opt for eggs Benedict. I know it is an American tradition, but they put the eggs on English muffin, so I’ll say yes.

07.30 – 09.00: Walk around the city (or whatever Londoners do in the morning, except working, okay?)

09.00: Isn’t the time for my second breakfast? I already had my breakfast, so now I will pick something light. Did I mention about muffin before? Yes. At first it sounded silly to me, when a friend mentioned that muffin and English muffin are two different things. The first refers to cupcakes, and the second is a kind of round, flat bread served toasted and buttered. I’ll walk into a bakery, bravely say, “I want to buy some English muffins!” and maybe the waitress will laugh at me for ordering so. She’ll know I am a visitor, and I hope that she’ll talk to me a lot about muffin, the real English muffin. A good conversation is always exhilarating, isn’t it? Food for the body, food for the soul.

And I’ll have the photo op of me and the English muffin, in London, in the UK! (couldn’t be more inception-able than that)

09.30 – 11.00: Literature review, as known as going to The British Library and read everything there. They have 14 million books, for God’s sake. I’ll pick Wuthering Heights to bring home.

11.00: Time for elevenses! Great. I can’t wait for this. I mean, it is a real British tradition. It is an answer to my foodie cravings. You do know that Winnie the Pooh also has elevenses, right? He loves bread with honey for elevenses. Now if we were to dwell into children’s literature, I would refer Paddington Bear for elevenses option. He would go to Mr. Gruber’s Portobello Road antiques shop and had some cocoa and buns. There is an actual Portobello Road in west London, and it is my place of choice to enjoy my elevenses! Perhaps I’ll have cocoa and buns as well.

11.30 – 13.00: Having my ‘silence in the crowd’ moment. It is funny that I love being in the middle of a crowd, alone, and enjoy the ambiance by myself. I bring the book I borrow from The British Library, Wuthering Heights, and I will head to King’s Cross station (looking for a crowd, the station is the right place of all places). Sit down in a corner, read the story, observe people, take picture, then go back to Catherine and Heathcliff.

Splendid.

13.00: What’s for lunch? I have been told that most Britons have ‘packed lunch’, some sandwiches or boxed meal during busy days to save the time. Will I do that? Being a foodie as I am, I’ll surely opt for a beef Wellington. I am more of well-done-steak type foodie, but for a sense of UK, I’ll bow to the convention. I’ll head to a nearby restaurant serving beef Wellington and enjoy my lunch with a pot of Twinning’s chamomile tea.

14.00 – 16.00: Another ‘silence in the crowd’ moment. This time I choose to go to Trafalgar Square with Wuthering Heights in my hand.

16.00: Posh Afternoon Tea. When I was living in Taipei, I observed that afternoon tea places were very popular. In fact, one or two specific afternoon tea places only opened their reservation once a month. ONCE a month, I repeat. So many people wanted to have afternoon tea there, and if you missed the reservation date, you had to wait another month. Crazy, huh? I have to admit I also suffered from the afternoon tea addiction that I frequented a lot of different places to have a cup of tea (of coffee! duh) or a slice of cake (this is an understatement considering I wouldn’t bow to just a slice of cake).

That’s why I have to go to the UK! (how many times I’ve said that already?)

I am crazy about afternoon tea and NOT willing to go to the UK to taste the experience of having afternoon tea in its native country is just wrong, don’t you agree?

A friend of mine, a Briton, told me that I have to check this particular afternoon tea place in London: Orange Pekoe. I thought it was some type of tea, but turned out, after doing some research, Orange Pekoe is a restaurant located near Thames River and well known for its afternoon tea set. “They have this classic deco you wouldn’t be able to resist,” he said. I looked up online, and the picture on their website confirms what my friend explained.

Come on, having an afternoon tea at a place like this? On the side of the Thames?

(picture credit: orangepekoeteas.com)

17.00 – 20.00: Museum visit. Let’s assume it is a Friday, because I know the British Museum opens till late on Friday. So after having my appropriate afternoon tea, I’ll go there and amuse myself. The name is big, but I had no intention of visiting the museum soon before I read an introduction from my favorite Japanese manga (comic book): C.M.B. It is a story about a genius kid with three fathers, three wise men chosen to protect all the valuables in the British Museum. So yeah, I’ll go.

20.00: It is time for supper, or if you prefer, dinner. The fact that I had six meals already doesn’t change another fact that it is time for supper. But where? 

Thames dinner cruise springs to mind, and I should’ve put the question, on where? On a boat cruising Thames river, none other. After seeing so much of London during daylight, now it is time to devour the sparkling city with a 4-course meal with the side of live jazz. It would’ve been perfect with a nice gentleman by my side, but even when I am flying solo, it will be a very nice experience to remember (and I would like to remind you that I’ll be stuffing my face with all those meals, which means I am waaaay more than happy).

There, a perfect day well spent. Can I go to the UK now? Please?

XOXO,

-C

picture043

Aside

Being Different and Happy

Pacar gue die hard fan Manchester United. Gue penggemar Chelsea, suka yang tidak gue kategorikan kemana-mana, apalagi karena alasan awal gue suka Chelsea cuma karena namanya terdengar enak di telinga.

Bokap gue berbakat banget di bidang olahraga, termasuk sepakbola. Sewaktu muda aktif bermain, setelah itu sering menjadi wasit, ya meski cuma pertandingan antar kelurahan atau kecamatan. Karena kesibukannya sebagai wasit itu, gue sering diajak menonton pertandingan sepakbola, dan gue jadi suka sepakbola juga, dulu sesekali bergabung dengan temen-temen cowok kalau mereka bermain. Sempet juga ada wacana, bokap gue mau memasukkan gue ke sekolah wasit (gile ya bokap gue), dengan harapan gue jadi wasit sepakbola cewek yang emang waktu itu belum ada.

Dari itu semua gue mengikuti perkembangan sepakbola liga mayor di beberapa negara. Sewaktu SMP gue termasuk rutin mengikuti Liga Italia, dengan klub favorit Juventus. Liga Inggris gue ikuti dengan ya gitu deh, karena televisi di rumah cuma pake antena, dan stasiun televisi swasta jaman itu hanya menyiarkan pertandingan Liga Italia. Chelsea adalah tim pilihan gue, ya itu tadi, awalnya gue suka namanya. Berawal dari situ gue selalu memberikan perhatian lebih pada Chelsea, karena emang gue tidak bisa dibilang mengikuti dengan religius.

Pacar gue suka MU sejak SD, katanya. Mengikuti semua berita tentang MU dengan antusias. Karena segitu senengnya, dia punya banyak kaos MU entah dari tahun berapa, berbagai warna. Sampai gue sering berkomentar, “Kamu cuma punya kaos MU ya, nggak ada yang lain?” yang selalu dijawabnya dengan celotehan riang tentang betapa dia menggemari klub setan merah itu. Gue selalu suka melihat raut mukanya yang berseri-seri saat menceritakan bagaimana Januzaj bermain bagus atau melihat dia ngomel-ngomel karena Moyes gagal memenuhi harapan penggemar MU. When he shows me his passionate side, I can’t do anything else except staring at him. 

Saat musim pertandingan berlangsung, kegiatan akhir pekannya tentu saja diisi dengan nobar bareng temen-temennya sesama penggemar MU. Tak kurang, dia juga berinisiatif mengawali chapter United Indonesia di daerahnya. Jangan tanya deh, setiap ada jadwal pertandingan, dia selalu sibuk. Ada gathering nasional United Indonesia, jelas dia ikut dengan bersemangat. Tak lupa, dia sering ngompori gue untuk ikut jadi pendukung MU, menawarkan gue untuk jadi Manchunian Angel, kumpulan cewek-cewek penggemar MU.

‘Perselisihan’ karena gue mendukung Chelsea dan dia MU tentu saja ada. He supports MU that much and it means that he ‘bullies’ me a lot about Chelsea. Gue lebih sering bilang, “Bisa nggak sih saling menikmati klub masing-masing tanpa harus menjelek-jelekkan klub lain?”, jawaban yang menurut dia itu artinya gue ngambek. “I do this so we both can enjoy the game. Isn’t it fun, us together watching football?”, dia kemudian menggoda. Gue tersenyum. Itu juga yang gue suka dari dia. Ketika gue dan dia sempat bisa nobar MU-Chelsea dan Chelsea menang, gue bilang, “MU mainnya lumayan, tapi Chelsea lebih bagus,” dia merangkul gue dan berujar, “Iya, Chelsea layak menang.”

Despite our differences, in characters and also our favorite football clubs, we realize that differences are not a reason to argue.

Tentu saja, cita-citanya adalah ‘naik haji’ ke Old Trafford. Dia beberapa kali mengatakan, “Sayang, nanti kita bulan madunya ke Old Trafford ya, dan kamu pake baju MU,” sebuah harapan yang kami berdua tahu belum tentu bisa terwujud bersama (nobody can predict or guarantee the future, right?), dan selalu gue bales dengan, “Boleh, tapi mampir dulu ke Stamford Bridge.”

Gue punya car magnet  dari Inggris yang betuknya seragam sepakbola, oleh-oleh temen gue. Suvenir yang gue simpen baik-baik dengan harapan gue bisa ke UK entah kapan, dan jelas mampir ke Stamford Bridge. One day, when I felt particularly loved, I gave the car magnet to him. I want to make him happy, I want to share him a good faith that one day we can go to UK together. 

Mendengar suara gembiranya di telepon ketika menerima kiriman itu, gue tersenyum simpul. I know it is just to say that we are both eager to go to UK, for the very same reason, but different places to visit.

Dan sekarang, kalau gue punya kesempatan pergi terlebih dahulu, gue pengen ngirim kartupos untuk dia, kebiasaan gue jika bepergian. Dengan perangko Inggris, cap pos Manchester dan Chelsea. Lalu gue akan mengirim pesan di WhatsApp, foto gue di depan Old Trafford dengan baju Chelsea, dan foto gue di depan Stamford Bridge dengan baju MU.

To remind him how we cherish our differences and how we wish that someday we will be there together.

XOXO,

-C

picture039

The Story of My Father’s Wit

I am always proud of my father.

Saya dilahirkan di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Desa yang jauhnya 20 km dari pusat kota kabupaten, desa yang tidak memiliki jaringan telepon, desa yang jam sembilan malam sudah tertidur lelap.

Dari banyak segi, desa ini bukan tempat untuk menggantungkan mimpi.

Ayah menyadari semua itu. Meski terlahir, besar, dan akhirnya bekerja di desa itu, Ayah punya pikiran seluas samudera. Karena Ayah percaya bahwa untuk mengerti, kita harus mengalami, bahwa untuk membuka wawasan, kita harus bepergian, dan bahwa perbedaan dan perubahan itu sebuah keniscayaan. “Kamu harus pergi dari desa ini, pergi melihat dunia, supaya kamu banyak belajar, supaya kamu punya banyak pengalaman, supaya kamu mengerti bahwa perbedaan itu bukanlah sesuatu yang harus dijadikan alasan untuk tidak berkawan,” suatu hari Ayah berujar.

Satu contoh saja.

Ketika sekolah saja belum disadari menjadi sebuah kewajiban di desa tempat tinggal saya, Ayah memaksa saya untuk les bahasa Inggris seminggu dua kali di kota kabupaten ketika saya menginjak kelas 4 SD. Terpaksa, saya memang terpaksa. Siapa yang mau bersusah-susah les bahasa Inggris sepulang sekolah, as if my day at school wasn’t tiring enough. Sayangnya saya tidak punya cukup keberanian untuk menolak, dan Ayah sangat jeli membuat saya mau segera makan sepulang sekolah, ganti baju, naik ke boncengan motor dan berkendara selama empat puluh menit. “Nanti pulangnya boleh mampir ke perpustakaan,” satu kalimat sakti yang tidak pernah tidak berhasil membujuk saya.

Pertama tidak suka, lama-lama saya menikmati belajar bahasa Inggris. And when you start to love learning something, you begin to excel at it. Di kelas les, di SMP, di SMA, hingga kuliah, saya dikenal fasih berbahasa Inggris. Di SMA, saya bisa menjuarai speech competition di Universitas Atmajaya Yogyakarta. Saat kuliah, saya bisa menulis satu artikel penelitian di jurnal internasional. Hingga akhirnya kemampuan berbahasa Inggris itu membawa saya pada persimpangan: Singapura, Taiwan, Australia. I am good at my major, and I speak English very well. When you possess both things, they can take you a long way from home.

Di persimpangan itu, saya termenung. Tanpa visi Ayah yang jauh ke depan, saya tidak akan berada di titik itu. Tanpa kerasnya kehendak Ayah meminta saya les bahasa Inggris sejak lama, hingga kerelaannya mengantar di sela-sela kesibukannya; I wouldn’t make it this far. Ayah sudah tahu sejak lama, bahwa saya akan pergi meninggalkan rumah, meninggalkan desa kecil itu. Saat itu saya menyadari makna di balik perkataan beliau, “Berikan kail, bukan ikan.”

He gave me the exact things I need to go advanced on my own. The skills, the experiences. 

September 2008, saya memutuskan memilih Taiwan. Menghabiskan lima tahun di sana untuk mendapat gelar yang saya inginkan. Di banyak kesempatan, pembimbing disertasi saya mempercayakan banyak tugas ke saya dengan satu alasan sederhana, “Your English is excellent.” Saya bisa ikut konferensi di beberapa negara juga sedikit banyak karena saya bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Menjadi contributing writer di sebuah media online di Taiwan, hingga menjadi master of ceremony untuk sebuah konferensi internasional; semua kesempatan itu datang karena saya bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris dengan baik.

Kail yang diberikan Ayah sudah berhasil membuat saya menjaring ikan yang banyak.

So yes, I am dying to go to England, the very country where the language was born, and I’ll talk to every Briton I meet on the road. When they say that my English is good, good enough for them, I’ll proudly tell them this story, the story of my father’s wit. 

XOXO,

-C

P.S. And with this, I sincerely hope that you, Mister Potato, will grant me my wish.

picture036