Here It Is: Citra Says
Mama
Ma,
Di sini aku merindukan rumah. Rindu saat dimana engkau memperbolehkan aku tidak keluar kamar sama sekali; tenggelam dalam dunia maya dan lupa dunia nyata, tertidur di antara novel-novel dan komik yang berserakan, atau menangis dan tidak mau makan.
Rindu sorot mata pengertianmu ketika aku bermuram durja dan engkau tidak bertanya, meski dalam hati aku yakin engkau ingin tahu. Rindu kalimatmu ketika menanyakan keinginanku, meski sebenarnya itu tidak lagi perlu.
Aku memang tertutup dan jarang bercerita, tapi engkau selalu menerima. Engkau selalu berusaha mengerti, memahami, dan tidak sembarangan beropini, meski sudah jelas lebih banyak pengalaman dan kebijaksanaan yang engkau miliki.
Ma,
Kadang-kadang aku tidak menemukan bahasa ketika kita bertatap muka dan aku ingin bercerita. Maafkan aku, Ma. Meski jalinan cerita itu hanya berupa kata-kata singkat lewat udara, aku selalu merasakan setiap dukungan dan doa.
Anak kebanggaanmu ini sedang sedih, Ma. Aku ingat dengan setiap nasihatmu, Tuhan itu baik, meski tidak setiap saat kita melihat di mana kebaikan-Nya. Jangan menyerah. Jangan lupa berdoa. Tetap bersemangat. Kamu cantik jika tersenyum.
Ma,
Aku tahu engkau selalu menyimpan semua perkara dalam hatimu, sama seperti Bunda Maria yang tidak sekalipun pernah mengeluh dengan pencobaan yang Ia dan Putera-nya alami. Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu, katanya.
Terima kasih, untuk semuanya. Untuk setiap doa yang terucap setiap malam, untuk setiap pelukan, untuk setiap kebahagiaan dan kesedihan yang boleh kita bagi bersama, untuk setiap tetes keringat yang engkau kucurkan untuk senyumku.
Dan untuk kalimat yang bisa kukatakan: ketika dunia tidak lagi menerima, aku masih punya tempat untuk kembali dan tertawa.
-
Taipei, 8 Februari 2010
rudeness.
news!
see.
Jumat lalu…..
Lupa mau bercerita tentang hari Jum’at (22 Januari) kemarin. Ceritanya hari Kamis sore menjelang malem, cuit dapat email dari profesor untuk mengumpulkan semua data yang rapi karena senin ada report yang mau di-submit.
Kamis malem, cuit mengerjakan. Meski multitasking juga (always hahahaha). Dan dasarnya cuit ga bisa tidur cepet, jadi cuit baru naik ke tempat tidur jam 6. Berharap bisa istirahat seharian (malese hehe). Saat masih enak-enaknya tidur, jam 08.55 (masi ingettttt) tau-tau telepon genggam berbunyi (cuit sensi sekali dengan bunyiiii~~ haduuuhh). Setengah melek dan melihat layarnya. Hiyaaaaa, langsung duduk dan melek lebar, sembari menjawab, “Yes, prof?” Ampuuuunnn deh ditelp jam segitu dengan order: datang ke meeting saat itu juga. Oke, langsung cuit gubrak gubruk mandi, ganti baju, samber tas, langsung berangkat dan sampai dengan ngos-ngosan. Hahahaha. Mandi kilat.
Daaaaann, beginilah akhirnya cuit jadi sibuk sekaliiiiii. Huaaaaa.
KISS
Am I making my life complicated?? Frankly, it is not often that I do the thinking of what I am going to do. I do not like to think three steps ahead like what people do. I live in the present. And I just want to do what I want to do.
I cannot really like being questioned why. Particularly about my personal life and decisions. I do not hate it, I just feel uncomfortable. Because then the talk will be going to be a bit argumentative; and what’s the point arguing about my life with anyone, anyway?
Just take it. Get used to it.
K.I.S.S., Keep It Simple, Stupid.
















what they said...